sign up SIGN UP search


trending

Kisah Pedih 2 Anak Tajir yang Hidup Bagai di Neraka

Annisa Afani Minggu, 26 Jul 2020 12:44 WIB
HELP, Teenager with help sign. Boy holding a paper with the inscription. Kid holding sheet of paper with word HELP on grey wall background. caption
Jakarta -

Banyak orang iri dengan kehidupan orang kaya karena berpikir hidup dengan uang yang banyak dan harta melimpah bisa membuat bahagia. Meski mungkin bisa, namun tak semuanya mengalami kebahagiaan menjadi orang kaya, seperti yang dirasakan sepasang anak tajir asal Wyoming berikut ini, Bunda.

Mereka adalah Georgia dan Patterson Inman. Georgia dan Patterson Inman adalah anak kembar dari Walker Inman. Walker adalah keponakan pengusaha tembakau terkemuka bernama Doris Duke. Karena putra semata wayang Doris meninggal dunia, Doris mewariskan sebagian besar hartanya sebesar USD1,3 miliar kepada Walker pada tahun 1993 silam.

Meski begitu, Patterson dan Georgia tidak hidup bahagia seperti yang diperkirakan banyak orang. Dengan perangai buruk sang ayah, keduanya justru hidup bagai di neraka.


Dikutip dari ABC News, dua remaja ini tinggal dengan ayahnya sejak usia 2 tahun, setelah kedua orang tuanya bercerai. Walker memenangkan hak asuh atas kedua anaknya dan dibawa tinggal di rumah megahnya bersama para pengasuh.

Sejak itu, anak kembar tersebut mengalami penyiksaan fisik, verbal, dan mental oleh sang ayah. Tak cuma siksaan dari ayahnya, para pengasuhnya juga melakukan hal yang kejam kepada mereka.

Bagi Patterson dan Georgia, bangun di pagi hari menjadi hal yang menakutkan. Karena itu artinya mereka akan menghadapi berbagai siksaan baru dari ayah dan para pengasuh.

Keduanya pernah diminta mandi dengan air mendidih, hidup di ruang bawah tanah tanpa air dan makanan. Selain itu, mereka juga diperlakukan seperti binatang hingga beberapa tindakan sadis yang tidak berkeprimanusiaan lainnya.

Pernah pada suatu hari, Georgia harus memuntahkan nasi basi di karpet rumahnya. Melihat hal tersebut, pengasuhnya marah dan memintanya untuk menelan kembali muntahannya.

Sementara Patterson pernah diminta memakan kotorannya sendiri. Dia mengaku tidak pernah melupakan bagaimana teriakan yang didengarnya saat para pengasuh tersebut meminta dirinya untuk mengunyah kotoran tersebut.

Patterson dan GeorgiaPatterson dan Georgia/ Foto: Dr Phil/

Walker menutupi kekejaman itu dengan sangat baik, Bunda. Bahkan, anak-anaknya kerap diajak piknik atau disuruh memakai berlian ke sekolahnya, sehingga tak ada yang curiga Georgia dan Petterson hidup menderita.

Jika ada yang memergoki perbuatan kejamnya, sang ayah akan membayar orang tersebut untuk tutup mulut dan tetap membuat Patterson dan Georgia tinggal bersamanya. Bahkan, sang ayah juga tak segan membunuh seseorang yang memergoki sisi gelapnya di depan Patterson dan Georgia. Padahal saat itu, keduanya masih berusia 4 tahun lho, Bunda.

Atas perbuatan sadis yang diterimanya, Georgia dan Patterson yang menderita anoreksia sempat berpikir bunuh diri. Mereka juga berharap tak pernah dilahirkan.

"Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kadang aku berharap tidak pernah dilahirkan," kata Georgia.

Semua penderitaan yang mereka alami ini berakhir saat sang ayah yang merupakan pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang meninggal dunia akibat overdosis heroin pada 2010. Pengasuhan pun dikembalikan kepada ibu kandungnya, Daisha Inman.

Georgia dan Patterson mulai melakukan konseling secara intensif untuk kembali membangun hubungan baik dengan ibunya. Mereka juga menjalani terapi untuk mengatasi trauma parah masa lalu.

Sementara itu, pengasuhnya yang kejam diseret ke pengadilan untuk mendapat ganjaran dan mendekap dalam penjara. Pengadilan pun menetapkan kedua anak kembar tersebut berhak mendapat warisan dari ayahnya sekitar USD1 miliar.

Bunda, simak juga yuk 4 faktor yang menyebabkan kekurangan gizi pada anak dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi