parenting

Bayi 3 Tahun Terpotong Seluruh Kelaminnya Saat Sunat, Kok Bisa?

Asri Ediyati Jumat, 01 Nov 2019 07:22 WIB
Bayi 3 Tahun Terpotong Seluruh Kelaminnya Saat Sunat, Kok Bisa?
Jakarta - Seorang bayi laki-laki berusia tiga tahun terpaksa harus kehilangan penisnya saat sunat. Kecelakaan ini betul-betul tak disengaja oleh ahli bedah berpengalaman. Hal ini bermula ketika ayahnya, Alberthy Camargos membawa putranya untuk sunat di sebuah klinik di Malacacheta, Brasil.

Putranya itu sebelumnya didiagnosis phimosis, kulit ujung penis yang tak bisa teretraksi. Sehingga si kecil hbayiÈ_arus melakukan beberapa prosedur termasuk sunat. Namun, ia mendadak curiga ketika waktu sunatnya melebihi waktu yang diberitahu.

Biasanya berlangsung 30 menit, tapi putranya di dalam ruang operasi memakan waktu empat jam. Ketika Camargos bertanya pada sang dokter, Pedro Abrantes apa yang terjadi, sang dokter meyakinkan semuanya baik-baik saja dan si kecil sehat.

Ketika sang ayah melepaskan perban putranya dan memeriksa lukanya, ia menemukan bahwa penis putranya telah digantikan oleh sepotong kain kasa yang digulung.


"Seketika saya 'jadi gila' dan terjatuh. Saya shock. Saya mencoba untuk pindah, tetapi saya merasa tak berdaya dan perlu didukung oleh perawat," katanya, dikutip Daily Mail.
sariawan
Camargos merasa kecewa dan marah dengan kebohongan Abrantes. Ia merasa diperlakukan seperti orang bodoh dan benar-benar kehilangan kepercayaan pada tim medis.

"Saya tahu hanya dengan melihat dan mendengar tangisan kesedihan anak saya dan melihat keadaan kacau yang dia alami, bahwa operasinya salah dan tubuh putra saya seperti telah dimutilasi," ujarnya.

Karena tak percaya pihak klinik, Camargos memindahkan putranya ke rumah sakit di hari berikutnya. Anak itu dipindahkan ke rumah sakit Teófilo Otoni, sebuah unit pribadi di kota tetangga. Di sana bocah itu menjalani evaluasi baru dan terperinci dengan seorang dokter anak dan ahli urologi.

Dokter dan ahli membenarkan, setelah berobat untuk meredakan sakit dan mencegah penyebaran infeksi, bahwa organ genital anak telah terpotong. Diagnosis dalam laporan medis menyatakan bahwa terdapat laserasi kulit khitan dan amputasi parsial penis yang tidak disengaja sehingga (meninggalkan) pangkal penis saja.

Tak lama, si kecil menjalani operasi plastik untuk melindungi uretra yang masih tersisa (tak ikut terpotong) setelah operasi yang gagal, yang berarti ia tidak perlu kateter. Kesusnya masih menggantung karena sang dokter ternyata mengalami serangan jantung dan meninggal beberapa hari setelah kejadian itu. Hingga kini si kecil masih dalam pemulihan di rumah sakit.

Bicara soal sunat, menurut dr.Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Rumah Sunat dr Mahdian, usia anak yang paling tepat untuk sunat yaitu saat masih bayi. Hal ini karena saat bayi, perubahan jumlah sel manusia terjadi paling cepat dan paling banyak. Jadi, sepanjang usia manusia dari bayi sampai tua, sel berlipat ganda untuk sembuh dan tumbuh paling banyak saat usia bayi.

"Karena itu pada usia bayi kalau ada luka paling cepat sembuh karena sel akan beregenerasi paling bagus saat itu," kata Mahdian.

Disarankan pula, sebaiknya dilakukan saat usia bayi kurang dari 6 bulan, biasanya anak kan belum bisa tengkurap nih, Bunda. Jadi, bakal lebih memudahkan proses keringnya luka. Coba bayangkan kalau bayi di atas 6 bulan terus udah bisa berguling ke kiri kanan, balutan luka di penis yang kemudian tertekan pastinya bisa bikin mereka enggak nyaman kan?

"Makanya disarankan kalau pas usia bayi jangan pas di atas umur 6 bulan. Selanjutnya adalah dampak trauma psikologis. Anak usia bayi enggak ingat apa-apa, jadi enggak ada trauma pas dia disunat," tambah Mahdian. (aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi