PARENTING
10 Cara Berbicara tentang Seks kepada Anak Remaja, Tidak Bisa Asal Ada Caranya Bun
Kinan | HaiBunda
Kamis, 04 Jul 2024 21:30 WIBMembicarakan tentang seks pada anak remaja perlu dilakukan dengan tepat agar tidak canggung. Nah, bagaimana contoh strategi yang dapat diterapkan Bunda di rumah?
Sebelumnya, perlu dipahami benar bahwa topik seks merupakan salah satu diskusi paling penting dan berpengaruh yang dapat orang tua lakukan dengan anak. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam melakukan pendekatan saat ingin bicara tentang seks dengan anak.
Pastikan anak paham dengan benar tak hanya tentang seksualitas, tetapi juga bagaimana membuat keputusan yang sehat dan aman mengenai seks.
Dikutip dari Parent and Teen, penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang berbicara terbuka tentang seksualitas memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seksual anak seiring pertumbuhannya.
Hal ini mungkin terasa canggung, tetapi pendidikan seks adalah salah satu tugas penting orang tua. Dengan membuka pembicaraan sejak dini dan sering, Bunda turut membantu menyiapkan anak tentang kesehatan seksual yang tepat.
10 cara berbicara tentang seks pada anak remaja
Lalu seperti apa saja strategi dan cara berbicara tentang seks yang dapat diterapkan orang tua pada anak remaja? Berikut ulasannya seperti dilansir berbagai sumber:
1. Merasa nyaman dengan diri sendiri
Tingkat kenyamanan setiap orang berbeda-beda dalam membicarakan masalah kesehatan seksual. Tidak apa-apa bagi jika Bunda mengakui bahwa membicarakan seks itu canggung, tapi pahami bahwa ini penting bagi pengetahuan dan kehidupan anak.
Semakin orang tua merasa nyaman dan bersikap terbuka terhadap topik ini, besar kemungkinan anak juga tidak canggung saat membicarakannya. Ingatlah juga bahwa seks dan seksualitas mencakup berbagai macam masalah.
Tidak apa-apa jika Bunda kemudian memutuskan untuk mengajak anak ikut kelas tertentu, yang melibatkan para profesional, untuk menambah pengetahuannya di luar tingkat kenyamanan Bunda.
2. Mulailah berbicara lebih awal
Orang tua perlu mulai berbicara dengan anak sejak dini dan menjaga topik ini tetap berjalan. Bahkan anak kecil pun perlu belajar tentang harga diri, sentuhan yang boleh atau tidak dilakukan, dan pemahaman tentang perasaan dan batasan orang lain.
Ketika topik-topik ini terasa seperti bagian penting dari nilai-nilai yang rutin Bunda diskusikan, akan lebih mudah untuk membicarakannya saat anak memasuki masa pubertas dan perasaan seksual mulai muncul.
3. Perhatikan lingkungan sekitar anak
Ada banyak tempat di mana anak remaja dapat belajar tentang seks atau detail pubertas, termasuk dari kelas kesehatan, buku, dan internet. Bunda pun perlu memastikan mereka mempelajari nilai-nilai seputar seksualitas yang sehat dari orang tua dan keluarga.
Jika Bunda tidak membahas topik-topik ini, anak akan menyerap nilai-nilai tentang seks hanya dari internet, televisi, dan musik. Dalam skenario terburuk, mereka mungkin akan mencari tahu dari situs-situs berbahaya di internet.
4. Tetap saling menghormati
Pada dasarnya remaja menghargai bimbingan orang dewasa, maka dari itu kebijaksanaan orang tua sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda menuju masa depan yang sukses.
Pengetahuan ini sangat penting dalam membantu orang tua membentuk percakapan tentang seks dan seksualitas yang tepat, tetap dengan saling menghormati dan tanpa perlu menghakimi.
5. Dengarkan pendapatnya
Cara berbicara tentang seks pada anak remaja berikutnya yakni mau mendengarkan pendapatnya, serta apa yang ia sudah ketahui tentang seksualitas.
Semakin mereka memercayai orang tua, semakin Bunda bisa membimbing mereka menuju solusi yang sesuai dengan perkembangannya terkait seks.
Mau mendengarkan anak remaja adalah salah satu kunci untuk membuat mereka mau terbuka dan berdiskusi tanpa canggung. Terkadang, semakin sedikit kata-kata yang keluar dari mulut Bunda berarti semakin banyak kata-kata yang keluar dari mulut anak.
Jika anak mengajukan pertanyaan, tanyakan apa yang sudah mereka ketahui atau dengar tentang topik tersebut. Ambil sikap mendengarkan yang tidak menghakimi.
6. Jangan membuat asumsi sendiri
Jangan berasumsi bahwa hanya karena dunia bergerak begitu cepat, generasi muda mengetahui atau mendengar semuanya.
Seksualitas sangat penting dan anak-anak berhak mendapatkan informasi akurat yang disampaikan dengan jelas dan mendalami nilai-nilai perlindungan diri, terutama dari orang tua.
Ingatlah bahwa anak remaja mungkin mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi atau klarifikasi yang dapat dipercaya. Penting bagi mereka untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Hindari langsung membuat asumsi buruk saat anak bertanya. Jika ada sesuatu yang tampak tidak jelas, mintalah klarifikasi lebih lanjut dan bersiaplah untuk mengulangi dan menyusun ulang informasi dengan cara yang dapat anak pahami dengan lebih baik.
7. Gunakan media sebagai momen pembelajaran
Ada banyak topik tentang seksualitas tersedia di berbagai media saat ini. Meskipun hal ini mungkin 'mengganggu' orang tua, tapi tetap dapat bermanfaat jika dilihat dari segi pembelajaran.
Acara televisi, film, website, buku dan majalah dapat menjadi batu loncatan untuk mendidik para generasi muda tentang seksualitas. Namun, karena alur cerita yang ditampilkan adalah tentang orang lain selain diri mereka sendiri, anak mungkin akan lebih sering bertanya atau menjawab pertanyaan.
Topik-topik yang mudah ditemukan antara lain dari mana bayi berasal, ketertarikan dengan lawan jenis, putus cinta, apa itu cinta, kehamilan, infeksi menular seksual, dan perubahan tubuh selama masa pubertas.
8. Jangan lupa bahas tentang kekerasan
Dikutip dari Mayo Clinic, penting juga untuk berdiskusi tentang kekerasan fisik atau seksual saat menjalin hubungan percintaan. Maka dari itu, penting untuk menyampaikan tentang hal ini kepada anak remaja Bunda.
Waspadai tanda-tanda peringatan kekerasan dalam hubungan percintaan seperti penggunaan alkohol atau narkoba, menjauh dari teman dan acara sosial, bertingkah takut di sekitar pasangan, hilangnya minat terhadap sekolah atau aktivitas yang dulunya menyenangkan.
Perhatikan juga tanda-tanda yang tampak lainnya seperti ada memar, goresan, atau cedera yang mencurigakan.
Remaja yang terjebak dalam hubungan yang penuh kekerasan memiliki risiko lebih tinggi terkena dampak jangka panjang. Termasuk nilai akademik yang buruk, penyalahgunaan minuman beralkohol, dan depresi.
9. Pikirkan tentang sudut pandang anak remaja
Pembicaraan yang tegas dan terkesan menakut-nakuti dapat membuat anak merasa tidak nyaman untuk meneruskan diskusi.
Sebaliknya, dengarkan pendapat yang disampaikan oleh anak secara baik-baik. Pahami juga tekanan, tantangan, dan kekhawatiran yang mereka miliki.
10. Pastikan anak tetap nyaman
Anak remaja memang perlu mengetahui fakta tentang seks. Namun membicarakan perasaan, sikap, dan nilai-nilai juga sama pentingnya. Remaja lebih mungkin mengadopsi nilai-nilai kekeluargaan ketika mereka memahami orang tuanya dan merasa dipahami oleh mereka.
Selain berbicara tentang risiko akibat kesalahan pengambilan keputusan terkait kesehatan seksual, berikan contoh dan ungkapkan nilai hubungan dan pilihan yang sehat.
Beri tahu anak bahwa tidak apa-apa membicarakan seks dengan Bunda ketika ada pertanyaan atau kekhawatiran yang muncul dalam benaknya. Jangan lupa tutup pembicaraan bersama anak dengan mengatakan kalimat seperti: "Bunda senang kamu mau terbuka dan mengobrol tentang hal ini."
Demikian ulasan tentang berbagai cara berbicara tentang seks pada anak remaja. Ingat, Bunda juga bisa meminta bantuan profesional jika merasa kesulitan memulai topik penting ini bersama anak. Hal yang penting, pastikan anak dibekali dengan nilai positif terkait kesehatan seks, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Tips Edukasi Seks pada Anak Sejak Dini, Simak Bun
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
9 Cara Mengatasi Kenakalan Remaja dengan Bijak, Efektif, dan Tanpa Kekerasan
Krisis Identitas Rentan Terjadi pada Anak Remaja, Ini Penyebab dan Cara Menghadapinya
5 Cara Menyelesaikan Konflik Anak Remaja dengan Orang Tua
5 Ciri Growth Spurt pada Remaja, Perhatikan Ukuran Kaki hingga Nasfu Makan
TERPOPULER
Ini Dia Negara Paling Jujur dan Paling Tidak Jujur di Dunia, Indonesia Masuk Mana?
Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?
Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker
Darah Haid Menggumpal seperti Daging Hati Ayam, Apakah Normal?
4 Kode Warna dan Abjad Nutri-Level di Produk Pangan Olahan
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Merek Bantal Anti Peyang, Pilih yang Terbaik untuk Si Kecil!
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kartu Ucapan Kelahiran Aesthetic untuk Bayi Perempuan & Laki-laki
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kasur Lantai Lipat Terbaik, Ada yang Orthopedic
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Cuaca Panas Bikin Rambut Cepat Lepek? Ini 7 Produk Perawatan Rambut yang Wajib Dicoba
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Outfit Hijab untuk Ibu Hamil, Nyaman Dipakai dan Tetap Stylish
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa
Bayi Minum ASI Banyak Hari Ini tapi Besok Sedikit, Normalkah?
5 Potret Andy /rif Bersama Kedua Putranya, Beda Postur Tubuh Ayah-Anak Jadi Sorotan
Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?
Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Ke Manila untuk Urusan Kerja? Kenali Dulu Beda Menginap di Quezon City atau Ortigas
-
Beautynesia
7 Kebiasaan yang Bisa Memicu Kulit Wajah Breakout
-
Female Daily
Sulwhasoo Luncurkan First Care Activating Serum Mist, Skin Reset 3 Detik yang Bisa Dibawa Ke Mana Saja!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Couple Look Zendaya & Tom Holland di Premier Spider-Man: Brand New Day
-
Mommies Daily
10 Tempat Sarapan di Jakarta yang Jadi Favorit Keluarga, Enak dan Ramah Anak