Sign Up search


parenting

Satu dari Tiga Pengguna Internet di Indonesia Adalah Anak-anak

Asri Ediyati Senin, 10 Feb 2020 18:23 WIB
Satu dari Tiga Pengguna Internet di Indonesia Adalah Anak-anak Ilustrasi anak menggunakan internet/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Di era digital ini enggak mungkin lagi menjauhkan anak dari paparan gadget. Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua untuk menyiasatinya, Bunda. Menurut Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Google Indonesia, Putri Alam, 10 sampai 20 tahun ke depan Indonesia akan mengalami populasi bonus demografi.

Bonus demografi yaitu di mana populasi masyarakat berusia 15 sampai 54 tahun melebihi dari seluruh masyarakat Indonesia di usia lain. Kata Putri, populasi dengan bonus demografi ini baik untuk Indonesia, karena bisa membuat negara lebih produktif lagi.


"Tapi bagaimana caranya untuk bisa menangani bonus demografi ini. Tentunya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Menurut kami salah satu penting untuk meningkatkan itu, untuk menyongsong industri 4.0 adalah meningkatkan literasi digital," ujarnya di acara Tangkas Berinternet Google Indonesia di Kemdikbud RI, Senin (10/2/2020).


Apalagi menurut riset bahwa satu dari tiga orang Indonesia berinternet adalah anak-anak. Jadi sangat penting untuk anak-anak kita memiliki kemampuan literasi digital, Bunda.

Bunda pernah tahu kisah Pak Jujun di Sukabumi? Pak Jujun bisa bikin helikopter hanya dari berbekal pengetahuan internet dan YouTube. Sementara itu, Putri sendiri menceritakan anaknya umur 15 tahun bisa membuat patung padahal sama sekali pendidikan seni mematung (memahat) hanya berbekal dari pengetahuan di internet.

"Tapi kita tahu, internet itu datang dari risiko-risikonya, misi kami dari Google adalah anak bisa menyerap dan memaksimalkan manfaat internet sebaik-baiknya sembari mengurangi risiko dari internet," kata Putri.

Google memiliki alat untuk menjaga keamanan berinternet, mereka berkolaborasi dengan Yayasan Sejiwa, Kemkominfo, Kemdikbud, dan Kementerian PPPA.
ilustrasi anak main gadgetilustrasi anak main gadget/ Foto: Thinkstock

"Saya ibu dari empat anak, sebagai ibu saya tahu peran orang tua ingin memastikan anaknya bisa dengan aman berinternet, apa yang mereka lakukan dan hindari. Mengingat pentingnya orang tua di zaman digital sangat penting, untuk itu perlu ajari anak untuk tangkas berinternet," sambung Putri.

Apa itu tangkas berinternet? Materi ajar untuk anak, ortu, guru. Ada lima unsur dari tangkas berinternet yaitu cerdas, cermat, tangguh, bijak, dan berani. Cerdas, adalah langkah-langkah bagaimana anak tahu harus berbuat apa terhadap informasi yang sangat cepat menyebar di era digital ini, yaitu bahaya over sharing, mengunggah hal-hal berbahaya lainnya.

Cermat itu agar anak-anak bisa tahu bahwa semua yang di internet itu benar, tidak gampang percaya dan terbuai. Tangguh itu soal keamanan pribadi dan privacy. Betapa pentingnya anak-anak tahu bahwa data-data pribadi mereka adalah hal yang penting dan krusial untuk diamankan di internet. Jadi kita mengajari untuk menjaga privacy mereka, bagaimana cara set password yang baik.

"Untuk bijak, banyak sekali kasus-kasus cyberbullying, materi ini mengajarkan anak-anak untuk menghadapi atau apa yang harus dilakukan ketika ada cyberbullying, stand up untuk para korban bullying. Harus memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri," kata Putri.

Terakhir adalah berani, kalau melihat sesuatu yang mencurigakan di internet. Mereka harus berani, berkomunikasi dengan orang tua gurunya, Tentunya ini harus didukung dengan lingkungan rumah yang kondusif agar mendorong anak-anak bisa komunikasi terbuka dengan orang tua.

Di kesempatan yang sama, Diana Haryana, pendiri Yayasan Sejiwa mengingatkan besok tanggal 11 Februari 2020 adalah Safer Internet Day yang diperingati oleh seluruh dunia. Kita diajak untuk mengingat keamanan online, Bunda.

Diana menceritakan sedikit beberapa temuannya ketika melakukan workshop digital parenting. Salah satu temuannya adalah seorang ayah yang terobsesi anaknya ingin menjadi YouTuber. Menurutnya itu baik tapi cara mengajarkannya salah karena sejak bayi, anaknya sudah terpapar dengan smartphone tanpa diberi aturan.

"Yang jadi masalah adalah bapak itu punya bayi, dari bayi sudah diberi smartphone. Keluarga tidak memahami kalau itu tidak baik, anak itu tak bisa dikontrol karena tidak ditanamkan kebiasaan baik," ujar Diana.

"Kita peduli pada anak. What can we do? Kita mesti punya satu cara untuk menang di kepala anak kita," sambungnya.

Menurut Diana, tangkas berinternet menjadi terobosan positif bagi orang tua dan guru. Ini karena kita bisa menjadi orang tua yang funky, gaul dengan anak, kita bisa menjadi top of mind dari anak, Bunda.


Simak juga cara membuat anak mau makan tanpa gadget melalui video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi