Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Urutan Imunisasi Bayi Lengkap 2026, Beserta Jadwal Berdasarkan Usia & Jenis Sesuai IDAI

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Rabu, 30 Sep 2026 16:20 WIB

Imunisasi anak
Urutan Imunisasi Bayi Lengkap 2026/Foto: Getty Images/spukkato
Daftar Isi

Memiliki keluarga yang sehat adalah impian semua keluarga, terlebih lagi menyangkut kesehatan anak. Salah satu cara yang sangat penting dilakukan adalah dengan memberikan imunisasi sesuai dengan kebutuhannya.

Imunisasi merupakan pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh, guna menjaga bayi dari berbagai infeksi atau penyakit tertentu. Pemberian vaksin ini dapat  dilakukan pada rentang usia 0-18 tahun.

Upaya imunisasi juga terus dilakukan di berbagai negara lainnya. Saat ini, lebih dari 190 negara menjalankan program imunisasi untuk bayi dan balita. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi hingga 90 persen dan memastikan anak mendapatkan perlindungan dari imunisasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pemberian imunisasi juga biasanya dilakukan secara bertahap sesuai usia karena setiap vaksin memiliki dosis yang berbeda. Selain itu, orang tua perlu mengikuti tahapan dan jenis vaksin yang direkomendasikan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala memperbarui rekomendasi imunisasi yang tepat bagi anak. Rekomendasi IDAI mencakup imunisasi dasar yang diberikan sejak bayi serta imunisasi ulangan untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Lalu apa saja urutan yang penting diketahui orang tua? Yuk, simak penjelasan lengkapnya sebagai berikut.

 Apa itu imunisasi dasar?

Imunisasi dasar merupakan upaya untuk membentuk kekebalan tubuh pada anak sejak usia dini guna terhindar dari berbagai penyakit berbahaya sekaligus mengurangi risiko penularannya. Pemberian vaksin membantu meningkatkan kekebalan tubuh bayi, mencegah penularan, dan menekan angka kematian pada bayi dan anak.

Imunisasi dasar umumnya diberikan pada usia bayi baru lahir hingga berusia satu tahun, sebagai langkah awal untuk membentuk perlindungan tubuh terhadap berbagai penyakit. Vaksin yang diberikan pada bayi di usia tersebut diantaranya adalah polio, hepatitis B, BCG, Hib, dan vaksin lainnya yang akan diberikan secara bertahap.

Bila anak tidak diberikan imunisasi lengkap, memungkinkan anak memiliki kekebalan tubuh yang rendah sehingga rentan atau mudah terjangkit oleh penyakit tertentu. Terlebih lagi, anak bisa dengan mudah menularkan penyakitnya sehingga akan memperluas penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.  

Pentingnya mengetahui urutan imunisasi bayi

Orang tua perlu mengetahui urutan dan jadwal imunisasi agar Si Kecil mendapat perlindungan dan pencegahan yang optimal. Pemberian imunisasi disarankan untuk mengikuti jadwal untuk mencapai kadar perlindungan yang dibutuhkan tubuh anak.

Setiap vaksin memiliki perbedaan jadwal dan jumlah dosis. Ada vaksin yang hanya diberikan sekali namun ada juga yang membutuhkan vaksin lebih dari satu kali. Karena itu, para orang tua harus mengetahui informasi terkait urutan imunisasi bayi agar perlindungan bayi bekerja dengan maksimal.

Urutan imunisasi bayi berdasarkan rekomendasi IDAI

Simak selengkapnya berikut ini:

1. Imunisasi hepatitis B (HB)

Imunisasi hepatitis B sebaiknya diberikan sedini mungkin. Vaksin ini idealnya bisa diberikan kurang dari 12 jam setelah lahir. Pemberian vaksin selanjutnya diberikan dengan jarak sekitar empat minggu dari dosis pertama. 

Lalu, untuk vaksin ketiga dapat diberikan minimal dua bulan setelah vaksin kedua, dengan waktu yang paling baik sekitar lima bulan setelah dosis sebelumnya. Apabila anak belum mendapatkan imunisasi hepatitis B, vaksin ini masih bisa diberikan kapan saja saat orang tua datang ke tempat imunisasi. 

2. Imunisasi polio (OPV/IPV)

Polio memiliki dua jenis vaksin, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV). Untuk OPV dapat diberikan sejak bayi lahir, kemudian dilanjutkan pada usia 2, 4, 6, hingga 18 bulan. Sedangkan untuk IPV diberikan pada usia 2, 4, 6-18 bulan, kemudian dilanjut pada usia 6-8 tahun.

Bagi anak yang terlambat mendapatkan vaksin polio, orang tua tidak diharuskan mengulang urutan dari awal. Orang tua hanya perlu melanjutkan dan melengkapi dosis yang belum diterima sesuai jadwal, meskipun jarak keterlambatan cukup panjang.

3. Imunisasi BCG

Selanjutnya ada imunisasi BCG, yang berfungsi untuk melindungi anak dari penyakit tuberkulosis (TBC). Imunisasi ini sangat penting dilakukan mengingat Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia, setelah India dan Tiongkok.

Pemberian vaksin BCG sebaiknya diberikan pada usia 2-3 bulan karena pada usia tersebut, sistem kekebalan tubuh bayi dinilai masih belum matang. Imunisasi BCG juga tidak dilanjutkan untuk diberikan kembali sebagai vaksin booster atau penguat. 

4. Imunisasi DPT, HB, dan Hib (Pentavalen)

Imunisasi DPT berguna untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya seperti difteri, pertusis, dan tetanus. Pada tahap imunisasi dasar, imunisasi DPT bisa diberikan sebanyak tiga kali.

Setelah itu, dilanjutkan dengan imunisasi ulang satu kali dengan jarak satu tahun setelah pemberian DPT ketiga. Ketika memasuki usia lima tahun, anak kembali mendapatkan ulangan dan diberikan sebelum anak masuk jenjang sekolah.

Selanjutnya pada usia 12 tahun, imunisasi dilanjutkan dengan vaksin TD. Khusus untuk wanita, imunisasi tetanus toksois (TT) perlu dilakukan sebelum menikah dan selama kehamilan, guna mencegah tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi.

Jika pemberian imunisasi DPT terlambat, urutan vaksin tidak perlu diulang dari awal. Berapa pun jarak keterlambatannya, imunisasi tetap dilanjutkan dengan melengkapi dosis yang belum terpenuhi. Sementara itu, bagi anak berusia kurang dari 12 bulan yang belum mendapatkan imunisasi dasar, lakukan imunisasi dasar dengan mengikuti jumlah dosis dan interval yang sesuai.

Ada pula ketentuan khusus dalam pemberian dosis ulangan, jika DPT keempat diberikan sebelum anak berusia empat tahun, maka DPT kelima bisa diberikan paling cepat enam bulan setelahnya. Namun, jika DPT keempat diberikan setelah anak berusia empat tahun, maka DPT kelima tidak lagi diperlukan. 

5. Imunisasi campak dan rubella

Selanjutnya ada imunisasi campak dan rubella yang diberikan guna memberi perlindungan sejak bayi. Imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan, dilanjutkan dengan dosis ulangan (second opportunity) melalui crash program campak pada anak usia 6-59 bulan. Setelah itu dilakukan kembali pada usia sekolah dasar, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Pada kondisi tertentu, terkadang terdapat program PIN (Pekan Imunisasi Nasional) campak sebagai bentuk penguatan cakupan imunisasi. Program ini ditujukan untuk menambah perlindungan kepada anak yang diperkirakan belum membentuk respon imunitas yang baik setelah mendapatkan imunisasi sebelumnya. 

Bagi anak yang berusia 9-12 tahun yang terlambat atau belum mendapatkan imunisasi dapat segera diberikan vaksin, kapan pun saat datang ke fasilitas kesehatan. Namun, bila anak berusia lebih dari satu tahun, vaksin MMR bisa diberikan sebagai alternatif.

Imunisasi tambahan yang dianjurkan

Dikutip dari laman resmi Kemenkes, imunisasi tambahan merupakan pemberian dosis tambahan dengan jenis imunisasi tertentu. Dosis tersebut diberikan kepada kelompok umur tertentu yang beresiko tinggi terkena penyakit. Imunisasi tambahan tidak menghapuskan imunisasi rutin.

Pemberian imunisasi tambahan dilakukan untuk meningkatkan perlindungan masyarakat, khususnya di wilayah yang cakupan imunisasinya masih rendah selama tiga tahun berturut-turut. Ada banyak jenis imunisasi tambahan yang bisa diberikan, seperti MMR, hepatitis A, tifoid, influenza, dan masih banyak lagi.

Jadwal imunisasi dasar lengkap berdasarkan usia

Mengutip dari laman resmi IDAI, berikut jadwal imunisasi anak yang direkomendasikan secara bertahap berdasarkan usia.

1. Usia 0–6 Bulan

  • 0 bulan : hepatitis B 0, polio
  • < bulan :BCG 1
  • 1 bulan : Polio
  • 2 bulan : hepatitis B 1, polio 1, DPT 1, Hib 1, PCV 1, Rotavirus 1
  • 3 bulan : hepatitis B 2, polio 2, DPT 2, Hib 2
  • 4 bulan : hepatitis B 3, polio 3, DPT 3, Hib 3, PCV 2, Rotavirus 2
  • 6 bulan : PCV 3, Rotavirus 3, influenza.

2. Usia 6–12 Bulan

  • 6 bulan : PCV 3, Rotavirus 3, influenza
  • 7 bulan : influenza
  • 9 bulan: influenza, MR/rubella 1, Japanese Enchephalitis (JE) 1
  • 12 bulan : PCV 4, varisela, hepatitis A.

3. Usia 12–24 Bulan

  • 12 bulan : PCV 4, varisela, hepatitis A
  • 15 bulan : PCV 4, MR/MMR, varisela, hepatitis A
  • 18 bulan : hepatitis B 4, polio 4, DPT 4, Hib 4, influenza, MR/MMR, hepatitis A
  • 24 bulan : influenza, Japanese Enchephalitis 2, hepatitis A, tifoid 1.

4. Usia 2–18 Tahun

  • 24 bulan : influenza, Japanese Enchephalitis 2, hepatitis A, tifoid 1
  • 5 tahun : DTP 5, MR/MMR,ninfluenza,  tifoid (diulang setiap 3 tahun 1 dosis)
  • 6-7 tahun : DTP 5, PCV, MR/MMR, dengue, tifoid
  • 8-9 tahun : PCV, influenza, dengue
  • 10-18 tahun : Td/Tdap, PCV, influenza, dengue, tifoid, HPV.

Untuk vaksin influenza disarankan untuk diulang setiap tahun satu dosis bagi usia enam bulan hingga 18 tahun. Dan untuk vaksin tifoid disarankan untuk diulang setiap tiga tahun satu dosis bagi usia lima tahun hingga 18 tahun.

Meskipun jadwal tersebut menjadi rekomendasi umum, orang tua perlu mengetahui riwayat kesehatan anak agar dokter dapat melakukan penyesuaian untuk kepentingan Si Kecil. 

Hal yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah imunisasi bayi

Sebelum imunisasi dilakukan, orang tua disarankan untuk menyampaikan informasi terkait kondisi anak kepada dokter. Informasi tersebut sangat penting dalam membantu tenaga kesehatan untuk menentukan dan menyesuaikan antara kebutuhan anak dengan imunisasi yang akan diberikan.

Selain itu, hal ini dilakukan guna mempertimbangkan adanya kontraindikasi serta kemungkinan terjadinya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Beberapa hal yang perlu diinformasikan antara lain:

  • Pernah mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang berat setelah mendapatkan vaksin sebelumnya.
  • Memiliki alergi terhadap bahan vaksin.
  • Sedang menjalani pengobatan steroid, kemoterapi, atau radioterapi.
  • Memiliki penyakit yang berakibat pada lemahnya kekebalan tubuh, seperti leukimia, kanker, HIV/AIDS.
  • Tinggal dengan seorang penderita leukimia, kanker, atau HIV/AIDS.
  • Tinggal dengan seorang yang menjalani radioterapi, kemoterapi, dan terapi steroid.
  • Dalam satu bulan terakhir, mendapat imunisasi yang berisi vaksin campak, poliomielitis, rubella).
  • Pada tiga bulan lalu mendapat imunoglobulin atau transfusi darah. 

Tidak hanya sebelum imunisasi, orang tua juga perlu melihat kondisi Si Kecil setelah mendapatkan vaksin untuk melihat apakah muncul reaksi yang perlu ditangani atau tidak. Reaksi pascaimunisasi terbilang berbeda-beda tergantung pada jenis vaksinnya.

Umumnya, pasca imunisasi beberapa anak akan merasakan beberapa reaksi ringan, seperti mengalami demam ringan atau tinggi, kemerahan, atau bengkak. Kondisi ini biasanya akan membaik dan hilang dalam waktu 3-4 hari, atau berlangsung lebih lama. 

Jika reaksi tersebut terjadi pada anak, untuk membantu Si Kecil lebih nyaman orang tua dianjurkan untuk memberikan obat penurun panas setiap empat jam, perbanyak minum ASI, kompres dengan air hangat, berikan jus atau susu. Namun, bila demam atau keluhan lainnya tidak kunjung membaik segera bawa mereka untuk mendapat pemeriksaan dari dokter.

Bagaimana jika anak terlambat imunisasi?

Masalah yang paling umum dijumpai adalah ketika imunisasi tidak sesuai jadwal, terlambat, tidak lengkap, atau bahkan belum mendapatkan imunisasi. Namun, kondisi ini bukan berarti menghentikan pemberian imunisasi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, imunisasi yang sudah diberikan sebelumnya telah membentuk respon imun, namun kadar perlindungannya belum optimal untuk jangka panjang. Oleh karena itu, imunisasi yang tertunda tetap perlu dilanjutkan atau dilengkapi guna memiliki perlindungan yang optimal.

Maka dari itu, jika ada imunisasi yang terlambat atau  tertunda, maka imunisasi harus secepatnya diberikan atau dikejar. Apabila bayi terlambat mendapatkan rutin dan lengkap, orang tua perlu melihat kembali status imunisasi bayi dan melaporkan pada petugas imunisasi Puskesmas setempat.

Itulah urutan imunisasi bayi lengkap 2026, beserta jadwal berdasarkan usia dan jenis sesuai IDAI. Semoga membantu, Bunda.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda