HaiBunda

PARENTING

Jangan Panik, Bunda Bisa Lakukan Ini saat Anak Mengalami Kejang

  |   HaiBunda

Sabtu, 04 Apr 2026 17:10 WIB
Kejang demam anak/ Foto: Getty Images/arto_canon
Jakarta -

Melihat anak mengalami kejang pastinya akan membuat Ayah dan Bunda khawatir. Bayangan anak mengalami sakit parah dapat menghantui orang tua, apalagi jika Si Kecil belum pernah mengalaminya sebelumnya.

Kepanikan merupakan respons yang wajar saat melihat anak mengalami kejang. Namun dalam kondisi seperti ini, Bunda disarankan untuk tetap tenang menghadapinya.

Sebelum memahami cara menangani kejang, Bunda perlu mengetahui jenis kejang yang dialami anak. Pengobatan dan langkah selanjutnya akan menyesuaikan bentuk kejang tersebut.


Dengan bekal informasi yang tepat, orang tua bisa merasa lebih siap menghadapi situasi darurat. Pemahaman dasar mengenai penanganan kejang memungkinkan Bunda memberikan pertolongan awal yang aman di rumah.

Apa itu kejang demam pada anak?

Kejang demam adalah kondisi kejang yang terjadi saat suhu tubuh anak naik secara tiba-tiba, biasanya karena infeksi. Kondisi ini umum terjadi pada anak usia enam bulan hingga lima tahun, terutama ketika suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih.

Meskipun terlihat mengkhawatirkan, kejang demam umumnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kerusakan otak. Kejang ini biasanya berlangsung singkat dan bisa sembuh total, namun tetap penting untuk mengetahui cara penanganan yang tepat agar tidak berdampak lebih serius.

Tanda-tanda kejang yang perlu Bunda ketahui

Mengenali tanda kejang dengan benar sangat penting agar tidak salah menilai. Berikut beberapa cara dan ciri yang bisa membantu membedakan kejang dari gerakan lain:

  1. Kejang tanpa pencetus: Anak kejang tanpa demam atau infeksi sebelumnya. Kejang ini biasanya berulang dalam jangka waktu tertentu.
  2. Gerakan ritmik dan tidak bisa dihentikan: Jika tubuh anak bergerak berulang secara ritmis dan tetap meski ditahan, maka kemungkinan besar kejang. Gerakan seperti menggigil yang bisa berhenti saat disentuh umumnya bukan kejang.
  3. Rekaman video sebagai alat bantu: Bila memungkinkan, gerakan anak sebaiknya direkam seluruh tubuhnya saat dicurigai kejang. Video sangat membantu tenaga medis dalam menilai apakah gerakan itu kejang atau bukan.
  4. Perbedaan antara kejang dan tangisan atau napas tertahan: Beberapa anak terlihat seperti kejang padahal hanya menangis berlebihan atau nafas tertahan. Karena itu, penting untuk memastikan apakah benar kejang.
  5. Kejang parsial atau menyeluruh: Perhatikan apakah kejangnya terjadi di seluruh tubuh atau hanya di satu sisi. Ini akan membantu menentukan jenis kejang yang dialami.

Faktor risiko kejang demam dan pemicu yang perlu diperhatikan

Kejang demam tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Salah satunya adalah riwayat kejang dalam keluarga.
Risiko akan lebih tinggi jika saudara kandung pernah mengalami kejang demam. Selain itu, bila Ayah atau Bunda atau bahkan keduanya, memiliki riwayat serupa, maka kemungkinan Si Kecil mengalami kejang juga ikut meningkat.

Karena itu, mengenali kondisi kesehatan keluarga sangatlah penting. Pemahaman sejak dini akan faktor risiko membantu Bunda lebih siaga dan bisa mengambil langkah pencegahan yang sesuai.

Kapan anak harus dibawa ke rumah sakit saat kejang demam?

Kalau anak sudah pernah mengalami kejang, penting untuk tahu kapan harus segera membawanya ke rumah sakit. Salah satu momen paling krusial adalah saat anak mengalami kejang pertamanya.

Jika Si Kecil mengalami kejang demam untuk pertama kali, sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit. Biasanya akan disarankan untuk rawat inap, supaya bisa dilakukan observasi lebih lanjut.

Tujuannya adalah memastikan apakah ini benar-benar kejang demam biasa atau justru disebabkan oleh kondisi lain, seperti infeksi pada sistem saraf pusat atau otak.

Bunda, jangan menunggu sampai kejangnya berulang. Jika kejang terjadi untuk pertama kalinya, segera periksa agar Si Kecil bisa mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.

Efek samping kejang berulang dan penggunaan obat

Jika kejang demam yang terjadi termasuk tipe sederhana, biasanya efek sampingnya sangat minimal. Gangguan neurologis atau gejala sisa seperti kecacatan hampir tidak ditemukan pada kejang demam sederhana.

Namun, beda halnya jika kejang yang dialami termasuk kejang demam kompleks. Semakin sering kambuh, maka risiko anak mengalami epilepsi di kemudian hari pun meningkat. Terlebih jika kejangnya tidak terkontrol.

Kejang Demam Sederhana:

  • Berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)
  • Bentuk kejang umum (melibatkan seluruh tubuh)
  • Tidak berulang dalam waktu 24 jam

Kejang Demam Kompleks (memiliki salah satu dari ciri berikut):

  • Kejang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
  • Kejang fokal atau parsial pada satu sisi tubuh, atau kejang umum yang didahului kejang parsial
  • Berulang atau terjadi lebih dari satu kali dalam waktu 24 jam

Misalnya pada kasus kejang demam kompleks yang berlangsung berulang dan tidak terkendali, ada kemungkinan terjadinya kerusakan pada sel-sel otak. Karena itu, pengobatan perlu dijalani dengan disiplin.

Bunda perlu terus memantau dan memberikan obat sesuai jadwal. Dalam hal ini, konsistensi pemberian obat sangat penting agar kejang tidak berulang dan perkembangan otak anak tetap optimal.

Risiko kejang berulang dan dampaknya pada perkembangan anak

Langkah penting dalam menangani kejang adalah menghentikannya secepat mungkin dan mencegah agar tidak berulang. Semakin lama dan sering kejang berlangsung, semakin tinggi risiko gangguan pada perkembangan anak.

Hal ini terjadi karena setiap kali kejang terjadi, sel-sel otak bisa mengalami kerusakan. Oleh sebab itu, penting untuk mengontrol kejang sejak awal agar tidak terus kambuh.

Bunda berperan besar untuk menjaga agar kejang demam tetap terkendali, yaitu dengan mengikuti jadwal pengobatan dan melakukan pemantauan secara rutin. Peran orang tua sangat memengaruhi kelancaran proses pemulihan anak.

Setiap kejang yang tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan kerusakan otak yang tidak bisa dipulihkan. Jangan sampai keterlambatan penanganan menyebabkan hambatan tumbuh kembang yang sebenarnya bisa dicegah.

Langkah pencegahan dan penanganan kejang di rumah

1. Cegah demam sejak dini

Jangan sampai anak demam. Risiko kejang akan jauh lebih kecil jika anak dijaga tetap sehat.
Mencegah demam adalah langkah utama agar kejang tidak muncul kembali. Karena itu, penting untuk menjaga kondisi tubuh anak tetap prima setiap harinya.

2. Jaga nutrisi dan lingkungan anak

Baik dari segi nutrisi maupun lingkungan, keduanya penting untuk diperhatikan. Dua hal ini sangat berperan dalam menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.

Nutrisi yang cukup akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak. Sementara itu, lingkungan yang bersih dan aman bisa mencegah infeksi penyebab demam.

3. Siapkan obat anti-kejang di rumah

Kalau anak sudah punya riwayat kejang demam, jangan lupa untuk selalu sedia obat anti-kejang yang dimasukkan lewat anus. Obat ini penting agar bisa segera diberikan saat kondisi darurat.

Jenis obat ini biasanya diberikan jika anak mengalami kejang yang lama atau berulang. Penggunaan yang tepat waktu bisa mencegah dampak yang lebih berat.

Apabila setelah pemberian obat anti-kejang melalui anus kejang belum berhenti, pemberian dapat diulang dengan cara dan dosis yang sama setelah interval 5 menit.

Jika setelah dua kali pemberian kejang masih berlanjut, anak dianjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

4. Simpan obat di tempat yang mudah diingat

Simpan obat di tempat yang mudah terlihat, misalnya di pintu kulkas. Bukan untuk didinginkan, tapi supaya mudah diingat kapanpun dibutuhkan.
Dengan meletakkannya di lokasi yang sering dilihat, orang tua jadi lebih sigap saat situasi darurat terjadi. Ini bisa menghemat waktu berharga ketika kejang muncul secara tiba-tiba.

5. Pahami cara penggunaannya

Orang tua harus benar-benar paham bagaimana cara penggunaan obatnya. Kalau sudah diresepkan, pastikan tahu betul cara memakainya.
Jangan sampai keliru, seperti memasukkan obat lewat mulut padahal seharusnya lewat anus. Kalau belum yakin, jangan ragu untuk bertanya kembali sampai benar-benar mengerti.

Demikian pembahasan mengenai kejang demam, penting bagi orang tua untuk mengetahui ciri-cirinya untuk memberi penanganan yang tepat. Salah satunya memvideokan gerakan kejang demam anak, untuk memantau kondisinya. Semoga informasinya bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/stg)

Simak video di bawah ini, Bun:

Bunda Perlu Tahu, 5 Pertolongan Pertama saat Si Kecil Demam

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bolehkah Anak-anak Membolos Sekolah untuk Diajak Liburan? Ini Kata Pakar

Parenting Indah Ramadhani

Ini 5 Tipe Pria yang Paling Tak Disukai Perempuan

Mom's Life Annisa Karnesyia

Potret Terbaru Nadia Saphira Pemain Series 'AADC', Kini Sedang Hamil Anak Kedua

Kehamilan Annisa Karnesyia

5 Resep Takoyaki ala Street Food Jepang, Mudah dan Anti Gagal untuk Bekal Anak

Mom's Life Amira Salsabila

25 Rekomendasi Menu Makan Siang yang Semua Enak untuk Disantap di Kantor & Rumah

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Ciri Kepribadian Perempuan Selalu Nonton Video di HP Sebelum Tidur

25 Rekomendasi Menu Makan Siang yang Semua Enak untuk Disantap di Kantor & Rumah

Bolehkah Anak-anak Membolos Sekolah untuk Diajak Liburan? Ini Kata Pakar

5 Resep Takoyaki ala Street Food Jepang, Mudah dan Anti Gagal untuk Bekal Anak

Ini 5 Tipe Pria yang Paling Tak Disukai Perempuan

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK