sign up SIGN UP search


parenting

Benarkah Bayi Kolik Sering Menangis Akibat Banyak Gas di Perut?

Melly Febrida Sabtu, 17 Oct 2020 11:36 WIB
Crying hungry newborn baby lying on the bed. Love baby. Newborn baby and mother. caption

Jakarta - Orang tua biasanya menjadi panik kalau bayi menangis terus menerus selama beberapa jam. Kondisi ini biasanya diakibatkan oleh kolik, Bunda, yang ternyata paling sering terjadi pada anak pertama.

Saat bayi kolik, orang tua seringnya enggak bisa berbuat apa-ala. Kalaupun ada, hanya bersifat sementara, termasuk dengan menyusuinya, mengajak jalan-jalan, atau menghibur bayi. Dr Jack Newman, dokter spesialis anak dalam The Ultimate Breastfeeding Book of Answer menjelaskan bahwa kolik umumnya terjadi sekitar 3 minggu yang ditandai dengan bayi mulai rewel, terutama pada malam hari. 


Menurutnya, beberapa dokter biasanya melakukan sinar X pada bayi untuk memperlihatkan orang tua bahwa perut bayi mereka penuh dengan angin.

"Tidak ada keraguan bahwa banyak bayi colicky menyimpan gas dalam perutnya. Mereka terus menerus bersendawa dan buang angin. Akan tetapi, apakah gas yang menyebabkan bayi menangis?

"Bayi yang menangis lama akan menelan banyak udara. Dan bayi yang bisa membuang udara tersebut biasanya tidak akan rewel atau kolik. Bagaimana pun untuk sebagian orang mengeluarkan gas menjadi alasan penting kita harus menyendawakan bayi," ujarnya.

Namun, Newman berpendapat menyendawakan bayi juga bisa menjadi cara yang sia-sia. Memang, sebagian bayi jarang muntah susu jika disendawakan setelah menyusui. Tapi sendawa tidak banyak membantu menangani kolik " kata Newman.

Gas yang ada di perut bayi, kata Newman, biasanya datang dari sumber yang sama dengan gas yang ada di dalam perut orang dewasa, yaitu dari pencernaan makanan. Jadi bersendawa tidak akan membantu menguranginya.


Selain itu, lanjut Newman, orang tua yang lebih berpengalaman juga sudah memiliki teknik menenangkan bayinya, mereka tidak khawatir berlebihan.


"Kolik biasanya lebih jarang terjadi pada anak kedua, ketiga atau keempat, karena para orang tua lebih mengetahui tingkah laku bayi yang normal, dan lebih memahami bahwa bayi memang kadang menangis," kata Newman.

Sementara itu, pendiri Situs Gentleparenting Sarah Ockwell-Smith, dalam The Gentle Parenting Book mengatakan kolik merupakan label yang diberikan ke anak yang menangis tanpa sebab yang diketahui. Meskipun sekitar seperempat bayi baru lahir didiagnosis dengan kolik, sebenarnya ini bukan gangguan medis.   

"Dalam banyak kasus, tangisan ini dapat dijelaskan dengan kurangnya pemahaman tentang periode trimester keempat, alergi atau intoleransi yang tidak terdiagnosis (seperti alergi protein susu sapi) atau masalah dalam menyusui misalnya latch on nya atau efek kelahiran menyebabkan ketidaknyamanan pada bayi," kata Ockwell-Smith.

Untuk menghadapinya, kata Ockwell-Smith, meski dengan cara gentle parenting tidak bisa menghentikan air mata secara instan.  Melainkan orang tua harus tetap tenang, empatik dan responsif serta berada bersama bayi saat mereka menangis, jika upaya terbaik Bunda belum menghentikan air mata bayi.  

"Terlalu banyak orang tua yang merasa gagal jika mereka tidak bisa menghentikan tangisan bayinya, namun Anda masih bisa tetap hadir di dekatnya dan menghormati mereka," ujarnya.

Pada saat ini, orang tua tentu ingin tangisan segera berhenti, padahal tujuan yang jauh lebih besar sebenarnya menahan rasa frustrasi anak dan membantu anak melewati keadaan.


Mengenai kolik ini, dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahwa ini tidak berbahaya. Kondisi ini akan menghilang dengan bertambahnya usia, setidaknya setelah 4 bulan dan tidak memerlukan obat apa pun. Dengan kata lain, kolik pada bayi akan menghilang dengan sendirinya.

Selain itu, hubungan ibu dan bayi yang harmonis adalah kunci utama dalam pencegahan dan pengobatan kolik pada bayi. Meski tidak berbahaya, jangan biarkan bayi menangis terlalu lama, Bunda.

Bunda, simak juga yuk jenis pijatan yang bikin bayi merasa nyaman dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi