sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Ku Korbankan Pernikahan demi Ibu, 2 Tahun Ku Hidup Sengsara

Sahabat HaiBunda Minggu, 02 Aug 2020 20:14 WIB
Shot of a young couple having a disagreement at home caption
Jakarta -

Siapa yang mau rumah tangganya berantakan? Hal ini pasti menjadi semacam mimpi buruk untuk banyak wanita. Tapi itu yang terjadi padaku. Rumah tangga yang baru masuk tahun kedua tak jelas nasib dan kepastiannya.

Jangan bayangkan kalau ada pelakor atau orang ketiga dalam rumah tangga kami. Masalah justru datang dari keluargaku. Bukan, bukan masalah restu yang menjadi penghalangnya. Melainkan hanya karena campur tangan ibuku dalam setiap pengambilan keputusan di antara aku dan suamiku.

Hal itu bermula sebelum kami menikah. Kebetulan, ayahku adalah pensiunan pejabat sebuah perusahaan BUMN. Kondisi ini membuat ibuku terbiasa hidup mewah dengan segala fasilitas yang terbilang enak dan wah.


Memang ku akui, Bunda, dari kecil kami selalu hidup berkecukupan, meskipun harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain mengikuti penugasan ayahku. Sampai aku dewasa, tak ada kata kekurangan dalam hidupku.

Hingga akhirnya ayah pensiun, dan kehidupan kami tentu harus ikut menyesuaikan. Bagi ibuku, itu seperti sebuah pukulan berat yang harus ditelannya pahit-pahit. Sedangkan aku, jauh lebih mudah beradaptasi dengan kondisi tersebut. Apalagi saat itu, aku sudah bekerja dengan penghasilan yang lumayan.

Kakakku sendiri beruntung mendapat suami yang bekerja di perusahaan besar. Gajinya pun fantastis, sehingga mereka bisa hidup mapan.

Nah, dari sinilah ibu selalu menuntut aku mencari laki-laki kaya seperti iparku. Rasanya beban kalau harus mencari suami hanya dipandang dari kecukupan materi. Ibu jadi sering membanding-bandingkan kehidupanku dengan kakak beserta suaminya.

Sedangkan saat itu, aku sudah mengikat hubungan cukup lama dengan teman kuliahku. Bisa dibilang gajinya mencukupi meskipun tak sebesar kakak ipar kami. Hingga akhirnya di pertengahan 2018 lalu, kami mantap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.

Supervisor scolding a subordinateCerita Bunda Pernikahan impian mama/ Foto: Thinkstock

Dari awal, ibuku tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga suamiku. Tapi ya ampun, tuntutannya untuk syarat pernikahan kami kok rasanya mengada-ada dan susah untuk dipenuhi. Mulai dari minta ini dan itu, yang masih kami iya-iyakan saja.

Tak hanya berhenti sampai di situ, ibuku juga menuntut pesta perkawinan megah di sebuah hotel mewah. Dengan fasilitas swimming pool dan garden party. Alasannya biar enggak memalukan kalau mau mengundang teman-teman arisan dan klub dansanya.

Tentu saja aku pusing, bagaimana tidak ibuku menuntut ini dan itu tapi membebankan semua biaya pesta pernikahan pada kami. Aku dan suamiku memang sudah punya tabungan bersama sejak pacaran. Rencananya, itu menjadi tabungan untuk DP rumah setelah menikah.

Tentu saja perdebatan tak bisa dielakkan antara aku dan suamiku. Tapi, daripada pernikahan yang sudah direncanakan gagal di tengah jalan, kami coba ikut saja kemauan ibuku.

Enggak berhenti sampai di situ, ibuku juga menuntut aku harus cantik paripurna. Aku harus tampil secantik putri di hari spesialku. Wajah dan tubuhku harus perfect dan singset.

Aku yang berperawakan bongsor tentu sakit hati mendengarnya. Sudah dari kecil aku terbiasa dipanggil Endut karena postur tubuh yang tinggi dan besar. Apalagi aku memang ditakdirkan berkulit tidak seputih teman-temanku lainnya, meskipun tidak gelap ya, Bunda. Rasanya kok body shaming banget kalau menuntut aku harus secantik Syahrini di hari pernikahanku sendiri.

Ibu enggak mau tahu. Titik. Itu yang aku tangkap dari setiap pembicaraan kami. Akhirnya aku menemui expert untuk program pengurusan berat badan. Setiap minggu uang ku buang sia-sia untuk suntik diet dan suntik memutihkan badan. Hal yang sebenarnya sangat-sangat aku benci dan tidak ku inginkan, Bunda.

Gaun pengantin pun harus cetar membahana berbentuk ball gown yang luxury. Ibuku enggak mau tahu bagaimana nantinya, penampilanku harus ramping dan mempesona. Hmmm... hari-hari jelang pernikahan yang harusnya kulewati dengan tawa bahagia berubah jadi tangisan pedih, yang ku tahan sendirian di dalam kamar.

Pesta pernikahan pun berjalan sesuai harapan ibuku. Namun setelahnya, aku masih pusing membayar semua tagihan. Tabungan pun terkuras habis tak tersisa.

Hingga kini di tahun kedua, aku dan suami masih harus pontang-panting menutupi kebutuhan kami. Jangankan rumah tinggal seperti impian kami, untuk biaya imunisasi si kecil pun harus pandai-pandai ku sisihkan. Maklum, Bunda, setelah menikah aku langsung hamil jadi tidak bisa full bekerja seperti dulu.

Ditambah kondisi saat pandemi seperti sekarang ini. Pekerjaan kami berdua terdampak, dan selama empat bulan hampir zero income. Suami terpaksa mengadu nasib ke Kalimantan. Tapi tetap saja masih belum mencukupi kebutuhan.

Menjalani LDR membuahkan masalah baru bagiku. Setiap hari rumah tangga kami dipenuhi dengan pertengkaran. Sindiran dan berbalas kata-kata pedas menjadi topik pembicaraan kami. Apalagi kalau sudah menyangkut soal uang. Salah menyalahkan pun tak terelakkan. Sudah berhari-hari tak ada komunikasi di antara kami. Entah gengsi atau malas terpancing emosi, yang membuat kami menahan untuk tak saling menghubungi lagi.

Sedangkan aku yang masih menumpang di rumah ibu, tentu tak berani menceritakan kondisi rumah tangga yang sebenarnya. Tidak menerima sindiran dari ibuku saja sudah luar biasa. Sudah kebal rasanya kuping mendengar dibanding-bandingkan dengan kakak ipar yang kaya raya.

Aku berharap bisa segera menyusul suamiku, dan hidup jauh dari ibuku. Doakan rumah tangga kami tetap utuh ya, Bunda, meski badai sedang menerpa.

(Cerita Bunda Rina - Bandung)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak yuk cerita Kirana Larasati yang bercerai setelah dua tahun menikah, dalam video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi