psikologi

Kemarahan Seorang Ibu karena Anaknya yang Difabel Dibully

Amelia Sewaka Sabtu, 23 Jun 2018 - 17.00 WIB
Kemarahan Seorang Ibu karena Anaknya yang Difabel Dibully/ Foto: Istimewa Kemarahan Seorang Ibu karena Anaknya yang Difabel Dibully/ Foto: Istimewa
Derbyshire, Inggris - Bagaimana perasaan Bunda kalau si kecil dibully bahkan sampai secara fisik? Pastinya marah banget ya. Ini pula yang sedang dialami seorang ibu dari Inggris yang menyuarakan 'ketakutannya' karena si pembully sudah memotong rambut anaknya lima kali.

Samantha Fleming (34) mengatakan bahwa gadis kecilnya, Melissa Booth, telah berulang kali dipotong rambutnya oleh teman sekolahnya. Keadaan makin memprihatinkan karena kondisi Melissa yang difabel. Ya, Melissa dilahirkan dengan mikrosefali, Bun. Itu berarti kepala Melissa lebih kecil dari ukuran normal karena otak belum berkembang dengan baik atau telah berhenti tumbuh.

"Melissa memulai sekolah barunya pada bulan September 2017 dan dia pulang dengan rambutnya yang dipotong enam kali sejauh ini. Itu terjadi lagi setiap beberapa bulan," tutur Samantha kepada Derbyshire Live.

Awalnya peristiwa ini terjadi ketika pihak sekolah membicarakan betapa berbahayanya alat yang bernama gunting. Saat rambut Melissa dipotong Samantha melapor dan pihak sekolah berjanji akan melakukan pengawasan lebih.



"Tapi hal itu terjadi lagi dan saya tidak senang. Setiap kali rambut Melissa dipotong, saya harus memotongnya lagi dua sampai lima cm untuk membuatnya lurus. Tetapi butuh waktu lama supaya rambutnya tumbuh lagi karena masalah kesehatan yang dihadapi Melissa," papar Samantha.

Samantha sebenarnya sudah banyak berbicara ke pihak sekolah dan direspons bahwa laporan apapun mengenai bullying akan ditindak serius. Apalagi dengan keadaan anaknya yang memiliki mikrosefali, Melissa punya masalah pemrosesan yang memengaruhi cara dia memprogram otaknya.
Kemarahan Seorang Ibu karena Anaknya yang Difabel DibullyRambut Melissa ketika dipotong oleh teman-temannya. Foto: Istimewa

"Dari 6 bulan lalu ia sangat berjuang untuk menyusun kalimat-kalimat pada pelajaran. Ia juga punya masalah pendengaran yang memengaruhi perilakunya. Saya rasa dengan kondisinya ia berurusan dengan orang yang salah karena dia nggak bisa membedakan antara yang nakal dan yang baik," kata Samantha.

Ibu tiga anak ini percaya bahwa pihak sekolah bisa menyelesaikan masalah bullying yang dialami Melissa. Ya, walaupun beberapa waktu lalu Melissa lagi-lagi mengalami bullying dengan rambut yang dipotong.

"Penindasan dapat berdampak buruk pada anak dan keluarga dan di sekolah ini. Kami mendapat laporan dugaan penindasan dengan sangat serius dan akan diselidiki dengan baik," kata juru bicara untuk Sekolah Dasar Cherry Tree Hill dilansir Mirror.

Pihak sekolah menambahkan untuk mengatasi masalah bullying ini diperlukan kerja sama pihak orang tua. Maka dari itu pihak sekolah juga membicarakan masalah ini dengan Samantha. Karena bagaimanapun prioritas sekolah adalah memberi pengajaran pada anak dengan rasa aman dan nyaman. Duh kasihan ya Melissa, Bun.



Dampak anak yang menjadi korban bullying emang nggak main-main lho, Bun. Dijelaskan psikolog anak dan remaja Anna Surti Ariani, dampak terhadap korban bullying diakui lebih besar daripada yang dirasakan pelaku, terutama terkait risiko depresinya.

"Sisi lainnya kalau dia menolak sekolah misalnya, itu kan perkembangan emosi dan sosialnya menjadi terbatas. Dan karena menolak sekolah, kepintarannya juga nggak terasah, itu yang kemudian memupuk masalah lain," kata psikolog yang akrab disapa Nina ini dikutip dari detikHealth.

Menurut Nina anak itu bisa dibilang 'saringan'nya belum benar-benar jadi, sehingga konsep dirinya cenderung menjadi lebih buruk dan dampaknya bakal lebih kelihatan ketika dibully pada masa anak-anak. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi