HaiBunda

PARENTING

6 Hal Sering Disalahartikan Orang Tua Tentang Gentle Parenting

Kinan   |   HaiBunda

Kamis, 08 Oct 2026 09:20 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/travelism
Jakarta -

Gentle parenting sering kali masih sering disalahartikan sebagai tipe pengasuhan yang 'selalu mengalah'. Padahal nyatanya tak demikian lho, Bunda.

Sebenarnya gentle parenting memang mengutamakan kerja sama dan komunikasi yang intens. Orang tua lebih menekankan empati dan kedekatan dengan anak, bukan sekadar memberi hukuman atau menyalahkan. 

Oleh karena itu, gentle parenting sering dianggap sebagai pendekatan pengasuhan yang lebih 'lembut'.


Namun kini gentle parenting justru kerap dianggap sebagai pola asuh 'perfeksionisme performatif', yaitu ketika orang tua merasa harus selalu tenang, mampu mengendalikan emosi dengan sangat baik, dan selalu tersedia secara emosional untuk anak.

Apa itu gentle parenting?

Dikutip dari US News, psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith menyebutkan bahwa gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak.

"Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak-anak dan disiplin penuh perhatian, dengan fokus pada pengajaran dan bimbingan, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ungkap Ockwell-Smith.

Dalam metode ini, orang tua lebih mengutamakan pemahaman terhadap perasaan anak, dengan tujuan untuk mengajarkan anak cara mengelola emosi dan perilaku dengan cara yang penuh kasih, tetapi tetap konsisten dalam menetapkan batasan yang sehat.

Lalu apa bedanya dengan permissive parenting?

Sering dianggap sama, padahal gentle parenting dan permissive parenting berbeda lho, Bunda.

Pola asuh permissive parenting lebih dominan kasih sayang, minim batasan yang jelas dan hukuman. Orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung sangat penyayang, namun memberikan sedikit pedoman dan aturan.

Alasannya, orang tua memilih untuk menghindari konflik dengan anak dan cenderung memberi izin pada hampir semua yang diinginkan oleh anak, tanpa banyak pembatasan atau konsekuensi. Dengan kata lain, anak diberikan kebebasan yang terlalu besar dan hampir tidak ada batas kedisiplinan.

Gentle parenting tetap memberikan batasan yang jelas dan konsisten meskipun dilakukan dengan empati dan pengertian. Sebaliknya, permissive parenting cenderung menghindari aturan dan memberikan kebebasan yang sangat besar kepada anak.

Hal yang sering disalahartikan orang tua tentang gentle parenting

Ada beberapa persepsi keliru terhadap pola asuh gentle parenting, yang membuat penerapannya jadi tak sesuai. Berikut contohnya, Bunda:

1. "Orang tua tak boleh menolak keinginan anak"

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang gentle parenting adalah anggapan bahwa orang tua tidak boleh mengatakan 'tidak' kepada anak.

Pola asuh ini sering digambarkan sebagai pendekatan yang terlalu berfokus pada keinginan dan kebutuhan anak, tetapi kurang memberikan aturan.

"Padahal gentle parenting pada dasarnya merupakan salah satu bentuk authoritative parenting, yaitu pengasuhan yang memadukan batasan yang tegas dengan hubungan yang hangat," kata psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, dikutip dari Parents.

Penulis buku Autonomy-Supportive Parenting: Reduce Parental Burnout and Raise Competent ini juga menegaskan bahwa batasan tetap menjadi bagian penting dalam pola asuh gentle parenting. 

Hal serupa disampakan oleh dokter anak, Chrissie Ott, MD. Menurutnya, kemampuan mengatakan 'tidak' justru merupakan bagian penting dari gentle parenting.

"Anak membutuhkan batasan agar merasa aman. Gentle parenting bukan berarti tidak ada disiplin. Ini adalah disiplin tanpa mempermalukan, mengintimidasi, atau membuat anak merasa malu," kata Dr. Ott.

2. "Ini satu-satunya cara untuk membesarkan anak yang baik"

Edlynn mengatakan tidak ada bukti bahwa gentle parenting merupakan satu-satunya pendekatan yang diperlukan untuk membangun hubungan yang sehat dan aman dengan anak yang cerdas secara emosional.

"Gentle parenting sebagai sebuah pendekatan belum diteliti, sehingga hasil yang diklaim oleh para pendukungnya belum didukung oleh bukti ilmiah," katanya.

Sementara itu, penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa authoritative parenting merupakan gaya pengasuhan yang paling konsisten dikaitkan dengan hasil perkembangan anak yang positif.

3. 'Orang tua tidak boleh marah'

Terkadang, orang tua yang berusaha menerapkan gentle parenting justru menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu burnout karena merasa harus selalu tenang dan responsif secara emosional terhadap anak.

Ketika tidak mampu melakukannya, mereka mungkin merasa bahwa dirinya telah gagal menerapkan gentle parenting dengan benar. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa marah dan lelah juga wajar dirasakan.

"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mampu memberikan contoh tentang menghadapi emosi," imbuh Ott.

4. 'Bisa membuat anak jadi manja'

Kesalahpahaman lain tentang gentle parenting adalah anggapan bahwa pengasuhan ini terlalu permisif dan akan membuat anak jadi manja.

Namun hal ini tidak disetujui oleh Ott. Menurutnya, gentle parenting tetap mencakup aturan dan disiplin ketika aturan tersebut dilanggar.

"Perbedaannya adalah bahwa tujuannya adalah memberikan arahan, bukan menimbulkan rasa takut, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi saja," pesan Ott.

Jika diterapkan secara sehat, gentle parenting tetap membuat orang tua meminta anak bertanggung jawab atas perilakunya, bukan sekadar menuruti semua keinginan anak sampai melampaui batas. Hal tersebut justru lebih tepat dianggap sebagai pola permissive parenting.

5. 'Harus dibandingkan dengan pola asuh orang tua saat kecil'

Pola asuh ini mungkin tanpa sadar membuat orang tua membandingkan dengan yang dialami saat masih kecil dulu. 

Bunda mungkin jadi merasa harus menghapus semua yang pernah dirasakan, sebelum bisa menjadi orang tua yang menerapkan gentle parenting dengan baik. Namun, faktanya tak selalu demikian.

Menurut para ahli, yang lebih penting adalah membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, bukan berusaha mengingat atau mengubah seluruh pola pengasuhan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

6. 'Orang tua harus jadi sosok sempurna'

Pada dasarnya, gentle parenting berakar pada empati dan hubungan yang dekat dengan anak. Untuk mencapai ini, Bunda perlu melepaskan tujuan untuk menjadi 'sempurna'. 

Begitu pula dengan perasaan tidak cukup baik yang mungkin muncul karena tantangan sehari-hari maupun pengalaman masa lalu.

Para ahli sepakat bahwa yang paling penting adalah menjadi orang tua yang hadir untuk anak, mampu menetapkan batasan dengan baik, dan tahu bagaimana memperbaiki hubungan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Itulah penjelasan tentang hal-hal yang sering disalahartikan orang tua tentang gentle parenting, serta perbedaannya dengan permissive parenting.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ayah Terlihat Cuek? Ini Dampaknya ke Mental dan Kepribadian Anak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Pertanyaan Gewa Ini Bikin Mutia Ayu Luluh dan Putuskan Perlihatkan Wajah Sang Putri

Parenting Annisa Karnesyia

Tips Jaga Berat ala Artis Korea Ahn So Hee, Hindari Diet Ekstrem

Mom's Life Arina Yulistara

Komika Ate Bagikan Momen Dampingi Sang Istri Jalani Persalinan Pertama

Kehamilan Amrikh Palupi

6 Hal Sering Disalahartikan Orang Tua Tentang Gentle Parenting

Parenting Kinan

Studi Temukan Waktu Terbaik untuk IMD dan Skin to Skin Pasca Operasi Caesar

Menyusui Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Komika Ate Bagikan Momen Dampingi Sang Istri Jalani Persalinan Pertama

Tips Jaga Berat ala Artis Korea Ahn So Hee, Hindari Diet Ekstrem

Pertanyaan Gewa Ini Bikin Mutia Ayu Luluh dan Putuskan Perlihatkan Wajah Sang Putri

6 Hal Sering Disalahartikan Orang Tua Tentang Gentle Parenting

Studi Temukan Waktu Terbaik untuk IMD dan Skin to Skin Pasca Operasi Caesar

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK