sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Merinding, Anakku Hilang di Tengah Sawah Mengaku Diajak Main Ular Raksasa

Sahabat HaiBunda Senin, 24 Aug 2020 19:30 WIB
A young boy is looking through binoculars while hiding in the tall grass of an English field. He could be spying on or searching for something newsworthy. Image taken in the sunset light and with shallow depth of field. caption
Jakarta -

Sebagai orang yang besar di pondok pesantren, aku tumbuh sebagai orang yang patuh terhadap ilmu agama. Termasuk dilarang untuk percaya pada hal-hal yang mistis.

Namun, kejadian beberapa tahun lalu membuatku goyah dengan keyakinanku. Siang itu, adalah hari Jumat terakhir di Bulan Desember. Sedangkan bulannya sendiri masih Muharam, atau orang-orang di desaku menyebutnya bulan Suro.

cerita


Aku menyuruh anak lelakiku untuk segera ke Masjid. Meskipun masih 7 tahun, aku dan suami sudah membiasakannya untuk disiplin beribadah.

Ia terbiasa ikut teman-temannya yang sudah lebih besar untuk salat Jumat di Masjid Jami'. Untuk mencapai Masjid tersebut, mereka pun lebih suka memotong jalan lewat persawahan. Selama ada temannya, aku tak pernah khawatir akan hal itu.

Setelah kupanggil berkali-kali, ia tak juga menyahut. Kupikir, dia memang sudah berangkat lebih awal. Tapi saat teman-temannya baru lewat depan rumah, terbersit rasa khawatir di hatiku.

Akhirnya aku datangi rumah tetangga satu per satu untuk mengecek keberadaannya. Setelah tak kunjung ketemu, aku pun meminta bantuan para tetangga untuk ikut mencari di warung atau sekolahnya.

A young boy is looking through binoculars while hiding in the tall grass of an English field. He could be spying on or searching for something newsworthy. Image taken in the sunset light and with shallow depth of field.Ilustrasi anak main di tengah sawah/ Foto: iStock

Bahkan, Ayahnya kuminta pulang dari sekolah tempatnya mengajar untuk mengecek di Masjid Jami. Suami ku mengabarkan kalau ia tak menemukan anak kami di masjid.

Rasa deg-degan, cemas dan takut bercampur menjadi satu. Kami cari anakku keliling kampung dari jam 11.00-12.30. Setelah 1,5 jam tak juga ketemu, ada sesepuh di kampung kami yang menyarankan untuk mencari anakku menggunakan kentongan.

Sebagian orang di kampung percaya, cara itu bisa memanggil kembali anak yang hilang dibawa hantu. Percaya tidak percaya, saat itu aku memilih untuk menuruti semua saran tetanggaku.

Puluhan orang di kampungku ikut mencari anakku dengan memukul kentongan bambu. Sambil berteriak-teriak memanggil nama anakkku.

Setelah setengah jam berlalu, anakku muncul dengan wajah linglung dari mata air di tengah-tengah sawah. Ia mengaku mendengar banyak orang memanggil namanya, bakan ribut sura kentongan ditabuh berganti-gantian.

Dia bahkan sudah berteriak kalau berada di mata air di tengah sawah. "Aku di sini, aku di sini di belik (mata air)," ucap anakku.

Dia mengaku keheranan karena tak ada yang bisa mendengar suaranya. Hingga memutuskan untuk keluar dari mata air tersebut. Tapi anehnya, menurut anakku jalannya tak sampai-sampai padahal jalan tersebut sudah biasa ia lalui bersama teman-temannya.

Anehnya lagi, ia tak merasa lama bermain di tempat tersebut. Menurut pengakuan anakku, ia ingin berangkat salat Jumat lebih cepat karena sudah mendung dan takut hujan. Sambil menunggu teman-temannya di pinggir jalan di dekat sawah, ia melihat ada ular yang sangat besar sekali.

Penasaran dengan ular tersebut, ia pun mengikuti jalannya mahluk melata itu untuk masuk terus ke tengah sawah. Hingga ia tak sadar diajak bermain-main dengan ular yang berukuran panjang dan besar.

Ceritanya mengalir lancar, dan rasanya susah untuk menuduh ia berbohong. Jika memang ia mengarang cerita, mungkin sudah tersendat-sendat mengarang setiap detail ceritanya.

Bahkan, ia bisa menunjukkan bukti jejak ular yang mengajaknya bermain. Pada semak rerumputan terlihat bekas baru dilalui, dengan bentuk sempit tapi memanjang.

Anakku mengatakan, pada saat banyak orang yang memanggilnya dengan kentongan bambu. Ular itu menyuruhnya pulang dan masuk ke dalam air.

Entahlah Bunda, ini cerita nyata atau hanya karangan anakku saja. Tapi, aku dan suami tak mau menuduhnya berbohong.

Setelah kejadian tersebut, aku semakin rajin menasihatinya untuk rajin ibadah. Serta memberinya motivasi agar tak menjadi anak yang penakut.

Oh ya, aku pun melarang ia main atau sekadar melintasi sawah tersebut. Aku tak mau kejadian serupa terulang kembali padanya.

(Cerita Bunda Sari - Jawa Tengah)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk cerita mistis dr.Hastry selama mengidentifikasi jenazah yang menjadi korban pembunuhan dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi