parenting

#dearRiver, Seandainya Kau Bertanya Apa Guna Puasa

Fauzan Mukrim Minggu, 05 May 2019 18:07 WIB
#dearRiver, Seandainya Kau Bertanya Apa Guna Puasa
Jakarta - #dearRiver,

Ramadhan tahun lalu, kamu sudah berpuasa penuh. Tahun sebelumnya, waktu usiamu 7 tahun, kalau Ayah tak salah ingat, puasamu mungkin cuma bolong 5 atau 6 hari. Untuk anak seusiamu, Ayah menganggap itu prestasi. Apalagi, kami tak pernah memaksa atau mengiming-imingimu hadiah. Kalau mau puasa silakan, enggak juga enggak apa-apa. Di sekolah, kamu belajar siapa saja golongan yang tidak wajib berpuasa. Dan anak-anak sepertimu masih termasuk di dalamnya.

Tapi, ketika kamu bilang ingin ikut puasa, sebisa mungkin kami memfasilitasimu. Ibumu sibuk menanyakan kamu mau sahur pakai apa, dan juga nanti berbuka pakai apa. Sementara Ayah, harap-harap cemas kamu akan bertanya apa gunanya puasa. Untungnya, sejauh yang Ayah ingat, kamu belum pernah menanyakan itu. Karena Ayah mungkin bingung akan menjawab apa.


Kepada anak-anak, yang paling sering diceritakan tentu alasan bahwa kita berpuasa supaya bisa ikut merasakan penderitaan orang miskin yang tidak punya makanan. Empati bahasa kerennya. Orang miskin seringkali harus menahan lapar, bisa jadi sepanjang hidup mereka, dan kita diminta merasakannya selama sebulan saja. Meski yang ditunjukkan oleh sebagian orang dewasa seringkali tidak mendukung ajaran itu.


Banyak orang dewasa marah-marah kalau ada warung atau restoran yang tetap buka di siang hari selama Ramadhan. Katanya, itu tidak menghormati orang yang berpuasa. Padahal, kalau memang ingin merasakan penderitaan orang miskin, kemarahan itu sepertinya tidak perlu. Apakah orang miskin melempari restoran ketika di hari-hari biasa dia lewat di depannya dalam keadaan lapar dan tak bisa membeli makanan? Tidak, Nak. Mereka tidak marah. Mereka bersabar.

#dearRiver, Seandainya Kau Bertanya Apa Guna PuasaIlustrasi anak makan/ Foto: istock
Karena berpuasa pada awalnya adalah melatih diri sendiri. Ada kutipan bagus yang Ayah temukan hari ini di postingan Facebook Om Tomi Lebang. Mengiringi ucapan selamat berpuasa yang ia tuliskan, Om Tomi mengutip Goenawan Mohamad:

"Dari puasa, dalam puasa, kita berlatih untuk tak selalu punya. Dan bisa berbahagia."

Kata-kata bagus itu senada dengan yang diajarkan Buya Hamka, seorang panrita yang juga penulis. Kalau kamu sering melihat meme atau mendengar ungkapan viral "Hayati lelah, Bang...", nah itu berasal dari salah satu karya buku beliau: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Ayah lupa di buku yang mana Buya Hamka menulis, muslim yang beruntung adalah yang berbahagia dengan apa yang ia punya dan tidak ia punyai. Tidak selalu bisa makan enak, ia berbahagia. Tidak selalu bisa ngopi di siang hari, ia tetap bahagia. Tidak bisa punya kulkas dua pintu seperti punya tetangga, ia pun tetap berbahagia.


Begitulah, Nak. Sekiranya kedalaman hakikat puasa terlalu berat, tak ada masalah jika kita bersenang-senang di tepiannya saja. Selemah-lemahnya kita, sebodoh-bodohnya kita, Ramadhan selalu memberi kesempatan untuk lebih atau kembali menjadi baik. Setidaknya, ada satu dua kebiasaan luhur yang bisa kita tiru.

Setiap kali Ramadhan menjelang, kita dianjurkan untuk meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita. Kesalahan yang disengaja, maupun yang tidak disengaja. Kesalahan yang sudah berlalu, maupun yang baru direncanakan. Meminta maaf ini penting. Banyak hal yang bisa membuat kita terjerumus menyakiti orang lain. Mungkin karena beda paham, beda pengajian, atau bahkan beda pilihan presiden.

Kalau kita berdosa kepada Allah, lalu kita minta ampun, minta maaf, menangis sampai tenggelam bulu mata kita, Insya Allah akan Dia ampuni. Dia tidak ke mana-mana. Tapi, kalau kita berdosa kepada sesama mahluk, menyakiti sesama manusia, dan ia tidak ridha, selesai kita. Mau sampai merangkak-rangkak minta maaf pun, kalau tidak dimaafkan, kita akan tetap berutang timbangan. Itupun kalau bisa ketemu orangnya. Kalau enggak? Mau minta maaf lewat halaman depan koran Kompas? Begitu kata guruku dulu. Enggak tahu kalau kata guru orang lain.

River, Ayah berharap, kamu menjalani puasa Ramadhan ini dengan senang dan gembira, seperti Ayah dulu. Laparnya seorang anak kecil seringkali menghadirkan melankoli yang indah. Ayah ingat waktu kecil, betapa menyenangkannya aroma kartu kwartet yang kami beli di toko mainan kecil jelang Ramadhan berakhir. Masih adakah toko itu? Belum jadi Indomaret-kah dia? Atau mendengar suara Sulis yang masih bocah berkumandang dari VCD sembari menunggu beduk. Sulis sudah besar sekarang. Dulu kampusnya dekat kantor Ayah.

Nikmati rasa lapar dan hausmu, Nak. Ramadhan adalah karunia dalam bentuk waktu. Di dalamnya ada banyak pelajaran, menemani sampai kelak jauh nian kita menapak jalan hidup masing-masing. Ramadhan demi Ramadhan kita ketuk pintunya. Kemudian kita keluar seperti tak pernah benar-benar niat datang bertamu.

#dearRiver, Seandainya Kau Bertanya Apa Guna PuasaIlustrasi makan bersama keluarga/ Foto: Pixabay

Fauzan Mukrim
Ayah River dan Rain. Menulis seri buku #DearRiver dan Berjalan Jauh, juga sebuah novel Mencari Tepi Langit. Jurnalis di CNN Indonesia TV, dan sedang belajar membuat kue. IG: @mukrimfauzan (muf/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi