sign up SIGN UP search

parenting

Waspada Bun, Ini Bahaya Kurang Zat Besi & Dampaknya Bagi Masa Depan Anak

Annisa Afani Kamis, 24 Dec 2020 20:22 WIB
Ilustrasi ibu dan anak caption
Jakarta -

Zat besi menjadi nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, Bunda. Dalam tubuh, zat besi bekerja membuat sel darah merah atau hemoglobin dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Kekurangan zat besi berarti tubuh tidak memiliki cukup mineral penting ini untuk membuat sel darah merah, sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.

"Kekurangan zat besi dapat memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan anak bahkan dapat menyebabkan anemia," kata Ahli Gastroenterologi Anak, Dr. Kadakkal Radhakrishnan, MD yang dikutip dari Cleveland Clinic.


Kekurangan zat besi terjadi ketika seseorang tidak cukup mengonsumsi makanan zat besi dan merupakan masalah gizi paling umum. Kekurangan zat besi bisa terjadi pada semua usia, termasuk bayi berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi, terutama karena peningkatan kebutuhan zat besi selama periode growth spurt atau pertumbuhan yang cepat.

Penyebab kekurangan zat besi

Kekurangan zat besi biasanya terjadi disebabkan beberapa hal, Bunda. Mengutip dari Cleveland Clinic, berikut di antaranya: 

1. Diet yang buruk

Anak-anak berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi karena kebutuhan zat besi dalam tubuhnya lebih tinggi. Faktor utama penyebab munculnya masalah ini adalah pola makan yang rendah akan sumber zat besi. Namun, jangan juga mengonsumsi susu berlebihan karena justru akan memperburuk penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga berisiko menyebabkan kekurangan zat besi.

"Pola makan yang menonjolkan jumlah susu berlebihan merupakan sumber zat besi yang buruk, dapat membuat anak berisiko kekurangan zat besi," ujar Radhakrishnan.

2. Kehilangan darah

Penyebab kehilangan darah dapat terjadi karena beberapa hal, di antaranya akibat masalah pencernaan seperti tukak lambung, radang usus kronis, hingga akibat parasit seperti cacingan.

"Kondisi usus dapat memengaruhi kekurangan zat besi dalam beberapa cara, tetapi biasanya melalui penyerapan zat besi yang buruk dari makanan," ucap spesialis anak, dr SAM Hay, dikutip dari Kidspot.

3. Gagal menyerap zat besi

Beberapa anak ada yang tubuhnya memiliki ketidakmampuan untuk menyerap zat besi dengan cukup dari makanan, Bunda. Biasanya ini dapat terjadi pada anak dengan kondisi kesehatan seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn.

Tanda dan gejala anak kurang zat besi

Bunda perlu memastikan anak dalam kondisi yang baik agar perkembangannya dapat berjalan dengan sempurna. Jika melihat suatu hal yang berbeda, maka segeralah untuk memeriksakannya. Untuk menjaga dan mengetahui kondisi anak mengalami kekurangan zat besi, berikut beberapa tanda dan gejalanya:

1. Kulit pucat

Mengutip Tots and Moms, salah satu gejala utama anak kekurangan zat besi adalah kulit yang tampak pucat. Hal ini terjadi karena tubuh memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang tak cukup. Akibatnya, aliran darah dan jumlah sel darah merah pun menurun dan mengubah warna alami kulit.

2. Hilang nafsu makan

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan berbagai gejala dan salah satu yang umum adalah hilangnya nafsu makan anak. Zat besi merupakan nutrisi penting bagi anak-anak karena membantu membawa oksigen dari paru-paru ke berbagai bagian tubuh dan menyimpan oksigen di otot. Kekurangan zat besi berarti berkurangnya sel darah merah yang dapat menyebabkan nafsu makan buruk.

3. Lelah dan rewel

Anak yang kekurangan zat besi dapat merasa lelah, lemas, dan rewel akibat penurunan produksi sel darah merah.

"Pasa awalnya, ini (kekurangan zat besi) mungkin hampir tidak terlihat. Anak Anda mungkin tidak ingin bermain selama ini atau mungkin lebih cenderung tidur siang," ujar Ketua American Academy of Pediatrics Committee on Nutrition, Frank Greer, dikutip dari Parents.

Jika tren itu berlanjut, menurutnya, anak bisa mengalami anemia, di mana tubuh tidak menghasilkan cukup sel darah merah untuk mengisi sel-sel yang lama. Anak dengan anemia defisiensi besi, akan merasa lelah, lemah, dan rewel setiap hari.

4. Meningkatnya keringat

ketika jumlah sel darah merah dalam tubuh rendah, ini bisa menyebabkan meningkatnya keringat anak, Bunda.

5. Menginginkan makanan aneh

Kondisi ini dikenal sebagai pica, Bunda. Saat anak menginginkan makanan yang tidak biasa, ini adalah tanda bahwa tubuh sedang berusaha mengisi kembali tingkat nutrisi yang rendah.

"Nafsu makannya jadi buruk atau keinginan untuk makan non-makanan seperti es, kotoran, cat atau pati," tutur Radhakrishnan.

6. Kuku rapuh

Kekurangan zat besi bisa menyebabkan kuku yang tampak rapuh, lidah yang terlihat lebih merah dari biasanya dan atau retak di samping mulut.

Bahaya anak kekurangan zat besi

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk perkembangan dan masalah perilaku, pertumbuhan yang buruk, dan peningkatan risiko infeksi pada anak lho, Bunda. Berikut ini risiko yang dialami anak jika kekurangan zat besi:

  • Rentan sakit

Bukti medis dan penelitian tentang dampak kurangnya zat besi pada kekebalan anak sebenarnya cukup beragam. Umumnya, anak yang kurang zat besi menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.

Mereka akan lebih sering menderita pilek dan flu sepanjang tahun. Bahkan, penelitian di India, menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami anemia lebih dari lima kali lebih mungkin mengalami serangan asma daripada anak-anak yang mendapat cukup zat besi.

  • Menghambat perkembangan mental dan fisik

Anak yang kekurangan zat besi akan kurang aktif dan berkembang lebih lama. Kekurangan zat besi dapat menghambat perkembangan mental dan fisik balita serta menyebabkan kelemahan otot dan keterlambatan keterampilan motorik. Jika hal ini terjadi, maka kenaikan berat badan pada anak pun jadi ikut melambat.

  • Menyebabkan masalah belajar

Zat besi penting untuk perkembangan otak. Jika anak kekurangan zat besi bisa menyebabkan masalah kognitifnya, Bunda. Ingatan anak menurun, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan di sekolah.

"Ketika seorang anak kekurangan zat besi, tubuh mengarahkan semua zat besi ke darah dengan mengorbankan otak, menyebabkan masalah belajar," ujar Greer.

  • Masalah sosial

Lebih buruknya, jika anak mengalami kekurangan zat besi saat bayi, maka dampaknya bisa berlangsung lama setelahnya lho, Bunda. Dalam sebuah penelitian di University of Michigan, anak-anak yang mengalami anemia defisiensi besi saat bayi, selain mendapat nilai lebih rendah pada tes matematika dan menulis, mereka juga akan mengalami lebih banyak masalah sosial pada usia 12 tahun dibandingkan teman sekelasnya yang memiliki kadar zat besi normal saat bayi.

Itu karena anak yang kekurangan zat besi selain terlihat lusuh juga moody atau mudah tersinggung. Hal ini menyebabkan anak lain merasa tidak nyaman berada di sekitarnya, Bunda.

Jumlah zat besi yang dibutuhkan

Kebutuhan zat besi tergantung pada usia anak. Saat anak berusia 6 bulan, mereka mendapatkan jumlah zat besi dari air susu ibu (ASI) atau susu formula yang diperkaya zat besi. Setelah melewati usia 6 bulan dan mulai makan makanan padat, anak akan membutuhkan jumlah zat besi yang berbeda tergantung pada usianya.

Berikut jumlah zat besi per hari yang dibutuhkan anak berdasarkan usianya:

  • Bayi usia 0-6 bulan: 0,27 milligram (mg)
  • Bayi usia 7-12 bulan: 11 mg
  • Balita usia 1-3 tahun: 7 mg
  • Anak usia 4-8 tahun: 10 mg
  • Anak usia 9-13 tahun: 8 mg
  • Anak laki-laki usia 14-18 tahun: 11 mg
  • Anak perempuan usia 14-18 tahun: 15 mg

Oia, Bunda juga perlu mewaspadai bahwa risiko kekurangan zat besi bisa lebih tinggi pada beberapa anak dengan kondisi berikut ini:

  • Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah
  • Bayi di atas 6 bulan yang disusui tanpa makanan pendamping ASI (MPASI) yang diperkaya zat besi.
  • Bayi yang lahir dari ibu yang kekurangan zat besi dan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik.
  • Bayi yang mengonsumsi susu formula yang tidak diperkaya dengan zat besi.
  • Anak yang kebanyakan minum susu sapi melebihi batas yang direkomendasikan.
  • Remaja perempuan yang kehilangan darah selama periode menstruasi.
  • Anak picky eater, yang mengonsumsi makanan tidak sehat, teratur, dan seimbang.
  • Anak dengan kondisi medis tertentu, seperti infeksi kronis dan penyakit usus.
  • Anak vegetarian yang tidak mengonsumsi makanan kaya zat besi.

Diagnosis dan pengobatan kekurangan zat besi

Mendiagnosis kekurangan zat besi memerlukan penilaian dan pemeriksaan dari dokter spesialis anak, Bunda. Penilaian ini bisa meliputi riwayat rinci, asupan nutrisi, pemeriksaan fisik, serta tes darah melalui laboratorium untuk melihat kadar hemoglobin juga penilaian status zat besi.

Meskipun penyebab paling umum dari kekurangan zat besi adalah asupan makanan yang tidak sehat, tes ini tetap diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab kekurangan zat besi dengan lebih tepat lagi. Pada saat yang sama, dokter kemungkinan akan mengevaluasi dan mengobati kondisi mendasar yang dapat menyebabkan malabsorbsi zat besi atau kehilangan darah.

"Dokter yang harus menyaring semua faktor risiko potensial yang meningkatkan kemungkinan lain penyebab kekurangan zat besi," ucap Hay.

Mengatasi masalah kekurangan zat besi adalah dengan memperbanyak makanan kaya zat besi dalam jangka panjang, dan mengombinasikannya dengan vitamin C. Sebab zat besi lebih baik diserap jika dikombinasikan dengan vitamin C.

Cara ini mungkin cocok untuk kekurangan zat besi dalam level ringan, tetapi biasanya diperlukan periode suplemen zat besi. Sebaiknya jika ingin menambahkan suplemen zat besi untuk anak, konsultasikan hal itu ke dokter ya, Bunda.

Adapun beberapa makanan kaya zat besi, di antaranya hati; daging merah, termasuk sapi, dan domba; makanan laut seperti tiram, kerang, tuna, salmon, udang dan lainnya; kacang, termasuk kedelai dan lentil; biji-bijian yang diperkaya zat besi seperti sereal, roti. Selain itu, sayuran hijau termasuk bayam dan kale; tahu; sayuran seperti brokoli, asparagus, selada air; ayam; dan kuning telur.

Bunda, simak juga yuk manfaat makan buah naga yang kaya akan vitamin untuk anak dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!