parenting

Pola Asuh yang Benar Bantu Cegah Kekerasan pada Anak

Annisa Karnesyia Senin, 24 Jun 2019 11:30 WIB
Pola Asuh yang Benar Bantu Cegah Kekerasan pada Anak
Jakarta - Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menyayangi dan mencintai anaknya. Bagi anak, kewajiban orang tua itu adalah haknya, Bun.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hak anak merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi. Tidak hanya oleh orang tua dan keluarga, namun juga masyarakat, pemerintah, hingga negara. Penjelasan mengenai hak anak terdapat di Undang Undang No. 23 tahun 2005 tentang perlindungan anak.




Untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal, perlindungan terhadap hak anak perlu digalakkan sejak dini. Anak yang dilindungi akan tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa yang berkualitas yang menjadi sumber daya manusia kuat untuk pembangunan Indonesia.

Salah satu hak anak adalah mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan buruk, seperti kekerasan. Data WHO tahun 2016 menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa melaporkan pernah mengalami kekerasan saat usia anak atau remaja.

Data juga menunjukkan jika 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 13 laki-laki melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual saat usia anak dan remaja. Bahkan, 12 persen anak-anak di dunia mengalami kekerasan seksual pada satu tahun terakhir, Bun.

Pola Asuh yang Benar Bantu Cegah Kekerasan pada Anak/Pola Asuh yang Benar Bantu Cegah Kekerasan pada Anak/ Foto: istock

"Untuk usia sekolah, sekitar 30,6 persen korban kekerasan adalah anak usia 13 sampai 17 tahun, 40 persennya dilakukan teman sebaya," kata anggota komisioner KPAI, Dr. Sitti Hikmawatty, S.St, M. Pd dalam 'Seminar Media Hari Ulang Tahun IDAI Ke-65: Bersama Lindungi Hak Anak' di Gedung IDAI, Salemba, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Menurut Sitti, kekerasan pada anak tidak terjadi begitu saja. Faktor pemicunya adalah minuman keras dan pornografi, sedangkan faktor pendukung adalah pernikahan anak, konflik, dan kesalahan dalam mengasuh.

Namun, akar penyebab utamanya adalah kemiskinan dan relasi kuasa. Artinya, anak-anak tidak bisa berbuat apapun untuk membela diri karena merasa takut dan juga pengaruh ekonomi keluarga.

"Salah satu tempat terjadinya kekerasan adalah lingkungan rumah. Inilah pentingnya keluarga membuat komitmen untuk melindungi anak," papar Sitti.


Beberapa strategi penghapusan kekerasan pada anak adalah pola pengasuhan yang benar. Sejak dini, seharusnya anak sudah dijelaskan tentang perilaku seksual dan dampaknya, sehingga mampu membedakan benar dan salah, Bun.

"Pengasuhan yang optimal, kelak akan membentuk kepribadian baik pada anak," tutup Sitti.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi