HaiBunda

PARENTING

Alasan Psikologis Remaja Sering Marah Saat Bicara dengan Orang Tua

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Rabu, 18 Feb 2026 18:50 WIB
Anak mudah marah saat beranjak besar/ Foto: Getty Images/Prostock-Studio

Bunda, pernahkah merasa ketika anak tumbuh dewasa, mereka cenderung lebih cepat marah dan emosi? Mungkin kondisi psikologis inilah yang menjadi penyebab mengapa anak bisa menjadi lebih emosional. 

Seiring berjalannya waktu, anak akan lebih memahami emosi yang tersimpan dalam dirinya. Begitupun mereka akan lebih peka terhadap apa yang dirasakannya, baik itu sesuatu yang membuatnya nyaman maupun tidak nyaman.

Selain itu, mereka akan mulai memasuki fase di mana diri mereka akan disibukkan dan dipengaruhi oleh berbagai hal. Banyak sekali faktor internal dan eksternal yang menumpuk, dan tanpa sadar membuat anak yang beranjak dewasa sering kali marah saat bicara dengan orang tua.


Fenomena ini tentu menjadi perhatian dalam dunia psikologi, Bunda. Mengutip dari laman Psychology Today, seorang psikolog sekaligus pelatih orang tua, Jeffrey Bernstein Ph.D., merespon fenomena ini berdasarkan temuannya dalam menjadi psikolog selama 30 tahun.

Orang tua menjadi kunci utama

Temuan pertamanya mengungkapkan bahwa anak-anak saat itu hanya akan memahami emosi tanpa tahu cara mengelolanya. Ketika emosi tersebut meledak dan tidak terkendali, mereka hanya tahu kepada siapa pertama kali mengungkapkannya, yaitu orang tua.

Ya, menurut mereka, orang tua merupakan ‘zona aman’ dalam mengungkapkan berbagai hal. Sering kali, anak-anak berpikir bahwa orang tua akan selalu ada di pihak mereka bagaimanapun tingkahnya.

Pola asuh lama yang sudah dibentuk sejak kecil

Seorang anak remaja yang merasa dirinya tidak dimengerti mungkin berakar dari bagaimana pola asuh mereka sejak kecil. Bahkan, dalam keluarga yang sehat pun, bila anak terus mendapat tekanan, mereka akan kewalahan dan merasa tidak ada yang mendukung dan memahaminya.

Anak seringkali bercermin pada orang tua

Terkadang orang tua tanpa sadar menunjukkan kekecewaannya di depan anak-anak mereka. Alam bawah sadar dan otak mereka pun akan merekam perilaku dari orang tuanya. Maka tak heran apabila di kemudian hari anak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan orang tuanya.

Selain dalam literatur ilmiah, sebuah unggahan di media sosial dari seorang ahli pengembangan diri yang bernama Ali, turut membagikan pemikirannya tentang fenomena tersebut. Berikut penjelasannya yang bisa Bunda simak.

Mengapa anak yang beranjak dewasa menjadi mudah marah saat bicara dengan orang tua?

Menurut penuturan Ali, fenomena ini sebenarnya sangat wajar dan memiliki alasan psikologis yang bisa didalami, Bunda. Emosi yang tiba-tiba berubah dan dipenuhi rasa jengkel, tegang, dan marah, bisa jadi itu merupakan respon tubuh mereka versi anak-anak, lho.

Ya, Ali menjelaskan kalau anak yang emosi ketika berbicara dengan orang tuanya, kemungkinan besar itulah respon alam bawah sadar diri mereka saat masih kecil dan saat masih diasuh dengan orang tuanya.

Saat kecil, tubuh mereka banyak merekam segala perlakuan yang diberikan oleh orang tuanya. Bila anak sering mendapat perlakuan negatif, maka emosi yang saat itu tidak bisa disampaikan, akan terpendam dan menjadi gunungan emosi di usia dewasa.

Hal inilah yang membuat emosi anak kerap terasa lebih intens ketika berbicara dengan orang tua, dibandingkan saat berinteraksi dengan orang lain, Bunda.

Apakah emosi yang timbul sebagai tanda kemarahan anak?

Sebenarnya, respon emosi yang muncul tidak selalu menandakan bahwa anak marah terhadap orang tua. Ali menekankan bahwa emosi tersebut muncul karena tubuh mengenali pola emosional lama yang pernah mereka rasakan.

Kemarahan sejatinya bukan ditujukan kepada orang tua, melainkan luapan emosi mereka yang belum tersampaikan saat mereka masih kecil. Bunda harus mengerti bahwa ada bagian dalam diri mereka yang masih merasa tidak aman dan belum sepenuhnya didengar.

Meski kini anak sudah tumbuh dewasa dan menjadi pribadi yang mandiri dan kuat, tetapi tetap saja anak akan masuk ke dalam mode defensif ketika mereka berada dalam lingkungan emosional yang begitu familiar.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Melansir laman First Thing First, orang tua memiliki peran penting agar hubungan yang dibangun tidak menjadi pemicu respons emosional anak saat dewasa. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua.

  • Membangun ruang komunikasi yang aman secara emosional, baik pada anak yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.
  • Membangun batasan yang jelas dan membantu mereka untuk berkembang secara emosional.
  • Menghargai, membimbing, dan aktif dalam setiap keputusan anak.
  • Mengajak mereka untuk bersosialisasi dan membangun hubungan yang sehat dengan teman-teman.
  • Menyesuaikan pola asuh dengan usia anak.
  • Mengatur emosi dan memberikan contoh menangani emosi yang baik kepada anak.
  • Terus cintai mereka meskipun terkadang sifatnya saat ini menyebalkan.
  • Tetap mengatur waktu untuk diri sendiri agar orang tua tidak burn out.

Selain itu, pakar psikologi juga menegaskan bahwa hubungan yang hangat dan saling mengerti secara emosional jauh lebih penting dan efektif daripada sekadar mengatur atau menuntut anak. Dengan begitu, anak akan merasa lebih didengar, dihargai, dan cerdas secara emosi.

Tidak ada orang tua yang sempurna, Bunda. Setiap manusia tentu mempunyai kesempatan untuk meminta maaf, belajar, dan memperbaiki apa yang keliru. Apapun yang dilakukan orang tua akan menjadi langkah besar demi menciptakan hubungan emosional yang lebih baik.

Demikian cara menghadapi anak remaja yang beranjak besar, dan memahami alasan mengapa anak-anak yang sudah semakin besar lebih mudah marah ketika berbicara dengan orang tuanya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Gen Alpha vs Gen Beta, Begini Perbedaan Pola Asuhnya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh Lengkap: Arab, Latin & Artinya

Mom's Life Natasha Ardiah

Dalil tentang Hukum Puasa bagi Pekerja Berat: Bolehkah Tidak Berpuasa karena Pekerjaan?

Mom's Life Arina Yulistara

Gemas, Putri Greysia Polii Menangis Larang Sang Bunda Berhenti Main Bulu Tangkis

Parenting Amira Salsabila

100 Ucapan Ramadhan 2026 dari Kata Selamat Buka Puasa hingga Kartu Hampers

Mom's Life Natasha Ardiah

8 Tanaman yang Mengeluarkan Oksigen saat Malam

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Rekomendasi Film Action untuk Ditonton saat Sahur, Tayang di BLOCKBUSTER SAHUR MOVIES TRANS TV

8 Tanaman yang Mengeluarkan Oksigen saat Malam

100 Ucapan Ramadhan 2026 dari Kata Selamat Buka Puasa hingga Kartu Hampers

Gemas, Putri Greysia Polii Menangis Larang Sang Bunda Berhenti Main Bulu Tangkis

Dalil tentang Hukum Puasa bagi Pekerja Berat: Bolehkah Tidak Berpuasa karena Pekerjaan?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK