PARENTING
3 Alasan Anak Sering Kehilangan Krisis Kepercayaan Diri saat Beranjak Remaja
Indah Ramadhani | HaiBunda
Kamis, 09 Apr 2026 14:40 WIBPernahkah Bunda merasa anak yang beranjak remaja mulai merasa minder, tidak pede, atau sering membandingkan diri dengan teman lainnya? Mungkin saja itu merupakan tanda anak sedang ada di fase krisis identitas, Bunda.
Anak yang mulai memasuki masa remaja biasanya lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan dan teman sebayanya. Di masa ini, anak mulai mengenal banyak hal dan sering kali ingin bersaing. Karenanya, anak cenderung ingin selalu terlihat lebih unggul, Bunda.
Namun, sikap tersebut kadang membuat anak jadi kehilangan jati diri karena terlalu ingin bersaing dengan orang lain, Bunda. Akibatnya anak menjadi insecure, merasa tidak sebanding, tidak percaya diri, hingga suka menganggap rendah diri sendiri.
Di sinilah pentingnya peran orang tua untuk menjaga kondisi emosionalnya agar anak tidak mudah cemas dan berpikir berlebihan. Bunda juga perlu tahu apa saja alasan yang dapat memicu anak alami krisis identitas. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Respons mental yang sering terjadi pada anak menjelang ABG
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah psikolog anak mengamati berbagai respons mental pada anak yang mulai memasuki usia remaja. Hasilnya, mereka menemukan bahwa sebagian besar respons berkaitan dengan stres pasca-trauma, tahap perkembangan anak, serta pengalaman traumatis.
Melansir dari laman University of Southern Denmark, SDU, berikut ini beberapa respons mental yang sering dialami anak menjelang remaja, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah psikologi anak.
1. Takut berpisah dengan orang tua
Biasanya, setelah mereka mengalami kejadian tertentu atau yang membuatnya trauma, anak akan merasa lebih cemas bila harus jauh dari orang tuanya. Nantinya anak jadi ingin selalu ditemani Bunda atau Ayah, bahkan tak segan untuk menolak pergi ke sekolah.
2. Anak lebih bergantung dengan orang dewasa
Saat anak merasa sedih atau tidak aman, anak yang beranjak remaja sering kembali bersikap layaknya anak kecil, Bunda. Misalnya, ingin selalu ditemani kemana pun, meminta bantuan untuk hal-hal yang sederhana, atau menunjukkan sikap manja yang sudah hilang sebelumnya.
3. Suasana hati mudah berubah (mood swing)
Terkadang anak dapat terlihat baik-baik saja, bahkan bermain seperti biasa dengan orang tua. Namun, sesaat kemudian, anak bisa tiba-tiba merasa sedih, mudah marah, atau tersinggung. Emosi yang naik turun ini mudah memunculkan konflik, terutama dengan teman.
4. Merasa kesulitan di sekolah
Pikiran yang terus terganggu membuat anak sulit fokus untuk belajar, Bunda. Mereka akan mudah lupa, sering melamun, dan merasa cepat lelah. Hal ini tentunya dapat berdampak pada aktivitas serta hasil belajarnya di sekolah.
5. Menarik diri dari lingkungan
Beberapa anak yang beranjak remaja lebih suka menjauh dari orang lain. Kepribadiannya akan menjadi pendiam, murung, atau kehilangan minat pada kegiatan yang disukai sebelumnya. Bisa jadi ini karena anak mempunyai perasaan yang sulit diungkapkan dan tertahan, Bunda.
6. Merasa diasingkan dan sendirian
Anak akan merasa berbeda dari teman-temannya, terutama ketika teman di sekitarnya tidak memahami apa yang sedang dialaminya. Ketika lingkungan tersebut cenderung menghindarinya, anak akan merasa semakin kesepian dan terpojok.
7. Muncul rasa khawatir yang berlebihan
Anak yang beranjak remaja cenderung lebih sering memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak menjadi perhatiannya. Misalnya, anak akan mengkhawatirkan kesehatan orang tua, takut nanti terjadi kecelakaan, atau takut tidak sukses di sekolah dan mendapat nilai buruk.
Alasan anak yang mulai ABG mengalami krisis identitas
Perbedaan pencapaian dan lingkungan sosial menjadi salah satu dari sekian alasan mengapa anak merasa kurang percaya diri. Namun, terdapat beberapa alasan lain yang bahkan sampai memicu anak alami krisis identitas. Berikut penjelasannya yang dilansir dari laman Psychology Today, Bunda.
1. Terbiasa membandingkan diri dengan orang lain
Saat ini paparan media sosial semakin meningkat pada anak usia sekolah, yakni sekitar 8 sampai 12 tahun. Tak sedikit dari mereka yang sudah mengerti mengunggah, berteman, atau bahkan membagikan momen-momen bahagia di akun media sosialnya.
Anak tentunya akan melihat foto atau video kehidupan teman-temannya yang terlihat begitu menyenangkan, seperti liburan, koleksi mainan, hingga prestasi. Tanpa sadar, anak jadi sering membandingkan diri, mulai dari pencapaian, kehidupan, hingga jumlah like dan komentar.
Kemajuan teknologi yang begitu pesat kini membuat anak jadi lebih sering menghabiskan waktu di depan layar daripada bermain dan berimajinasi, Bunda. Akibatnya, anak jadi lebih mudah overthinking, tidak percaya diri, dan sulit merasa puas dengan dirinya sendiri.
2. Merasa kesepian dan tidak merasa aman
Masih berhubungan dengan era digital, kini banyak anak yang mudah terhubung dengan teman melalui chat atau media sosial. Namun, interaksi yang dibangun melalui layar gadget tak jarang membuat hubungan terasa kurang dekat.
Nantinya, anak akan merasa lebih kesepian dan merasa jauh dengan temannya. Selain itu, anak juga merasa tidak mempunyai tempat yang aman untuk menjadi diri sendiri sehingga ia khawatir perilakunya akan mengecewakan orang lain.
Di satu sisi, anak ingin terlihat baik dan dewasa. Sementara di sisi lain, mereka takut salah dan tidak mampu memenuhi ekspektasi orang di sekitarnya. Kondisi inilah yang membuat anak semakin bingung dengan jati dirinya, Bunda.
3. Memiliki beban ekspektasi yang membuat tertekan
Meski belum sepenuhnya mengerti, tak sedikit anak yang sudah menerima tekanan besar, terutama soal prestasi akademik. Anak sering mendapatkan pesan, atau bahkan tuntutan, untuk memiliki nilai yang bagus karena dianggap sebagai kunci utama masa depannya.
Akhirnya, banyak anak yang mengikuti kegiatan atau mengejar sesuatu yang ditekankan oleh orang tuanya, bukan karena keinginan sendiri. Hal inilah yang membuat anak jadi bingung dengan perasaan dan apa yang mereka ingin lakukan sebenarnya.
Hal yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu anak bangkit dari krisis identitas
Supaya anak tidak mengalami krisis identitas, Bunda dapat memulainya dengan memenuhi kebutuhan psikologisnya. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua untuk membantu anak melewati fase tersebut.
- Dengarkan anak bercerita: Bunda bisa meluangkan waktu untuk quality time bersama Si Kecil, serta menciptakan momen agar ia merasa nyaman untuk bercerita dan mengungkapkan isi hatinya.
- Respon curhatan anak: Saat anak menceritakan perasaannya, Bunda dapat merespon dengan sabar dan jujur, serta dengan bahasa yang sesuai dengan usianya.
- Bantu anak mengekspresikan emosi: Jika anak sulit untuk bercerita, Bunda dapat mengajak ia mengekspresikan perasaannya lewat menggambar, bermain, atau aktivitas lain yang mampu mengeluarkan emosi terpendamnya.
- Menjadi penenang bagi anak: Saat Bunda tahu kalau anak berpikir berlebihan atas hal-hal yang di luar kendalinya, Bunda dapat menenangkannya dan meyakinkan bahwa itu merupakan tanggung jawab orang dewasa.
- Batasi paparan hal yang menakutkan: Bunda dapat menyaring konten yang dilihat anak, baik itu di TV maupun media sosial. Sebisa mungkin hindari konten yang terlalu berat atau menakutkan agar anak tidak semakin takut dan cemas.
- Ciptakan rasa aman dan nyaman: Bunda dapat memberi Si Kecil pelukan, perhatian, dan suasana yang hangat di rumah agar anak merasa lebih tenang dan dihargai.
- Jaga kepercayaan anak: Usahakan Bunda selalu tepat waktu, konsisten, dan tidak ingkar saat membuat janji atau kesepakatan dengan anak. Hal ini membantu anak merasa percaya, aman, dan tidak khawatir berlebihan.
- Lebih sabar dalam menghadapi emosi anak: Ada kalanya anak menjadi mudah marah dan sensitif. Bunda dapat lebih sabar menyikapinya dan tidak terlalu menuntut saat anak berada di fase tersebut.
- Libatkan anak dalam hal positif: Bunda dapat mengajak anak melakukan aktivitas yang membuatnya merasa punya kontrol, seperti membantu memilihkan warna baju atau jenis sepatu. Cara ini dapat meningkatkan rasa percaya dirinya.
- Komunikasikan dengan ahlinya: Jika perlu, Bunda dapat membicarakan kondisi anak dengan guru atau psikolog anak untuk mendapatkan bantuan yang tepat.
Demikian penjelasan mengenai mengapa anak yang mulai memasuki masa ABG kerap mengalami krisis identitas. Semoga informasinya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Tanda Anak Tumbuh Bahagia Berkat Pola Asuh Orang Tua yang Hebat
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Perbedaan Usia Anak Terpaut Jauh, Ini Cara Mona Ratuliu Lakukan Bonding Time
Masih Banding-bandingkan Anak? Coba Simak Pesan Kak Seto Soal Inner Strength
Berapa Usia Ideal Anak Masuk TK A? Bunda Perlu Tahu Nih
Jelang Ujian Semester, Ajari Si Kecil Doa Memohon Ilmu Bermanfaat
TERPOPULER
Daripada Ucap "Saya Sudah Tahu", Pakai 11 Kalimat Ini Terlihat Cerdas Tanpa Terkesan Sombong
Sering Ada di Supermarket, Makanan Ini Disebut Bisa Bikin Peluang Hamil Menurun
7 Nama Bayi Perempuan 4 Huruf yang Cantik & Penuh Makna
Adinda Thomas Gelar Acara Tasyakuran 4 Bulan Kehamilan Pertama, Intip Potretnya
3 Alasan Anak Sering Kehilangan Krisis Kepercayaan Diri saat Beranjak Remaja
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Susu Ibu Hamil yang Bagus dan Rasanya Enak
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
7 Sofa Minimalis Harga di Bawah Rp2 Jutaan yang Nyaman & Bagus
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Susu yang Bagus untuk Ibu Hamil dan Janin
Melly FebridaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kotak Bekal Anak Stainless Steel Tahan Panas dan Anti Tumpah
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Cardigan Wanita Kekinian, Stylish dan Cocok untuk Daily Look
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
3 Resep Vla Puding Enak, Creamy & Seenak Dessert Cafe Mahal
Cara Menghitung Rumus Keliling Balok hingga Diagonal Ruang & 18 Contoh Soal Beserta Jawabannya
Kondisi Terbaru Veri AFI Bikin Pangling, Ungkap Pengalaman 3 Bulan Tak Bisa Makan
Sering Ada di Supermarket, Makanan Ini Disebut Bisa Bikin Peluang Hamil Menurun
Daripada Ucap "Saya Sudah Tahu", Pakai 11 Kalimat Ini Terlihat Cerdas Tanpa Terkesan Sombong
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Golongan Darah A Dinilai Berisiko Kena Stroke? Ini Penjelasannya
-
Beautynesia
5 Tanda Kamu Sedang Mengalami "Breadcrumbing" yang Harus Diwaspadai
-
Female Daily
Duo Visual Korea Bersatu, Park Bo Gum dan Jang Won Young Jadi Brand Ambassador Dyson Asia Pasifik!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Model Ini Diduga Pacar Baru Frederic Arnault Setelah Putus dari Lisa BLACKPINK
-
Mommies Daily
Butuh Rekomendasi Shadow Teacher? Ini Dia Berikut Kisaran Harganya