psikologi

Respons Tepat Saat Anak Bilang Dirinya Kesal atau Marah

Melly Febrida 22 Jun 2018
Ilustrasi anak kesal dan marah/ Foto: thinkstock Ilustrasi anak kesal dan marah/ Foto: thinkstock
Jakarta - Bunda tentu pernah mendengar si kecil marah dan bilang, 'Aku sebal sama dia' atau anak mengakui dirinya sedang marah. Biasanya, apa reaksi Bunda? Kalau saya sih lebih sering bertanya ke anak kenapa dia merasa kesal dengan orang tersebut, Bun.

Ketika anak menyampaikan emosi negatifnya seperti marah, kesal, atau nggak suka dengan orang lain, terapis sekaligus pekerja sosial Peter Herbst, MSW, LCSW, bilang baiknya kita nggak langsung menentang atau menolak emosi anak dengan mengatakan, "Kamu nggak bermaksud ngomong gitu kan?'.

Kata Peter, niat orang tua mengatakan penyangkalan itu pastinya baik tapi respons tersebut tidak tepat. Selain penyangkalan, orang tua juga sering mencoba memperbaiki situasi tanpa memahami sepenuhnya. Namun, tahu nggak, Bun, kalau kita menyangkal perasaan anak bisa-bisa si kecil nggak terbiasa atau merasa dilarang mengekspresikan sepenuhnya apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Padahal, merasakan emosi negatif dan perlu mengeluarkannya wajar dialami seorang anak. Lantas, gimana baiknya orang tua merespons? Kata Peter, usahakan memvalidasi emosi anak alias mengakui apa yang anak rasakan dan biarkan dia mengekspresikannya. Validasi emosi anak bisa dilakukan dengan mengatakan, 'Kakak lagi marah ya' atau 'Hmm, kakak kecewa banget ya nggak jadi nonton film bareng ayah'.



"Dengan memvalidasi emosi, anak bisa tahu kalau orang tuanya memahami emosi mereka. Jika refleksi orang tua salah, anak bisa menawarkan koreksi. Misalnya kita bilang anak sedang marah tapi anak mengkoreksi dengan mengatakan dia hanya kesal. Selain itu, kita juga perlu memberi kesempatan anak menjelaskan emosi yang dia alami. Salah satu caranya dengan meminta mereka menceritakan apa yang terjadi atau yang membuat anak kesal," papar Peter dikutip dari NJ.

Setelah anak menceritakan apa yang terjadi, perlahan sampaikan pandangan kita, Bun. Misalnya, Peter bilang Bunda bisa menyampaikan kalau anak punya hak untuk marah dan sebagai orang tua kita mengerti alasan si kecil marah. Tapi, sampaikan juga kalau kita punya pandangan berbeda tentang yang dialami anak.

Dengan begitu nantinya akan terjadi diskusi dan penyelesaian masalah pun cenderung lebih mudah. Dilansir detikHealth psikolog anak dan remaja Alzena Masykouri mengatakan saat anak sedang sangat emosi misalnya dia bilang dirinya kesal banget dan ingin teriak, sebaiknya orang tua membiarkan anak untuk teriak atau menangis. Tapi beri penjelasan pada anak jika habis teriak nanti ia tidak boleh kesal lagi.

"Latihan ini tidak bisa instan karena anak-anak kadang suka lupa dan spontan, serta orangtua tidak boleh membalas dengan memukul atau memarahinya," kata wanita yang akrab disapa Zena ini.


(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi