PARENTING
7 Kalimat yang Terlihat Baik tapi Justru Bikin Anak Cemas Menurut Psikolog
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Kamis, 29 Jan 2026 16:30 WIBBanyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik seperti lewat kata-kata yang diucap setiap harinya. Ucapan yang lembut kerap dianggap sudah cukup untuk menenangkan hati anak.
Saat Si Kecil sedang cemas, orang tua cenderung ingin segera menghilangkan rasa tidak nyaman itu. Kepedulian pun ditunjukkan lewat kalimat yang terdengar menenangkan.
Sejalan dengan hal ini, para psikolog menyebut dorongan ini berakar dari rasa cinta antara Bunda dan anak. Orang tua ingin menjauhkan anak dari hal yang berpotensi menyakiti.
"Hal itu berasal dari cinta, keterikatan, dan keinginan untuk melindungi mereka dari apa pun yang dapat menyakiti atau menakut-nakuti mereka," kata seorang psikolog di Amerika Serikat, Amy Todey, Ph.D., menilik dari laman Parade.
"Jadi, ketika kita memperingatkan seorang anak, bergegas untuk meyakinkan mereka, atau dengan lembut menjauhkan mereka dari rasa takut atau sedih, itu terasa seperti pengasuhan yang baik. Itu terasa seperti kepedulian," tambahnya.
Meski terdengar baik, kebiasaan ini tidak selalu berdampak positif, Bunda. Anak bisa menangkap pesan bahwa situasi di sekitarnya selalu terlihat berbahaya.
Jika dibiarkan, mereka dapat menjadi kurang berani dalam mencoba hal-hal baru. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk lebih bijak memilih kata.
Kalimat yang terlihat baik tapi bisa bikin anak cemas
Melihat hal ini, adapun kalimat atau ungkapan yang terlihat baik, tapi justru bisa membuat anak cemas. Simak penjelasannya dilansir dari laman Parade.
1. "Hati-hati"
Kalimat ini sering terucap spontan dari orang tua saat melihat anak melakukan sesuatu. Tanpa kita sadari, ungkapan tersebut bisa memberi pesan berbeda pada anak, lho.
Psikolog Todey menjelaskan bahwa kebiasaan ini dimaksudkan untuk melindungi Si Kecil. Namun jika terlalu sering diucapkan, anak bisa memandang lingkungan sekitarnya sebagai sesuatu yang menakutkan.
"Meskipun dimaksudkan sebagai perlindungan, kebiasaan terus-menerus mendengar 'hati-hati' dapat mengajarkan anak bahwa dunia ini penuh dengan bahaya tersembunyi," jelasnya.
Efeknya, mereka bisa tumbuh menjadi anak yang mudah ragu dan takut menghadapi tantangan baru di depannya.
2. "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja"
Ucapan seperti ini kerap terlontar ketika anak terlihat sedang gelisah atau takut. Harapannya, mereka bisa langsung merasa lebih tenang dan aman, bukan begitu, Bunda?
Namun, seorang psikolog asal Amerika Serikat sekaligus penulis buku The Turquoise Butterfly, Dr. Dale Atkins, Ph.D., menyebut bahwa respons tersebut justru bisa bikin anak ragu dengan perasaannya sendiri. Anak pun bisa merasa seolah ia tidak boleh terus merasakan emosi tersebut, Bunda.
"Bagi anak yang sudah merasa khawatir, hal itu mungkin membuat mereka berpikir bahwa mereka harus segera menekan perasaan tersebut," katanya.
"Alih-alih meredakan situasi, hal itu malah bisa membuat mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan perasaan yang masih ada di dalam diri mereka," tambahnya.
3. "Bunda tahu kamu akan berhasil"
Orang tua sering menggunakan kalimat ini untuk menunjukkan dukungan penuh pada kemampuan anak. Namun, tanpa sadar kalimat ini bisa memberikan tekanan yang tak terlihat pada Si Kecil, Bunda.
Anak-anak bisa merasa terbebani karena merasa harus selalu sukses demi memenuhi harapan orang tuanya. Anak jadi cemas membayangkan kalau mereka gagal, nanti orang tuanya akan kecewa.
"Mereka mungkin bertanya pada diri sendiri, 'Bagaimana jika saya tidak berprestasi dengan baik/mengacaukan segalanya?' dan menyimpulkan, 'Maka mereka akan kecewa pada saya,'" ungkap psikolog Atkins.
Daripada fokus pada 'hasil', lebih baik Bunda melihat usaha dan proses yang sudah dijalani anak. Pujian seperti, "Bunda bangga lihat usahamu" terasa jauh lebih berarti.
4. "Bunda bangga sama kamu kalau..."
Ungkapan seperti ini mungkin terdengar tulus dan niatnya memang baik untuk memotivasi anak. Tetapi, kita perlu ingat karena ada makna tersirat yang bisa ditangkap berbeda oleh anak, Bunda.
Memang, tidak ada yang salahnya dengan memuji hasil kerja keras setelah mereka melakukan sesuatu. Namun, kalau pujian itu hanya datang setelah anak berhasil mencapai sesuatu, mereka akan merasa harga dirinya tergantung pada prestasinya saja.
Efeknya, Si Kecil mungkin jadi merasa bahwa kasih sayang Bunda ada syaratnya dan mereka harus selalu tampil sempurna.
5. "Bunda hanya ingin kamu bahagia"
Banyak orang tua yang menganggap kalimat, "Bunda hanya ingin kamu bahagia," sebagai bentuk dukungan supaya anak merasa bebas memilih jalannya sendiri.
Seorang psikolog remaja di Amerika Serikat, Dr. Cameron Caswell, Ph.D., mengatakan bahwa orang tua sering menganggap ungkapan ini 'baik'. Namun, anak kerap merasa tertekan karena harus terlihat ceria supaya tidak mengecewakan harapan Bundanya.
Bicara soal ini, psikolog Caswell menyarankan Bunda untuk mengatakan, "Aku di sini untukmu, apa pun yang terjadi" sebagai gantinya.
"Ini menyampaikan cinta dan dukungan tanpa syarat sekaligus meyakinkan mereka bahwa apa pun yang mereka rasakan atau alami, kami selalu ada untuk mereka," jelasnya.
6. "Kamu adalah seluruh duniaku"
Kasih sayang orang tua begitu besar sehingga Bunda suka mengatakan bahwa Si Kecil adalah segalanya. Ungkapan ini memang terdengar tulus dan sebagai bentuk rasa syukur atas kehadiran mereka.
Menurut psikolog Caswell, kalimat ini sebenarnya bisa memberikan beban yang berat di pundak anak-anak kita, Bunda. Mereka mungkin merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan hidupnya, yang akhirnya memicu rasa cemas.
"Tujuannya adalah untuk menunjukkan betapa berartinya mereka bagi kita, tetapi hal itu memberikan beban emosional yang sangat besar pada anak-anak kita," kata Caswell.
Sebagai gantinya, Bunda bisa mengungkapkan rasa sayang dengan kalimat yang lebih menenangkan seperti, "Bunda sangat sayang sama kamu, dan aku akan selalu ada untukmu,".
7. "Berbuat baiklah"
Kalimat ini sering kita anggap sebagai nasihat sopan yang wajar saja kalau diucapkan kepada anak. Niat kita pasti baik, supaya mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun dan disukai banyak orang.
Namun, anak bisa mengartikan bahwa kalimat itu sebagai keharusan untuk selalu 'sempurna' di mata orang tuanya. Mereka merasa nilainya sebagai manusia hanya diukur dari seberapa baik sikapnya setiap saat.
Itulah berbagai kalimat yang terlihat baik, tetapi justru bisa membuat anak cemas menurut psikolog. Semoga bisa membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)