sign up SIGN UP search


parenting

Si Kecil Sembelit? Jangan Panik Bun! Kenali Penyebab & Cara Atasinya

Jihaan Khoirunnisaa Rabu, 24 Mar 2021 20:07 WIB
Anissa Aziza caption
Jakarta -

Sembelit tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak. Biasanya sembelit terjadi pada anak yang baru mengenal MPASI dan baru saja dilatih untuk menggunakan toilet. Namun, sembelit pada anak ini bersifat sementara dan bisa diobati, Bun.

Terkait sembelit, dr. Wulan Patricia Telew, Sp. A, mengatakan normalnya BAB pada anak memiliki tekstur yang tidak terlalu keras. Jadi, apabila anak BAB-nya cenderung lebih keras dari biasanya maka sudah termasuk konstipasi atau sembelit. Selain itu, sembelit umumnya ditandai dengan frekuensi BAB yang berkurang.

"Secara spesifik sembelit ini bisa terjadi dalam beberapa periode tertentu. Kapan kita bisa mengatakan anak kita sembelit jika perlangsungan nya terjadi lebih dari 2 minggu. Disertai dengan perubahan tekstur dari kotorannya. Jadi contohnya gini kalau anak kita mungkin 3-4 hari tidak BAB sama sekali. Tapi begitu dia BAB bentuk kotorannya tetap lembek, tidak mengeras, berarti itu tidak masuk dalam kategori (sembelit)," tuturnya saat menjadi narasumber di Webinar bertajuk 'Mengetahui dan Mengatasi Sembelit Pada Anak' bersama Haibunda dengan LeMinerale, yang digelar secara daring, Rabu (24/3/2021).


Banner Tanaman Hias untuk Bisnis Rumahan

dr. Wulan menjelaskan saat mengalami sembelit, biasanya anak-anak jadi lebih rewel dan sering menangis. Hal ini sebagai ungkapan dari rasa ketidaknyamanan yang dirasakan. Sebab, anak usia di bawah 5 tahun umumnya belum dapat mengatakan secara langsung apa yang dia alami kepada orang tua.

"Anak jadi rewel, apalagi untuk anak usia di bawah 5 tahun. Anak belum bisa mengkomunikasikan apa sebenarnya yang dialami. Jadi rewel bisa jadi salah satu tanda anak kita mengalami sembelit," tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Wulan menyebut ada beragam faktor yang bisa memicu terjadinya sembelit pada anak, salah satunya perubahan pola makan. Bayi yang awalnya hanya menerima cairan berupa air susu ibu (ASI), bisa saja mengalami kaget saat baru diperkenalkan dengan makanan padat lewat pemberian MPASI.

"Faktor penyebab sembelit itu banyak, mulai dari perilaku aktivitas anak, kemudian pola diet. Terutama ada periode waktu yang menyebabkan anak mengalami sembelit. Seperti saat pengenalan MPASI. Karena sistem pencernaan anak kan mulai beradaptasi. Dari awal hanya menerima cairan berupa ASI, susu formula, sekarang diperkenalkan dengan makanan padat lewat MPASI," terangnya.

Anissa AzizaAnissa Aziza/ Foto: HaiBunda

Selain itu, susu formula juga bisa menyebabkan anak mengalami sembelit karena memiliki komposisi yang berbeda dengan ASI. Atau, karena anak kurang bergerak terlebih di masa pandemi yang membatasi aktivitas anak di luar rumah. Sebab, aktivitas fisik disebut dapat menjaga fungsi usus anak.

Namun di samping itu, menurut dr. Wulan ada faktor penting yang perlu menjadi perhatian Bunda, yakni konsumsi harian serat. Dia mengatakan, serat merupakan salah satu nutrisi yang krusial karena berperan dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan anak. Serat bisa diperoleh dari sayur dan buah-buahan. Selain itu, bisa juga didapat dari camilan seperti agar-agar.

Selain itu, penting juga bagi orang tua untuk tidak melupakan asupan cairan tubuh anak. Sebab, hampir seluruh komposisi tubuh manusia terdiri dari cairan, mulai dari bayi sampai orang dewasa. Oleh karena itu, kekurangan cairan bisa menyebabkan gangguan pencernaan, seperti konstipasi atau sembelit

"Dari bayi sampai dewasa itu hampir 65 sampai 80 persen (tubuh) terdiri dari cairan. Jadi cairan ini benar-benar sangat penting di dalam proses metabolisme tubuh. Kekurangan cairan yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan, salah satunya sembelit," tuturnya.

Apabila anak sudah terlanjut mengalami sembelit, Bunda nggak perlu panik. Langkah pertama yang bisa dilakukan, yaitu dengan memberikan obat untuk melunakkan feses anak. Kemudian, pastikan konsumsi serat dan cairan anak tercukupi. Hal ini agar sembelit bisa segera teratasi dan tidak terulang kembali, Bun.

Kendati demikian, dr. Wulan berpesan agar orang tua tidak sembarangan dalam memilih air mineral untuk memenuhi kebutuhan cairan anak. Dia menilai, air yang kaya akan kandungan elektrolit dan mineral lebih baik. Pasalnya, zat seperti natrium, magnesium, dan fosfor dapat membantu sel-sel tubuh bekerja secara optimal.

"Kita memilih air mineral dengan kandungan lengkap. Ada berbagai macam elektrolit maupun mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti natrium, kalium, klorida. Dan komponen mineral lainnya seperti magnesium, fosfor," pungkasnya.

"Kita juga harus melihat bagaimana kemasan air mineral itu sendiri. Pilih yang kemasannya benar-benar tersegel rapat, tutupnya kedap udara. Supaya menjaga jangan sampai air mineral di dalam kemasan terkontaminasi," imbuhnya.

Sebagai informasi, webinar dengan tema 'Mengetahui dan Mengatasi Sembelit Pada Anak' merupakan acara kerja sama Haibunda dengan LeMinerale. Dalam acara ini, turut hadir Anissa Aziza, seorang mom influencer yang membagikan pengalamannya dalam mengatasi masalah sembelit pada anak.

(akn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi