sign up SIGN UP search


parenting

3 Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Membuat Bunda Frustrasi

Melly Febrida Rabu, 09 Sep 2020 19:16 WIB
child girl cleaning her room and organize wooden toys into knitted storage bag. Housework and help concept caption
Jakarta -

Mendisiplinkan anak menjadi PR tersendiri untuk sebagian orang tua. Tak sedikit yang marah-marah, mengeluarkan teriakan hingga berujung frustrasi ketika menghadapi anak yang susah dinasehati.

Wah, padahal cara ini bisa memperburuk perilaku anak. Bahkan tanpa disadari, Bunda mungkin mengkritik anak yang mempermalukan mereka. Cara ini tidak akan berhasil, melainkan memperburuk perilaku anak.

American Academy of Pediatrics (AAP) berpendirian kuat disiplin yang efektif akan bermanfaat jika mengacu pada disiplin penuh hormat yang diterapkan secara konsisten, tegas, dan adil. Namun, mendisiplinkan dengan menghukum, meremehkan, dan membuat anak merasa buruk - atau dengan kata lain mempermalukan anak-anak malah lebih berbahaya ketimbang memberikan manfaat.


Penelitian AAP menunjukkan dengan membentak atau mempermalukan anak-anak tidak akan efektif dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Cara pendisiplinan dengan mempermalukan anak membuat mereka lebih berisiko memiliki perilaku, kognitif, psiko-sosial, dan emosional yang merugikan.

Claire McCarthy, MD, editor fakultas senior dari Harvard Health Publishing, menyatakan, ada garis tipis antara mengkritik dan mempermalukan seorang anak, Bunda. McCarthy mencatat dengan mempermalukan anak-anak dapat menyebabkan masalah harga diri. Anak akan berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri mereka atau mereka tidak mampu mengubahnya.

Untuk mengubah perilaku anak secara positif, McCarthy mengatakan beberapa cara ini bisa Bunda lakukan:

1. Beri teladan

Orang tua harus menetapkan ekspektasi ke anak, menjadi teladan perilaku positif, dan membiarkan anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

Cara yang dianggap paling berhasil dan menguntungkan menurut AAP membutuhkan keterlibatan aktif dari orang tua, dalam mengajar anak-anak tentang perilaku yang dapat diterima.

2. Bentuk dasar disiplin yang efektif

Bunda bisa membuat aturan dan ekspektasi yang jelas, yang diikuti dengan konsekuensi yang sesuai, demi membentuk dasar untuk disiplin yang efektif.

"Menindaklanjuti secara langsung setiap saat dan bersikap konsisten akan mengajari anak bahwa Anda sungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan. Pengalihan dapat membantu anak-anak mengubah sikap mereka," ujar McCarthy.

3. Coba A Time-In

Bunda sudah pernah mempraktikkan teknik time-out dalam mendisiplinkan anak? Time-out merupakan cara untuk mengalihkan perhatian anak dari aktivitas yang sedang mereka kerjakan ke hal lain dalam waktu yang sangat cepat.

Misalnya, saat anak-anak menangis meminta remote TV, Bunda akan membawa anak-anak keluar rumah untuk membuatnya diam.

Nah, kalau Bunda selama ini mempraktikkan time-out, pertimbangkan juga mencoba time-in. Caranya, duduklah bersama anak dan berikan perhatian penuh dari Bunda.

"Ajaklah mereka untuk membagikan apa yang mereka rasakan dan ungkapkan empati untuk emosi tersebut," kata McCarthy.

Crystal Antonace, pemimpin orang tua untuk organisasi Chicago Northside Attachment Parents organization mengatakan bahwa time-in membantu memusatkan dan mengarahkan anak.

"Time-in pada dasarnya adalah saat seorang anak paling membutuhkan orang tuanya," kata Antonace kepada Chicago Tribune.

Menurutnya, ketika seorang anak mengamuk atau bertindak secara emosional atas sesuatu yang tampaknya tidak penting bagi orang dewasa, anak membutuhkan koneksi untuk menegaskan kembali perasaannya dan untuk memahami ia mengalami frustrasi dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Terkadang, apa yang tampak seperti perilaku buruk adalah rasa frustrasi yang disebabkan oleh ketidakmampuan anak kecil untuk mengekspresikan pikiran atau emosi secara akurat," jelasnya.

Dalam mendisiplinkan anak, Bunda harus tahu batasannya. Setiap tindakan yang dilakukan orang tua harus mengacu apakah itu termasuk kekerasan pada anak atau tidak.

Disiplin dianggap sebagai kekerasan apabila tindakan tersebut menimbulkan trauma, menyakitkan, dan mengancam jiwa anak. Kalau anak dipukul atau dicubit sesekali, mungkin masih wajar. Tapi kalau berkali-kali, bisa dianggap kekerasan.

"Hukuman disiplin pada anak baiknya dipahami sehingga perilaku anak berubah menjadi positif, dan dapat melatih tanggung jawabnya," ujar DR.Dr.Meita Dhamayanti, Sp.A(K).

Bunda, simak juga yuk alasan kenapa para suami sering mengubah pola disiplin anak, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi