sign up SIGN UP search


parenting

5 Gaya Pola Asuh Generasi Milenial, Apakah Bunda Juga Menerapkannya?

Kinan Selasa, 26 Jan 2021 18:41 WIB
Happy family with kid playing together, caring mom and dad smiling teaching little daughter to draw with color pencils, mother and father having fun with cute child help in creative weekend activity caption

Tiap orang tua memiliki gaya pola asuh masing-masing, bergantung pada faktor budaya, ekonomi serta lingkungan. Namun demikian, generasi milenial punya ciri khasnya sendiri, lho.

Dikutip dari data penelitian sosial dan demografi Pew Research Center, generasi milenial memiliki rentang usia saat ini rata-rata 24-39 tahun. Mengikuti perkembangan dan teknologi yang kian pesat, pola asuh orang tua generasi milenial pun beradaptasi.

Menurut penulis buku The Unfinished Revolution: Coming of Age in a New Era of Gender, Work, and Family, sosiolog Kathleen Gerson, perkembangan zaman memang membawa peran besar dalam pengasuhan keluarga. Termasuk pada generasi milenial.


"Salah satunya yakni sudah jadi pemandangan biasa jika kedua orang tua bekerja dan anak di rumah bersama pengasuh," tutur Gerson.

Selain itu, apa lagi ya pola asuh orang tua generasi milenial yang kini banyak diterapkan? Berikut ulasannya:

1. Terbiasa mengatur dan membuat jadwal

Dibandingkan anak-anak generasi sebelumnya, anak dari generasi milenial memiliki aktivitas harian yang lebih padat dan terjadwal. Kondisi ini biasanya lebih banyak diterapkan oleh orang tua yang sama-sama bekerja.

Supaya pengaturan waktu bermain dan belajar anak lebih teratur, orang tua generasi milenial pun terbiasa membuat jadwal.

Misalnya, sepulang sekolah anak diberi waktu istirahat, kemudian dilanjutkan dengan kursus tambahan. Selain untuk efisiensi waktu, pengaturan jadwal dan aktivitas ini juga diharapkan bisa jadi 'bekal' anak bersaing di masa depan.

2. Serba media sosial

Saat ini perkembangan teknologi membuat penggunaan gadget jadi semakin marak, termasuk untuk bermain media sosial. Dikutip dari Very Well Family, saat ini orang tua generasi milenial bahkan sudah biasa membagikan berbagai aktivitas anak-anaknya di media sosial.

Mulai dari aktivitas saat bermain, belajar, dan kegiatan sehari-hari lainnya. Tak jarang jika bisa muncul persaingan di media sosial dan memicu perdebatan antara orang tua.

Ya, jika tidak digunakan dengan tepat, media sosial justru bisa membawa dampak buruk bagi pola asuh. Orang tua yang tak mau kalah dan merasa tersaingi cenderung akan memaksa anak untuk bisa meraih apa yang diinginkannya. Hati-hati hal ini bisa mengganggu psikis anak, lho.

3. Memilih nama yang unik untuk anak

Anak-anak dari generasi sebelumnya, yakni generasi baby boomers, rata-rata memiliki nama yang sangat umum dan hampir sama. Saat itu, pemilihan nama belum menjadi hal yang terlalu dipikirkan.

Nah, para generasi milenial cenderung ingin anak-anaknya memiliki nama yang berbeda dari umumnya. Hal ini pun membuat mereka memiliki nama yang unik dan bahkan sangat jarang digunakan.

Termasuk seperti nama warna, nama bunga, nama planet, dan istilah-istilah tak umum lainnya. Semakin berbeda, orang tua generasi milenial akan semakin bangga.

4. Punya banyak sumber saran tentang pola asuh

Lagi-lagi kemajuan teknologi membawa dampak bagi pola asuh generasi milenial. Ya, saat ini internet, aplikasi pesan teks dan media sosial sudah sangat mudah diakses. Berbagai informasi, termasuk tentang pola asuh anak, tersedia hampir setiap waktu.

Informasi yang bisa didapat orang tua misalnya tentang penyakit anak, resep makanan pendamping ASI (MPASI), tips parenting, hingga bank nama bayi.

Jika generasi sebelumnya sulit mendapatkan informasi tentang hal-hal ini, orang tua generasi milenial justru punya banyak sumber yang dianggap terpercaya.

5. Kerja sama antara suami dan istri

Beberapa studi menyebutkan bahwa para ayah generasi milenial kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, dibandingkan generasi sebelumnya. Jadi, tugas mengasuh anak makin dirasakan bukan lagi milik Bunda saja.

“Kebanyakan suami dan istri kini mau berbagi tugas tentang pola asuh anak. Ini penting karena pada dasarnya anak memang butuh mendapatkan sosok ayah, bukan ibu saja," tutur sosiolog University of California, Sarah Thébaud, dikutip dari NY Times.

Kelola penggunaan gadget bagi ortu generasi milenial

Seperti disebutkan sebelumnya, saat ini teknologi sudah semakin berkembang. Orang tua generasi milenial pun bisa lebih mudah memanfaatkan hal ini untuk mendapat informasi terkait pengasuhan anak. Tapi, jangan sampai penggunaan gadget justru jadi berlebihan dan tak terkendali, ya.

Hal ini dikhawatirkan justru dapat mengurangi bonding dengan keluarga, khususnya anak. Misalnya saat sedang berkumpul bersama di rumah, orang tua justru masing-masing sibuk dengan gadget hingga mengabaikan anak. Hati-hati nantinya anak justru juga bertindak demikian.

Maka dari itu, atur penggunaan jadwal supaya lebih efisien. Hindari dulu bermain gadget saat sedang santai rumah dan maksimalkan quality time bersama keluarga ya, Bunda.

Simak juga kisah sukses petani milenial dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



 

(som/som)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!