psikologi

Satu Keluarga Ini Mengenakan Lipstik, Kenapa Ya?

Asri Ediyati Jumat, 22 Jun 2018 - 13.55 WIB
Satu Keluarga Ini Mengenakan Lipstik, Kenapa Ya? /Foto: Twitter Satu Keluarga Ini Mengenakan Lipstik, Kenapa Ya? /Foto: Twitter
Allahabad, India - Satu keluarga memakai lipstik. Mungkin kalau ibu, kakak atau adik perempuan yang memakai nggak terdengar aneh ya. Tapi ada lho satu keluarga asal Allahabad, India yang semua anggotanya termasuk ayah dan anak laki-lakinya memakai lipstik.

Ternyata ada alasan di balik itu, Bun. Jadi, seorang anak laki-laki bernama Cuz dari keluarga itu dibully karena suka berdandan. Cerita ini ditulis oleh sang kakak sepupu, Diksha lewat akun Twitternya.

"Dia (Cuz) tinggal di Allahabad dan dia senang mengecat kukunya, memakai lipstik dan belajar memasak. Sayangnya di rumahnya menganut stereotipikal alpha male-centric, alias semuanya di bawah kuasa kepala keluarga. Jadi Cuz sering jadi bahan lelucon," tulis Diksha.

Diksha bilang saat Cuz memakai lipstik dia sering disebut dengan waria. Diksa bercerita suatu hari ketika ibunya bersiap-siap pergi ke suatu tempat, si kecil Cuz memakai lipstik bundanya yang sudah tak terpakai. Nah, salah satu anggota keluarga bertanya ke Cuz apakah dia ingin menjadi transgender, demikian dikutip dari Metro.

Diksha bilang bahkan sepupu malangnya itu nggak mengerti apa artinya transgender. Tetapi anggota lain dari keluarga besarnya mulai menggoda. Digoda seperti itu Cuz bersembunyi di bawah tempat tidur dan menekan bibirnya karena takut semua orang di rumah akan marah pada dirinya yang memakai lipstik.




Jadi, dalam upaya untuk membantu Cuz, Diksha dan kakaknya memutuskan untuk memakai lipstik juga. Hal ini untuk membantu membuat Cuz merasa nyaman dan diterima.

"Kami harus memanggilnya karena dia berada di bawah tempat tidur dan bilang 'Lihat, kami semua memakai lipstik!'. Dia mengintip dan melihat saudara saya memakainya dan tersenyum. Dia melihat saya dan saudara saya pakai lipstik dan para sepupu di sekitar kami bertepuk tangan. Jadi dia perlahan keluar dari bawah tempat tidur," ujar Diksha dikutip dari People.

Cuz semakin nyaman seiring waktu dan dalam beberapa saat, dia memamerkan lipstik ke orang lain di rumah. Menurut Dikhsa, sering kali ibu selalu merasa sangat malu dengan anak laki-laki mereka yang maskulin dan kuat namun mencoba merias wajah. Atau melakukan hal yang feminin,



Soal mendidik anak laki-laki di zaman sekarang, menurut psikolog Febria Indra Hastati MPsi Psikolog dari Brawijaya Clinic Jakarta, nantinya anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga, akan menjadi pemimpin di masyarakat, meskipun perempuan juga bisa tapi biasanya anak laki-lakilah yang akan jadi kepala keluarga. Sehingga, nomor satu jika kita ingin mendidik anak laki-laki, kita ajarkan dia untuk bertanggung jawab, untuk bisa bersikap jujur.

"Nah bagaimana caranya? Tentunya kita sebagai orang tua harus meneladaninya. Kemudian, yang kedua , kita harus memberikan contoh sosok yang maskulin. Hal ini karena itulah letak pengasuhan seorang pria,kalau pria itu bisa menjalankan peran sebagai ayah secara proporsional maka anak itu akan punya role model yang maskulin," kata Febria.

Tapi, menurut Febria, misalnya orang tua nggak bertanggungjawab, pergi atau melakukan kekerasan kepada anak, maka anak ini nantinya tidak akan melakukan sebuah afiliasi peran atau memberi contoh peran sebagai ayah, akhirnya dia akan menjadi kurang maskulin misalnya.

"Atau misalnya apa yang dinasihatkan nggak sesuai dengan yang dilakukan oleh orang tua. Sehingga anak bisa saja menilai 'ini kok ada kesan munafik ya? Mengapa saya dengar?' Akhirnya ia menjadi sosok yang nggak jujur dan bertanggungjawab," tutur Febria.

Ada peran-peran lain seperti leadership, misalnya dalam Islam diajak untuk menjadi imam salat, lalu bisa juga diajak unutk membantu mengasuh adiknya tapi lebih yang menjaga adiknya supaya nggak digangguin orang. Kemudian diajak membantu yang membutuhkan kekuatan fisik,

"Jadi di sini memang orang tua memiliki peran yang cukup krusial. Orang tua yang membebaskan dan nggak proporsional dalam pola asuh anaknya antara laki-laki dan perempuan bisa membingungkan anak dalam menentukan panutannya," kata Febria.

(aci/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi