Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cerita Bayi Baru Lahir Alami Patah Tulang Tengkorak & Perdarahan Otak

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Kamis, 09 Apr 2026 20:00 WIB

Bayi lahir patah tulang tengkorak
Ilustrasi bayi lahir patah tulang tengkorak/Foto: Getty Images/123ducu
Daftar Isi

Seorang bayi dinyatakan patah tulang tengkorak dan perdarahan otak setelah dilahirkan melalui operasi caesar. Cerita yang dibagikan melalui laman WTOC ini sungguh menyita perhatian, terutama karena adanya kejanggalan dalam proses persalinan tersebut.

Peristiwa ini terjadi di Savannah, Amerika Serikat, pada sebuah rumah sakit bersalin yang dikenal sangat bergengsi. Bunda dari bayi yang mengalami kejadian ini, Jessica Hanley, tidak pernah menduga akan memiliki proses persalinan yang begitu menegangkan.

Saat itu, Jessica mulanya dijadwalkan untuk menjalani operasi caesar pada 10 Oktober 2025. Namun, ketubannya pecah lebih awal, yakni pada 25 September 2025. Melihat kondisi tersebut, ia harus segera dirawat di rumah sakit dan menjalani tindakan.

Tetapi, rumah sakit bersalin yang menanganinya pun tak kunjung memberikan tindakan yang berarti. Jessica mengaku harus menunggu hingga lima jam tanpa pemeriksaan yang jelas, sebelum akhirnya ia menjalani operasi caesar.

Selama lima jam tersebut, Jessica hanya dipasangi alat monitor yang bahkan alat tersebut tidak menunjukkan keterangan yang akurat. Sang suami pun harus beberapa kali memastikan ke perawat apakah alat tersebut berfungsi dengan benar atau tidak.

Di sisi lain, operasi caesar yang ditunggunya juga sempat tertunda sebanyak dua kali karena adanya kasus lain yang dianggap mendesak. Jessica juga menyebut bahwa suaminya hanya boleh mendampinginya setelah operasi selesai.

Kejanggalan-kejanggalan ini bagaikan sebuah pertanda. Tepat setelah bayi kecilnya lahir, catatan medis sang bayi membuat Jessica terkejut. Di sana tercatat sang bayi perlu mendapatkan bantuan oksigen, penyedotan lendir, hingga alat bantu pernapasan.

Hal yang lebih mengejutkan, bayinya juga didiagnosis mengalami patah tulang tengkorak dan perdarahan otak akibat cedera saat lahir. Sementara itu, laporan medis mengatakan sang bayi lahir “tanpa trauma”, yang sangat berbanding terbalik dengan catatan medis tersebut.

Karena kondisi darurat, bayinya harus menjalani perawatan intensif di NICU selama lebih dari satu minggu. Ia mendapatkan transfusi darah, bantuan oksigen, dan alat bantu makan. Hingga kini, sang bayi harus jalani pemantauan neurologis hingga usia 5 tahun.

Merasa ada yang tidak beres, Jessica pun mengajukan pengaduan ke pihak rumah sakit tak lama setelah putranya lahir. Namun, hingga Januari 2026, ia mengaku belum menerima tanggapan, meskipun kondisi sang bayi sudah membaik.

Pendapat ahli tentang kondisi patah tulang tengkorak dan perdarahan pada bayi setelah lahir

Seorang dokter spesialis kandungan dan kebidanan bersertifikasi dari Atlanta, Dr. Sujatha Reddy, turut meninjau catatan medis dalam kasus ini. Menurutnya, terdapat ketidaksesuaian antara laporan operasi dengan kondisi bayi setelah lahir.

“Catatan operasi dan deskripsi bayi jelas tidak sesuai. Dokter tersebut menyatakan bahwa kepala bayi dalam kondisi normal, tetapi setelah perawat anak memegangnya, perawat tersebut mengatakan adanya kemungkinan patah tulang tengkorak atau perdarahan,” kata Reddy.

Reddy pun tidak bisa membantu banyak. Peninjauan yang dilakukannya belum cukup untuk mengetahui penyebab lain atas cedera yang dialami bayi tersebut selain melihat proses persalinannya itu sendiri.

“Sulit untuk mengetahui penjelasan lain terkait patah tulang tengkorak tersebut. Pada bayi dengan pembentukan tulang normal dan tanpa penyakit tulang, saya tidak melihat kemungkinan lain selain cedera yang terjadi saat proses persalinan,” lanjutnya.

Mengenal kondisi patah tulang tengkorak yang dialami putra Jessica

Berbeda dengan orang dewasa, tulang tengkorak bayi masih sangat lunak dan fleksibel sebab akan membantu bayi melewati jalan lahir dengan mudah. Namun, kondisi ini juga membuat bayi lebih rentan mengalami cedera kepala, seperti fraktur tengkorak contohnya.

Melansir dari laman Cerebral Palsy Guide, patah tulang tengkorak atau fraktur tengkorak merupakan kondisi di mana satu atau lebih tulang di kepala bayi mengalami keretakan atau patah. Biasanya, ini terjadi karena adanya tekanan atau trauma selama proses persalinan.

Dalam beberapa kasus, patah tulang tengkorak pada bayi merupakan cedera ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, pada kondisi yang lebih serius, cedera ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti perdarahan, kejang, hingga gangguan pada otak.

Maka dari itu, penting bagi tenaga medis untuk menangani proses persalinan dengan hati-hati dan sesuai prosedur. Meski tidak semua kasus bisa dihindari, penanganan yang tepat dapat meminimalisir terjadinya risiko cedera pada bayi.

Penyebab patah tulang tengkorak selama persalinan

Patah tulang tengkorak pada bayi saat persalinan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kelalaian medis, yaitu ketika tenaga kesehatan tidak menjalankan prosedurnya sesuai standar dan berisiko membahayakan ibu dan bayi.

Namun, terdapat beberapa kondisi lain yang juga bisa meningkatkan risiko terjadinya cedera tersebut, meliputi:

  • Terlambat melakukan operasi caesar: Jika operasi tidak segera dilakukan saat sudah waktunya dan bayi yang dipaksa melewati jalan lahir yang sempit, maka akan meningkatkan tekanan pada kepala bayi.
  • Bayi terjatuh saat atau setelah persalinan: Meskipun kondisi ini jarang, benturan keras pada kepala bayi dapat mengakibatkan cedera.
  • Kondisi kesehatan ibu: Misalnya pada ibu yang mengidap diabetes atau infeksi, biasanya bayi lahir dengan ukuran lebih besar atau kondisi yang lebih rentan sehingga risiko cedera saat lahir meningkat.
  • Tanda-tanda darurat: Jika terdapat kondisi darurat yang tidak segera ditangani, proses persalinan bisa menjadi terburu-buru dan meningkatkan risiko cedera pada bayi.
  • Penggunaan alat bantu persalinan yang kurang tepat: Alat seperti forsep atau vakum memang bisa membantu proses persalinan, tetapi jika tidak digunakan dengan benar, justru bisa membuat cedera pada kepala bayi.

Demikian cerita tentang seorang Bunda yang bayinya mengalami patah tulang tengkorak dan perdarahan otak setelah dilahirkan. Semoga informasi ini bermanfaat dan mampu meningkatkan kewaspadaan, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda