sign up SIGN UP search


parenting

Mengetahui Penyebab Anak Muntah, dan Cara Mengatasinya

Annisa Afani Selasa, 24 Nov 2020 08:14 WIB
cute little girl get cold and feel vomit, asian caption
Jakarta -

Muntah merupakan kondisi saat isi lambung keluar secara paksa melalui mulut. Prosesnya terjadi ketika otak mengalami rangsangan yang mengganggu perut, sehingga saraf aferen bekerja dengan mengirim sinyal ke tubuh untuk mengeluarkan isi di perut.

Tubuh kemudian melakukan gerakan fisik secara alami dengan menarik napas dalam-dalam, Bunda. Kemudian glotis atau saluran yang terletak di antara laring, dan pita suara tempat udara pun menutup, membuat laring serta langit-langit mulut memberi ruang bagi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah itu, diafragma pun menekan dinding perut dengan kuat. Tekanan negatif yang diciptakannya tersebut di dalam tubuh membuka kerongkongan yang menjadi akses keluarnya isi lambung secara spontan.


Mengutip NPR, anak-anak memang lebih rentan mengalami muntah, Bunda. Bukan hanya karena mereka berada di fase sistem pencernaan yang masih lemah, tapi tubuh anak memang lebih sensitif sehingga mudah mengirim, dan mendengarkan, sinyal aferen untuk semua jenis masalah fisik lainnya termasuk akibat pusing atau demam.

"Apapun yang membuat anak sakit bisa membuat mereka muntah. Meskipun masalah pencernaan adalah penyebab paling umum dari muntah pada anak-anak, muntah tidak selalu mengarah pada hal tersebut," kata ahli gastroenterologi anak, Katja Kovacic, dikutip dari NPR.

Apa penyebab muntah?

Meski menimbulkan rasa tak nyaman, muntah bisa bermanfaat untuk menyingkirkan zat beracun yang telah tertelan dalam tubuh, Bunda. Mengutip Today's Parents, orang tua mesti memperhatikan hal ini karena muntah paling sering disebabkan oleh suatu kelainan.

Walaupun kelainan ini relatif tidak berbahaya, tetapi muntah bisa menjadi pertanda adanya masalah serius seperti adanya penyumbatan di lambung, usus atau peningkatan tekanan seperti hipertensi intrakranial. Untuk mengetahui lebih detail, berikut beberapa hal lain yang menjadi penyebab muntah:

1. Gastroenteritis virus

Masalah ini juga dikenal sebagai flu perut dan menjadi penyebab muntah yang paling umum. Ini dapat berlangsung dari beberapa hari hingga lebih dari seminggu.

2. Motion sickness

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC), ini berkaitan dengan mabuk perjalanan atau gerakan yang dialami oleh tubuh. Sekitar 50 persen anak-anak merasa mual saat naik mobil, pesawat, kapal, dan beberapa permainan dalam wahana rekreasi.

3. Keracunan makanan

Gejala keracunan makanan ini menyerupai gastroenteritis virus, Bunda. Muntah dapat terjadi dari beberapa jam hingga beberapa hari setelah anak makan makanan yang terkontaminasi.

4. Akibat sebuah aktivitas

Beberapa anak pada dasarnya akan muntah ketika batuk, menangis, terlalu bersemangat, makan atau minum terlalu banyak, berlarian setelah makan, saat melihat sesuatu yang membuatnya mual, dan lain sebagainya.

5. Infeksi

Muntah juga dapat disebabkan oleh beberapa jenis infeksi, di antaranya bisa mengakibatkan hal serius. Jika anak muntah berulang kali, dan memiliki gejala lain, seperti demam, lesu, atau nyeri, konsultasikan ke dokter.

6. Penyakit jangka panjang

Beberapa jangka panjang terkait masalah pencernaan seperti intoleransi laktosa atau penyakit celiac dapat menyebabkan muntah kronis. Ini bisa terjadi terus-menerus bahkan selama berbulan-bulan.

Apa yang harus dilakukan saat anak muntah?

Hal terbaik yang harus dilakukan ialah membantunya merasa nyaman serta mengawasi asupan cairan untuk mencegah anak mengalami dehidrasi. Muntah yang tidak kunjung sembuh setelah sehari atau lebih perlu diperhatikan karena dapat menyebabkan dehidrasi parah.

Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan apa yang ditemukan dalam muntah anak. Sehingga dapat mengidentifikasi jika ada hal yang ganjil dan melaporkannya pada dokter.

"Tanda bahaya sering kali ditemukan di muntahan itu sendiri. Para orang tua bisa menemukan sesuatu selain isi perut, dan harus segera mencari pertolongan medis. Hati-hati dengan darah, empedu hijau tua, atau bahkan kotoran, yang bisa menjadi muntahan dari usus yang tersumbat," kata dokter anak di Boston, Daniel Summers.

Muntah yang dialami oleh anak terkadang juga membuat orang tua menjadi panik. Apalagi jika hal ini terjadi di tengah malam saat klinik dokter mungkin sudah tutup atau apotek yang dapat dijangkau terlalu jauh.

"Orang tua mungkin kewalahan dan bingung untuk mencoba menentukan penyebab muntah," ujar ahli farmasi, Jennifer Gershman, PharmD, CPh yang dikutip dari Pharmacy Times.

Menanggapi hal tersebut, Jennifer menyarankan orang tua untuk melakukan tiga hal penting sebagai pertolongan darurat, berikut di antaranya:

1. Tetap tenang, dan jangan panik

Muntah bisa menakutkan bagi orang tua, namun hal ini harus dihadapi dengan tenang. Perlu untuk diketahui bahwa muntah juga dapat terjadi saat anak mengalami kelelahan, sehingga istirahat, dan mengganti cairan yang hilang sangatlah penting.

Orang tua perlu meyakinkan diri bahwa anak kemungkinan besar akan merasa lebih baik dalam waktu 24 jam. Selain itu, orang tua penting untuk selalu menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan pakai sabun, dan air untuk menghindari penularan infeksi ke anak-anak. Ini dapat menjadi tantangan bagi orang tua yang sakit, karena di saat bersamaan harus tetap merawat anaknya.

2. Cegah dehidrasi

Bunda bisa memberikannya cairan elektrolit atau oralit. Jika muntah terjadi, hindari untuk memberi minuman berenergi, seperti isotonik, soda, dan jus karena mengandung natrium yang tidak memadai, dan karbohidrat dalam jumlah yang terlalu besar.

Setelah anak muntah, orang tua harus menunggu sekitar 30 menit sampai perutnya tenang sebelum diberi oralit, yang tersedia, dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Perkiraan pemberian oralit atau cairan pada anak dapat didasarkan pada berat dan usianya lho Bunda.

  • Anak berusia di bawah 1 tahun

Jika bayi yang menyusu eksklusif memuntahkan susunya lebih dari sekali, maka bayi harus terus disusui untuk jangka waktu yang lebih pendek seperti 5-10 menit setiap kali setiap 2 jam. Selanjutnya, waktu menyusui pun dapat ditingkatkan sesuai dengan toleransinya.

Sedangkan bagi bayi yang menyusu formula, maka harus menerima sekitar 10 mililiter (ml) larutan oralit tanpa rasa setiap 15-20 menit dengan sendok atau pipet oral. Lalu sekitar 3 ml lagi dapat diberikan untuk bayi berusia 6 bulan ke atas. Jumlah larutan oralit dapat ditingkatkan setelah bayi dapat mentolerir larutan tanpa muntah selama lebih dari 2 jam.

  • Anak berusia di atas 1 tahun

Bagi anak yang sudah berusia 1 tahun ke atas, maka harus diberi larutan oralit dalam jumlah kecil setiap 15 menit, Bunda. Selain itu, si kecil juga perlu diberi cairan lainnya seperti air mineral, atau sup kaldu.

Selain menjaga cairan tubuhnya, Bunda juga perlu memperhatikan jika anak mengalami tanda dan gejala dehidrasi, seperti:

  • Mulut kering atau lengket
  • Sedikit atau tidak ada air mata saat menangis
  • Mata cekung
  • Lebih jarang buang air kecil atau lebih sedikit buang air
  • Mengalami kulit kering dan dingin
  • Mudah marah
  • Mudah mengantuk atau pusing

Jika anak tidak membaik setelah mendapat cairan oralit, mungkin mereka membutuhkan cairan infus di rumah sakit, Bunda.

3. Hindari makanan tertentu

Beberapa dokter menyarankan agar anak menunggu selama delapan jam sebelum diberi makanan jika mengalami muntah karena gastroenteritis. Namun waktu tersebut dianggap terlalu panjang, dan akan membuat anak merasa kelaparan.

Di samping itu, dokter lain mengatakan bahwa anak dapat diberi makan, namun dalam porsi yang kecil dengan jenis makanan tertentu, di antaranya pisang, nasi, selai apel dan roti panggang. Jika jenis makanan ini sudah dapat ditoleransi, maka anak bisa kembali makan dengan makanan normal secara bertahap.

Akan tetapi, penelitian lain menunjukkan bahwa anak sebenarnya dapat makan makanan normal seperti biasanya, Bunda. Nah, untuk menjaganya supaya tidak muntah, hindari makanan berminyak seperti gorengan serta produk susu dengan gula yang berlebihan.

Kapan harus ke dokter?

Anak-anak dengan tanda, gejala serta peringatan tertentu harus segera dievaluasi oleh dokter, termasuk bayi yang lahir atau yang lebih muda. Masalah pencernaan memang tak selalu dianggap sebagai hal yang berbahaya, akan tetapi jika anak tampak tidak nyaman hingga muntah berlangsung lebih dari beberapa jam, maka perlu untuk mendapat pemeriksaan.

Untuk anak yang lebih tua, tanda-tanda dehidrasi terutama penurunan buang air kecil, dan jumlah cairan yang dikonsumsi dapat membantu dan menentukan seberapa urgensinya anak mendapat pemeriksaan dokter. Urgensi ini bervariasi menurut usia karena si kecil dapat mengalami dehidrasi lebih cepat.

Selain itu, orang tua juga perlu menghubungi dokter jika anak mengalami muntah lebih dari 6-8 kali lebih dari 24 hingga 48 jam. Ini termasuk jika muncul gejala lain seperti batuk, demam, atau timbulnya ruam pada kulit.

Saat anak muntah, penting untuk memperhatikan dan mencatat pola serta gejala apa saja yang terjadi. Hal ini akan sangat penting karena dapat membantu dokter mengidentifikasi masalah dengan menanyakannya secara langsung, mengenai:

1. Kapan muntah anak dimulai?
2. Seberapa sering muntah yang dialaminya?
3. Seperti apa bentuk dan warna muntahnya?
4. Apakah muntahnya terlihat begitu kuat?
5. Berapa banyak yang dimuntahkan?
6. Apakah anak baru melakukan perjalanan?
7. Apa anak pernah mengalami cedera?

Pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk mencari petunjuk serta kemungkinan penyebab muntahnya. Setelah itu, akan memberikan pengobatan atau perawatan yang tepat untuk buah hati.

Semoga informasi ini bermanfaat, dan dapat membantu Bunda mengatasi masalah muntah si kecil, ya.

Bunda, simak juga alasan mengapa anak cepat mual saat naik wahana dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi