HaiBunda

PARENTING

Bunda Kenali 4 Jenis Kelainan Kulit Bayi Bersifat Non Infeksi

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Rabu, 07 Aug 2019 10:06 WIB
Ilustrasi bayi/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Kita tahu kulit bayi sangat tipis dan butuh perlindungan ekstra. dr.Caessar Pronocitro, Sp.A,.M.Sc. bilang, kulit bayi perlu dijaga di tahun pertama kehidupan. Kenapa penting di satu tahun pertama? Hal ini karena itulah masa adaptasi bayi, di lingkungan luar yang suhunya bisa lebih dingin, panas, dan tentunya ada kuman.

"Kulit bayi itu tipis, jadi kalau kita rasakan kok lembut banget ya karena masih tipis. Kulit tipis ini perlindungannya belum maksimal, rentan infeksi, dan melanin jumlahnya masih sedikit," kata Caessar di acara media gathering Bambi Baby, di Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Bagi orang tua baru, seringkali kita panik dengan apa yang terlihat kurang normal pada kulit anak. Caessar menambahkan orang tua perlu mengenal jenis-jenis kelainan kulit bayi. Kali ini HaiBunda akan menyampaikan paparan dr.Caessar Pronocitro tentang kelainan kulit non infeksi.

1. Mongolian spots


"Klainan ini agak lebih lama, tapi bukan suatu infeksi, mongolian spots yaitu lebam biru-biru kulit bayi, kadang ada di pantat, punggung. Ini bukan karena terbentur," ujarnya.

Kelainan ini tidak berbahaya dan lazim ditemukan pada bayi Asia. Mongolian spots akan menghilang pada usia sekitar 2 tahun.

2. Miliaria

Miliaria atau kita kenal sebagai biang keringat, umumnya timbul di leher, punggung, ketiak, dan dada. Miliaria terjadi pada 40 persen bayi. Kata Caessar, miliaria terjadi karena produksi kelenjar keringat yang banyak tapi salurannya tertutup atau sempit.

"Tidak perlu pengobatan, tapi mandikan seperti biasa. Kenakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, serta menjaga suhu lingkungan yang sejuk," tutur Caessar.
Ilustrasi bayi/ / Foto: iStock

3. Ruam popok

Bunda pasti pernah mendengar istilah ini, yaitu kondisi kulit kemerahan di area popok, paling sering terjadi pada usia 9 - 12 bulan. Ruam popok disebabkan oleh iritasi akibat urin atau tinja yang berkontak lama dengan kulit. 

"Ruam popok bisa diatasi dengan memberikan waktu bayi tanpa mengenakan popok, mengurangi frekuensi dan durasi pemakaian popok dan menggunakan krim untuk melindungi kulit," papar Caessar.

Namun, perlu dicatat jika ruam popok dirasa mengkhawatirkan, Bunda bisa membawa si kecil ke dokter untuk diperiksakan. Bisa jadi ruam popok disebabkan oleh infeksi jamur.

4. Dermatitis atopik

Dermatitis atopik bisa timbul di usia sekitar 2 bulan, paling sering di wajah. Umumnya terkait dengan alergi yang tersering karena susu sapi.

"Selain penanganan dokter, yang dapat dilakukan orang tua adalah menghindari penyebab alergi dan memberikan pelembap kulit bayi," ujar Caessar.

Simak juga cara memandikan bayi dengan benar.

 
(aci/som)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Cara Mengatasi Bayi MPASI Tidak BAB 3 Hari, Bunda Perlu Tahu

Parenting Kinan

Ikuti The Next Sobat Cermat 6 Under 6 & Raih Total Hadiah Ratusan Juta

Parenting Tiara Jasmine & Paul Sowlawn

Potret Gender Reveal Kehamilan Kedua Jessica Mila, Bakal Sambut Bayi Perempuan Lagi

Kehamilan Amrikh Palupi

Potret Rumah Tasya Farasya yang Direnovasi karena Banyak Alami Keretakan, Bikin Dompet Menyala

Mom's Life Amira Salsabila

7 Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan di Atas Rata-rata saat Sendirian

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Perempuan Ini Beli Hampir 200 Parkir untuk Disewakan Kembali, Bikin Tetangga Kesal

5 Cara Mengatasi Bayi MPASI Tidak BAB 3 Hari, Bunda Perlu Tahu

Potret Gender Reveal Kehamilan Kedua Jessica Mila, Bakal Sambut Bayi Perempuan Lagi

Potret Rumah Tasya Farasya yang Direnovasi karena Banyak Alami Keretakan, Bikin Dompet Menyala

5 Panci Kukus 3 Susun Stainless Terbaik Multifungsi dan Anti Lengket

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK