PARENTING
Jangan Bilang, "Kalau Enggak Makan, Enggak Dikasih Jajan", Ini Alasannya
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Kamis, 30 Jul 2026 09:20 WIBKalimat yang diucapkan Bunda dan Ayah seperti: "Kalau enggak makan, enggak dikasih jajan", mungkin terdengar akrab di banyak keluarga dan sering diucapkan ke anak dengan tujuan agar mereka mau menghabiskan makanannya.
Sekilas, kalimat tersebut tampak efektif karena anak menjadi lebih termotivasi untuk makan. Namun, di balik ucapan itu, ada dampak negatif yang sering tidak disadari oleh para orang tua, Bunda.
Mengaitkan makanan dengan hadiah berupa uang atau jajan dapat membentuk hubungan yang kurang sehat dengan makanan sejak dini. Lalu, mengapa orang tua sebaiknya menghindari cara ini?
Menurut ahli gizi Sally Kuzemchak, MS, RD, tidak ada makanan, termasuk makanan penutup atau jajanan, yang boleh ditawarkan sebagai hadiah atau ditahan sebagai hukuman. Hal ini tidak hanya membuat makanan tersebut menjadi sangat istimewa, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa anak harus mengonsumsi makanan yang 'tidak enak' untuk bisa mendapatkan makanan yang dianggapnya 'lezat'.
"Saat menyajikan makanan penutup, semua anggota keluarga harus diberi pilihan untuk memakannya, terlepas dari seberapa banyak mereka makan saat makan malam," ungkap Kuzemchak dikutip dari Parents.
"Jika anak hanya ingin mengonsumsi makanan penutup (jajanan) dan tidak mau makan makanan utama, jadikan makanan penutup sebagai suguhan sesekali. Kita juga bisa mencoba menyajikannya bersamaan dengan makan malam. Ide ini mungkin terdengar aneh, tetapi berhasil untuk beberapa anak," sambungnya.
Hal yang sama juga diungkapkan direktur New Balance Foundation Obesity Prevention Center di Boston Children's Hospital dan penulis buku Ending the Food Fight, David Ludwig, MD, PhD. Menurut Ludwig, makanan tidak boleh ditawarkan sebagai hadiah atau ditahan sebagai hukuman.
Hal tersebut dapat menanamkan pola pikir yang buruk, Bunda. Nantinya, anak-anak bisa memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat.
"Hindari mengatakan hal ini saat makan karena akan meningkatkan persepsi anak terhadap nilai jajanan dan mengurangi kenikmatan mereka terhadap makanan itu sendiri," ungkap Ludwig.
Alih-alih mengatakan, "Kalau enggak makan, enggak dikasih jajan", Bunda dapat menggunakan kalimat yang lebih halus, seperti "Pertama kita akan makan makanan utama, lalu kita makan jajanan". Perubahan kata tersebut tak hanya terdengar lebih halus, tapi juga memiliki dampak yang jauh lebih positif pada anak.
Alasan anak tidak perlu menghabiskan makan untuk dapat jajan
Sebagian besar dari kita dibesarkan dengan aturan bahwa kita tidak akan mendapatkan camilan atau jajanan sampai kita menghabiskan makan. Istilah itu dikenal juga dengan Clean Plate Club.
Meskipun kita cenderung mendidik anak seperti cara kita dibesarkan, cara berpikir itu sebenarnya sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif lagi diterapkan, Bunda. Anak-anak seharusnya tidak perlu diancam untuk menghabiskan makanan hanya untuk mendapatkan jajanan.
"Orang-orang menganggap saya aneh ketika mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu menghabiskan makan mereka untuk mendapatkan makanan penutup. Itu tidak bisa menjadi solusi yang logis bila tujuannya untuk membuat anak makan sesuai kebutuhan tubuhnya," ujar ahli gizi Kacie Barnes dilansir dari Tiny Beans.
Menurut Barnes, jumlah kalori anak tidak tetap setiap hari. Namun, anak-anak akan secara intuitif tahu kapan tubuh mereka telah menerima cukup kalori.
"Hal utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jumlah makanan yang kita berikan kepada anak sebenarnya tidak terlalu penting, mungkin itu jumlah yang dibutuhkan tubuh mereka pada saat makan, atau mungkin juga sama sekali salah. Dan tentu saja bukan salah orang tua jika itu salah!" Barnes.
"Tetapi itulah mengapa anak perlu memutuskan sendiri berapa banyak yang ingin mereka makan atau tidak," sambungnya.
Jika orang tua mensyaratkan ketersediaan makanan camilan atau jajanan dengan menghabiskan makan utama, maka anak-anak terkadang akan makan berlebihan untuk mendapatkan jajanan yang mereka inginkan.
"Mereka harus mengabaikan apa yang dikatakan tubuh. Mereka sebenarnya tidak punya cukup ruang untuk semua itu, tetapi jika mereka benar-benar menginginkan (jajanan), mereka akan memakan makanan utama," kata Kacie.
Sebagai orang tua, tugas kita memang menyediakan makanan untuk Si Kecil. Namun, anak juga perlu diberikan ruang untuk memutuskan apa dan berapa banyak makanan yang perlu mereka konsumsi, Bunda.
Itulah alasan kenapa orang tua sebaiknya menghindari kalimat "Kalau Enggak Makan, Enggak Dikasih Jajan" pada anak-anaknya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)