PARENTING
Terbukti, Ini Cara Efektif Bilang "Tidak" ke Anak agar Didengar
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Senin, 03 Nov 2025 09:10 WIBBunda pernah merasa susah untuk bilang "tidak" ke anak karena takut mereka marah atau sedih? Tenang, hal ini wajar dan sebenarnya bisa diatasi dengan cara yang tepat.
Menetapkan batasan memang penting, tapi menyampaikan "tidak" tak cukup hanya dengan satu kata saja. Cara Bunda berkata akan menentukan apakah anak benar-benar mendengar atau tidak.
Menurut seorang terapis anak bersertifikat (Certified Child Life Specialist/CCLS), Kelsey Mora mengatakan bahwa kata "tidak" seharusnya dapat membuat anak merasa aman, didukung, dan dipahami, Bunda.
"Sebagai spesialis kehidupan anak bersertifikat dan terapis berlisensi, saya tahu bahwa mengatakan "tidak" dimaksudkan untuk membantu anak-anak merasa aman, didukung, dan dipahami," kata Kelsey Mora, dikutip dari laman CNBC Make It.
Lantas, bagaimana cara mengatakan "tidak" dengan tepat supaya didengar oleh anak?
Cara efektif bilang "tidak" ke anak agar didengar
Simak cara yang efektif mengatakan "tidak" supaya didengar oleh anak seperti dikutip berbagai sumber:
1. Mengubah kata "tidak" jadi cara mengajarkan anak
Alih-alih sekadar berkata "tidak", Bunda bisa menjadikan momen itu sebagai kesempatan untuk mengajarkan anak. Kalau Bunda hanya bilang "tidak" atau "berhenti" tanpa penjelasan, anak bisa merasa bingung atau ragu.
Misalnya saja, Bunda bisa berkata, "tidak boleh naik sepeda tanpa helm". Contoh lainnya, "tidak aman naik sepeda tanpa helm, jadi sepedamu akan saya simpan dulu".
Dengan cara ini, anak akan mengerti bahwa begitu memakai helm, mereka bisa bermain sepeda dengan aman. Dengan begitu, kata "tidak" menjadi sarana belajar anak, bukan hanya karena larangan saja, Bunda.
2. Ajari anak mengerti alasan di balik kata "tidak"
Anak-anak ingin tahu alasannya ketika diberi batasan, Bunda. Batasan akan lebih efektif kalau mereka bisa memahaminya. Kelsey Mora mengatakan selalu menerapkan batasan yang berkaitan dengan keamanan dan kebaikan pada kedua anaknya.
"Dengan kedua anak saya yang masih kecil, saya selalu menerapkan batasan yang berkaitan dengan keamanan dan kebaikan. Ini membantu saya untuk selalu mengingat kapan dan mengapa saya mengatakan "tidak", dan apakah batasan tertentu bisa dinegosiasikan atau tidak," katanya.
Misalnya, saat anak meminta digendong atau dipeluk saat Bunda mengemudi, Bunda bisa mengatakan, "Aku tidak bisa memegang tanganmu sekarang karena itu tidak aman, tapi begitu sampai rumah, aku bisa memelukmu".
Meskipun jawabannya tetap "tidak", anak akan tetap merasakan perhatian dan rasa aman dari Bunda. Saat mereka memahami alasan di baliknya, mereka lebih mudah menerima batasan meski tidak menyukainya.
3. Memberi anak pilihan di tengah batasan
Ketika anak mendengar kata "tidak", mereka kerap merasa kehilangan kendali dan kebebasannya. Hal ini wajar karena mereka sedang mencoba membentuk dirinya sendiri.
Bunda bisa membuat batasan dengan pilihan yang masih aman dan masuk akal. Misalnya saja, "sekarang kita tidak bisa ke taman, tapi kamu bisa pilih bermain di halaman belakang atau ruang bawah tanah,".
Atau Bunda bisa juga memberi opsi lain, seperti, "pilih satu kegiatan lagi sebelum kita pergi," supaya anak tetap merasa punya suara. Jika anak kesulitan memutuskan, Bunda bisa menawarkan, "kamu pilih sendiri atau Bunda yang pilihkan untukmu?".
Dengan begitu, anak akan merasa berdaya karena tetap bisa membuat pilihan di dalam batasan yang sudah Bunda tetapkan sebelumnya.
4. Pentingnya konsistensi dan batasan dari Bunda
Balita sering membuat Bunda kewalahan saat diberi batasan, dan perilaku ini tidak langsung hilang setelah mereka tumbuh. Meski begitu, Bunda, hal ini justru menunjukkan bahwa anak berkembang dengan sehat.
Anak-anak belajar tentang apa yang aman dan tidak dari batasan mereka. Jika batasan sering berubah, mereka akan kebingungan dan berusaha lebih keras lagi.
Sebagai orang tua, Bunda perlu selalu bersikap konsisten, tenang, dan jelas saat menetapkan aturan, bahkan saat anak sedang marah atau menolak sesuatu.
5. Ajari anak dengan menjelaskan reaksi kita
Kadang, Bunda bisa spontan berkata "tidak!" saat sedang panik atau khawatir. Reaksi seperti ini wajar, tapi perlu juga untuk memberikan penjelasan setelahnya.
Misalnya, saat anak menarik kalung yang ingin putus, Bunda bisa memberinya penjelasan, "Aku khawatir kalung itu akan rusak. Kalung ini penting dan butuh biaya untuk diperbaiki".
Anak pun akan memahami dan bisa meminta maaf, seperti, "Maaf Bunda, itu tidak sengaja, aku tidak akan mengulanginya lagi". Dengan memperbaiki reaksi dan menjelaskan alasan di baliknya, anak akan belajar tentang tanggung jawab dan empati.
6. Tetap teguh dengan aturan saat anak bertumbuh
Seiring anak tumbuh, batasan mungkin terlihat berbeda, tapi maksudnya tetap sama. Pesan inti yang Bunda sampaikan harus konsisten meski cara penyampaiannya bisa saja berubah.
Contohnya, menolak ajakan anak pergi ke taman sepulang sekolah bisa dijelaskan dengan, "Aku mengerti, tapi hari ini kita sudah ada rencana lain". Begitu juga saat mengakhiri kegiatan, Bunda bisa berkata, "kita sudah selesai sekarang," atau "saatnya pulang,".
Lebih lanjut, Bunda juga bisa mengakui perasaan anak sambil tetap bersikap tegas, misalnya, "tidak apa-apa kalau kesal, tapi itu tidak akan mengubah rencana. Aku tetap di sini bersamamu".
Dengan cara ini, anak belajar kalau batasan dan kasih sayang itu bisa berjalan beriringan, Bunda. Pelajaran ini pun akan berguna bagi mereka di setiap tahap kehidupannya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Cara Mengatasi Rasa Bersalah Orang Tua pada Si Kecil Menurut Ahli
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Anak Terlalu Ramah pada Orang Asing, Berbahaya atau Tidak?
Sindrom Anak Tengah: Saat Muncul Krisis Identitas dan Cari Perhatian
Bunda Perlu Tahu, Cara Tepat Mendidik Anak Agar Senang Berbagi Sejak Dini
Bunda Perlu Tahu, Cara Tepat Mendidik dan Menghadapi Anak Pemalu
TERPOPULER
Studi Temukan Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran Berulang
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Besar Hanya Besok, Bun!
Percantik Rumah dengan Sprei Cantik, Buruan Dapatkan di Transmart Bun
9 Cara Mengenali Orang Berbohong atau Tidak Menurut Penelitian
Momen Natasha Rizki & Desta Bersama Anak, Terbaru Rayakan Ultah Megumi
REKOMENDASI PRODUK
26 Rekomendasi Merek Sepatu Terkenal Branded Asal Indonesia & Luar Negeri, Bagus & Awet
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sikat Gigi Anak 1 Tahun ke Atas, Bisa Jadi Pilihan Bunda
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Micellar Water untuk Kulit Kering, Bikin Wajah Tetap Lembap
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Snack MPASI Bayi untuk Finger Food & Mudah Dibawa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Ide Menu Siap Saji Lebaran Hemat tapi Tetap "Wah" untuk Keluarga Besar
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Singapura Larang Penggunaan HP di Sekolah, Siswa Kini Lebih Asyik Bermain
Tak hanya Menutrisi, Asam Lemak ASI Juga Bantu Bayi Tidur Lebih Nyenyak
Studi Temukan Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran Berulang
Momen Danang DA Beri Kejutan Hadiah Mobil untuk Istri Dokter
Percantik Rumah dengan Sprei Cantik, Buruan Dapatkan di Transmart Bun
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Video: Wardatina Mawa Nilai Permintaan Maaf Inara Rusli Tidak Spesifik
-
Beautynesia
Hindari Secepatnya, 6 Kebiasaan yang Bikin Otak Cepat Menua Tanpa Disadari
-
Female Daily
Seo In Guk Spill Chemistry dengan Jisoo di Drama Boyfriend on Demand!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Demi Hapus Imej Jahat, Aktor Korea Ini Diet untuk Menggemukkan Badan
-
Mommies Daily
Disney Adventure Berlayar di Singapura! Ini Fasilitas, Kegiatan, dan Daftar Harga Kamar