sign up SIGN UP search


parenting

Cara Efektif Mengajarkan Anak Toilet Training dalam 3 Hari

Annisa Afani Selasa, 27 Oct 2020 07:00 WIB
Child sitting on the toilet caption
Jakarta -

Ketika usia anak semakin bertambah, kemampuannya makin berkembang. Dan salah satu hal penting yang bisa mulai Bunda ajarkan menuju kemandirian adalah latihan buang air di toilet atau toilet training.

Mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), keberhasilan anak melakukan toilet training dinilai dari seberapa jauh si kecil mengerti menggunakan toilet untuk buang air, bukan dari kemahiran penguasaan proses belajarnya.

Bunda bisa mengajarkan toilet training dengan berbagai cara. Ini tergantung dengan bagaimana cara anak yang berbeda-beda dalam belajar. Namun, hal terpenting yang perlu diingat adalah kepekaan untuk mengenali isyarat dan kesiapan anak dalam belajar, konsistensi, dan jangan dipaksakan.


Selain itu, perlu juga untuk membuat perencanaan dengan melibatkan pihak lain dalam proses ini, Bunda. Misalnya, dengan pasangan, pengasuh, anggota keluarga lain, serta petugas di tempat penitipan anak.

"Bagikan prosesnya dengan pasangan Anda dan pengasuh, atau kerabat. Dengan berbagi tanggung jawab, anak Anda belajar bahwa mereka harus menggunakan toilet dengan semua orang, tidak hanya dalam situasi tertentu atau dengan orang dewasa tertentu," kata Jill Ceder, psikoterapis anak dan keluarga, dikutip dari Very Well Family.

Tanda anak siap toilet training

Mengutip dari What to Expect, anak pada umumnya belum siap untuk berlatih menggunakan toilet sebelum memasuki usia 2 tahun. Namun, bagi beberapa anak mungkin dapat belajar dengan cepat atau lebih lambat ya, Bunda.

Kesiapan menggunakan toilet training pada anak dilihat dari kematangan fisik dan psikologi. Ini secara umum akan timbul saat anak di usia 18 bulan sampai 2,5 tahun. Oleh karena itu, jangan pernah mendorong atau memaksa anak sebelum siap.

Nah, anak akan memberikan tanda jika dia siap untuk toilet training, Bunda. Beberapa tanda tersebut, yakni:

1. Bunda jarang mengganti popoknya. Hingga berusia sekitar 20 bulan, balita masih sering buang air kecil, tapi setelah mereka bisa tidak buang air kecil selama satu atau dua jam, itu tandanya mereka mengembangkan kontrol kandung kemih dan secara fisik siap untuk toilet training.

2. Buang air besarnya menjadi lebih teratur.

3. Bisa meniru dan menunjukkan rasa penasaran untuk belajar atau mengetahui sesuatu. Misalnya, mengikuti orang dewasa saat ke kamar mandi.

"Kebanyakan anak senang mempelajari etiket kamar mandi. Tunjukkan kepada mereka cara kerja penyiraman toilet dan cara mencuci tangan," tutur Ceder.

4. Bisa mengembalikan sesuatu yang diambil atau yang ditemukan lalu dikembalikan pada tempatnya, baik diminta maupun tidak.

5. Mampu menunjukkan kemandirian dengan berkata tidak.

6. Sudah bisa duduk serta berdiri dengan benar dan mandiri.

7. Sudah bisa mengungkapkan mau buang air besar atau kecil.

8. Sudah bisa melepas dan mengenakan pakaian sendiri.

9. Anak mungkin tiba-tiba memutuskan tidak ingin memakai popok kotornya karena menganggapnya menjijikan.

Tips mengajarkan toilet training pada anak

Apabila anak sudah menunjukkan beberapa tanda kesiapan tersebut, maka Bunda bisa mulai mempersiapkan dan mengajarkan anak melalui fase transisi penggunaan toilet. Berikut caranya:

1. Ajarkan untuk menggunakan pakaian dalam

Sebelum Bunda mengajarkan anak menggunakan toilet training, maka kenalkan dulu untuk menggunakan pakaian dalam sebagai pengganti popok.

"Setelah anak Anda menunjukkan tanda kesiapan, bawa ke toko dan pilih pakaian dalam bersama. Membeli pakaian dalam dengan karakter favorit adalah cara yang menyenangkan untuk membuatnya bersemangat mengenakan pakaian dalam," saran Ceder.

Untuk tahap ini, Bunda bisa mengenalkan pakaian dalam dengan mengatakan, 'Sebentar lagi kan kakak sudah besar, kita coba pakai celana dalam, yuk!'

2. Gunakan bahasa yang umum

Beberapa ahli merekomendasikan kepada orang tua untuk menggunakan kata-kata formal yang konsisten seperti 'buang air besar', 'buang air kecil' daripada bahasa gaul atau bahasa bayi.

Selain itu, jangan pernah menyebut isi popok sebagai sesuatu yang 'bau' atau 'kotor' ya, Bunda. Biarkan anak belajar toilet training dengan nyaman dan memandang kotorannya sebagai proses alami yang tidak menjijikkan.

3. Puji perilaku dan kemajuannya

Beri kalimat pujian atau dukungan atas kedewasaannya yang sedang berkembang, seperti mampu mengungkapkan keinginan untuk buang air, atau dapat membuka celananya sendiri disaat yang sama.

4. Sesuaikan pakaiannya

Dukung upaya toilet training ini dengan memakaikannya pakaian yang mudah dilepas-pasang, Bunda. Beri celana yang dapat ditarik ke atas dan ke bawah tanpa harus mengotak-atik terlebih dahulu seperti overall atau kancing yang rumit.

5. Tunjukkan cara buang air di toilet

Dengan sifat menirunya, Bunda dapat menjelaskan cara jongkok, menyeka, dan menyiram. Untuk itu, Bunda perlu mendemonstrasikannya langsung di kamar mandi.

Ingat untuk konsisten. Jangan lupa untuk mendemonstrasikannya dengan perlahan agar mudah untuk dipahami si Kecil.

6. Pilih model toilet training yang tepat

Carilah model toilet training yang tahan lama dan kuat. Beberapa anak ada yang menolak untuk menggunakan toilet training khusus, dan menuntut untuk menggunakan toilet orang dewasa.

Jika hal ini Bunda alami, belilah toilet khusus anak yang dapat dipasang ke toilet orang dewasa. Carilah dengan ukuran yang stabil, serta kursi kecil di kaki untuk membantunya mengejan selama buang air besar.

Berdasarkan IDAI, ada beberapa hal yang perlu Bunda ingat saat mengajarkan toilet training pada anak, yakni:

  • Kenali isyarat saat anak akan buang air dengan ekspresi wajah, perilaku, atau posisi.
  • Selalu berikan contoh cara yang baik dan benar untuk toilet.
  • Bagi anak laki-laki, perlu untuk mengajarkannya buang air kecil dalam posisi duduk terlebih dahulu, Bunda. Jika anak diajarkan untuk langsung buang air kecil dengan berdiri, ini mungkin dapat menyulitkan proses belajar duduk di toilet untuk buang air besar.
  • Latihan buang air dengan toilet training dapat dimulai dengan sehari sekali dengan waktu yang konsisten, misalnya setiap setelah makan atau saat mandi.
  • Saat anak mulai dapat mengendalikan hasrat buang airnya, Bunda dapat mengurangi pemakaian popok secara bertahap dan gantikan dengan celana dalam.
  • Ajari anak untuk buang air sesaat sebelum tidur malam. Apabila anak masih sering ngompol, maka Bunda bisa mengajaknya untuk buang air di tengah malam.
  • Lakukan konsultasi dengan dokter apabila anak belum bisa mengendalikan hasrat buang air saat sudah berusia 7 tahun.

Nah, berikut cara melatih anak toilet training dalam waktu tiga hari, yang bisa Bunda coba:

Hari pertama

Tepat setelah anak bangun, ganti popoknya. Biarkan dia menghabiskan setidaknya hari pertama tanpa pakaian. Tanpa popok atau celana dalam, anak mungkin akan menyadari kebutuhan untuk menggunakan toilet.

Kemudian, beri anak segelas besar air, jus, atau susu agar mereka sering buang air kecil. Bunda harus memperhatikan dengan cermat tanda-tanda anak akan buang air kecil atau besar. Saat melihat tandanya, segera bawa anak ke kamar mandi untuk menggunakan toilet.

Selain itu, tanyakan ke anak apakah mereka harus ke toilet setiap 20 menit. Dengan begitu, Bunda bisa mengatur alarm setiap 20 menit yang bisa didengar anak, sehingga ketika alarm bunyi, mereka akan mencoba menggunakan toilet. Pastikan si kecil mencuci tangannya setelah toilet training.

Jika tidak setiap 20 menit, Bunda bisa minta anak untuk menggunakan toilet setiap transisi. Misalnya, setelah merapikan mainannya, sebelum makan atau setelah makan siang, dan sebelum dan sesudah tidur siang atau malam. Ini akan menjadi bagian dari rutinitas si kecil.

"Gunakan observasi perilaku yang netral secara emosional terkait kemajuan anak. 'Kamu buang air kecil di toilet, itu tempat buang air kecil!' atau Kamu buang air kecil di lantai, bantu Bunda membersihkannya'," ujar Ceder.

Hari ke-2 dan ke-3

Proses untuk hari ke-2 dan ke-3 pada dasarnya sama dengan hari pertama. Ini hanya cara untuk memperkuat proses pelatihan tersebut, dengan memilih tetap di dalam rumah atau di luar rumah.

Jika Bunda memilih pergi ke luar rumah, coba ajak anak ke taman bermain atau melakukan aktivitas di dekat Bunda dan selalu membawa pispot portable atau gunakan toilet umum. Jika ternyata anak belum berhasil, ganti saja pakaian dalamnya dan jangan membuat masalah menjadi besar.

Saat tidur siang atau malam, membiarkan anak mengenakan popok selama toilet training adalah keputusan Bunda. beberapa yakin akan lebih mudah melakukan toilet training sepenuhnya untuk siang hari dan malam hari, namun lainnya melakukannya secara bertahap.

Selamat mencoba, Bunda. Semoga informasi ini bermanfaat dan si kecil bisa segera lulus toilet training ya.

Bunda, simak juga cara pijat agar bayi lancar BAB dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi