sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Nelangsa Nikahi Pria Kaya, Terhina & Dipaksa Pulang Kampung Urus Mertua

Sahabat HaiBunda Selasa, 04 Aug 2020 20:03 WIB
Tired concerned new mother rocking crying baby in kitchen. Portrait of young woman and cute little child in home interior. Motherhood concept caption
Jakarta -

Menikah dengan orang kaya tak selamanya berakhir bahagia. Setidaknya, kisah saya ini akan menjadi salah satu buktinya.

Terlahir di keluarga biasa-biasa saja, membuat saya harus mandiri sejak muda. Selepas SMA, dengan bermodal baju dan beberapa uang di dompet saya beranikan diri merantau ke Tangerang. Kota Industri yang menjadi tumpuan banyak lulusan SMA untuk menyambung hidup.

Selama tinggal di sana, saya pun seperti remaja pada umumnya. Mencoba menjalin persahabatan dengan banyak orang lewat Faceboook. Hingga suatu ketika, ada seorang pemuda tetangga kampung di Jawa Barat sana meminta pertemanan.


Merasa mengenal namanya, tanpa pikir panjang langsung saya terima permintaan pertemanan tersebut. Sebut saja namanya Aa Arul, anak seorang juragan kontrakan yang terpandang hingga satu kecamatan.

Saat itu, Aa Arul bekerja sebagai Chef di luar negeri. Melalui fitur chat, kami saling bertukar cerita sehari-hari. Aa Arul pun rutin membagikan cerita sering pindah dari satu negara ke negara lain karena kepiawaiannya memasak.

Tired concerned new mother rocking crying baby in kitchen. Portrait of young woman and cute little child in home interior. Motherhood conceptCerbun nelangsa nikahi orang kaya/ Foto: iStock

Lambat laun, kedekatan di antara kami pun berubah menjadi cinta. Saya pun menerima hubungan jarak jauh, dan hanya bertemu dengannya setahun sekali saat ia berkesempatan pulang ke Indonesia.

Setelah menjalin hubungan sampai 3 tahun, akhirnya Aa Arul meminang saya. Datang ke orang tua dan meminta saya sebagai istrinya.

Sebagai tulang keluarga dengan 4 adik yang masih sekolah, saya pun mengajukan syarat. Salah satunya tetap diperbolehkan bekerja untuk membantu orang tua.

Saat itu, keluarga mereka tak mempermasalahkan syarat tersebut. Bahkan, mereka pun terlihat sangat baik dan tidak memandang miring kondisi ekonomi keluarga saya.

Pernikahan dilangsungkan besar-besaran dengan ribuan undangan. Berbagai hiburan pun digelar untuk mengundang kerabat dan rekan kerja mertua.

Setelah pernikahan selesai digelar, kehidupan berjalan seperti semula. Aa kembali ke Eropa untuk menyelesaikan kontrak kerjanya. Sedangkan saya, kembali ke Tangerang untuk kembali bekerja.

Meskipun kiriman Aa lumayan besar, tapi saya tak berani memakainya. Saya selalu izin jika ingin menarik saldo dari ATM miliknya. Meskipun Aa sendiri tidak mempermasalahkan uang yang saya pakai. Hanya saja, rasanya sungkan karena merasa sudah terbiasa mandiri sejak gadis.

Setahun kemudian, Aa pulang ke Indonesia selama dua bulan. Kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk honeymoon. Tak disangka, Allah mempercayakan saya untuk hamil.

Saat hamil sebulan, Aa harus kembali bekerja di luar negeri. Terpaksa harus saya jalani hamil seorang diri. Morning sickness, mual, pusing dan sakit harus dijalani tanpa keluarga.

Saya berusaha tegar di kos-kosan sendirian. Bangun pagi-pagi dan pukul 05.30 sudah berangkat kerja. Saat itu ojek online belum sepopuler sekarang, sehingga transportasi ke tempat kerja masih mengandalkan angkot.

Rasanya sakit menanggung segala kepayahan seorang diri. Keluarga suami pun seolah menutup mata, dan tak ada satu pun yang menanyakan kabar saya. Padahal kedua kakaknya berprofesi sebagai dokter di Jakarta.

Namun, semua rasa sakit hati itu cukup tersimpan di dalam dada saja. Tanpa terasa, waktu melahirkan pun tiba. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung, agar mengurus anak bisa dibantu ibu saya.

Keluarga suami datang menjenguk. Namun, terlihat hanya formalitas dan tak ada kabarnya lagi setelah itu. Kami pun memilih untuk memaklumi. Mungkin, memang seperti itulah cara orang kaya berkomunikasi.

Setelah tiga bulan cuti melahirkan selesai, akhirnya saya kembali bekerja. Meninggalkan jagoan kecil di rumah ibu, karena tak memungkinkan membawanya ke kos-kosan di Tangerang.

Banjir air mata pun tak bisa dielakkan. Saya terpaksa berhenti menyusuinya saat ia berusia belum genap 3 bulan. Mau berhenti kerja, ada 4 adik yang bergantung hidup pada saya. Oh ya, Bunda, kondisinya ibu saya adalah single parent. Jadi memang saya adalah tumpuan hidup mereka.

Selama berbulan-bulan rasa bersalah menghantui. Perasaan ibu gagal menghakimi diri sendiri. Bercerita ke suami pun rasanya percuma. Sebab, dia hanya memberikan pilihan berhenti bekerja tanpa memberikan solusi keuangan adik-adik saya.

Hubungan jarak jauh dengan perbedaan waktu, membuat komunikasi kami sangat terbatas. Berbicara pun seadanya saat telepon, karena mahal dan sudah keburu ngantuk.

Aa Arul berkesempatan pulang kembali setelah anak kami berusia 4 bulanan. Anak asing melihat Papanya sendiri. Kesedihan bertambah lagi di situ. Tapi, lagi-lagi hanya bisa dirasakan seorang diri.

Hingga puncaknya, mertua meminta saya dan si kecil untuk tinggal di rumah mereka. Alasannya agar tidak kesepian karena usia yang makin menua. Serta ada yang mengurus bisnis penginapan dan kolam ikan milik keluarga.

Duh, Ya Allah, lalu bagaimana nasib adik-adik yang masih butuh biaya di rumah? Suami janji akan memberikan bantuan. Tapi, saya tidak yakin akan hal itu. Tabungannya yang seharusnya menjadi hak istri dan anak-anaknya pun lebih sering diberikan pada saudara-saudaranya. Sebagai pemegang ATM, saya malah lebih sering diminta transfer ke A, B, atau C.

Mengurus bisnis keluarga suami pun tidak jelas bagaimana pembagiannya. Bukan niat hati mau hitung-hitungan, tapi saya dalam kondisi butuh uang untuk keluarga.

Desakan demi desakan terus mereka lancarkan. Bukan soal bisnis keluarga yang terbengkalai, tapi rasanya mereka butuh orang yang bisa menjaga orang tua di masa senja. Apalagi kondisinya saat itu Abah mertua sudah sakit-sakitan akibat jantung.

Padahal kedua anaknya merupakan dokter yang seharusnya bisa mengurus ayahnya sendiri. Di luar alasan itu, saya pun mendengar selentingan bahwa mereka malu punya menantu bekerja di sebuah pabrik di Tangerang. Berbeda dengan identitas keluarga mereka yang serba terpandang.

Padahal, kalau mau dibuka gaji saya pun besar hampir dua kali lipat UMR. Sangat berarti untuk ibu rumah tangga lulusan SMA yang harus menghidupi 5 orang keluarganya.

Suami pun mulai meneror kenyamanan saya bekerja. Berbagai alasan pun dicoba untuk merayu saya. Hingga akhirnya alasan agama dikeluarkannya untuk memaksa saya pulang kampung.

Meski dengan berat hati, akhirnya saya mencoba ikhlaskan keluar kerja dan tinggal di rumah orang tuanya. Selama tinggal di rumah mertua tanpa kehadiran suami, rasanya saya bagaikan orang lain yang menumpang hidup.

Rasa sakit hati kepada kedua kakak ipar pun hanya bisa ditelan pahit-pahit. Sedangkan saya sebagai menantu harus kerja dari sebelum adzan subuh hingga malam hari untuk mengurus kedua orang tua mereka.

Keuangan keluarga pun morat-marit. Adik-adik terpaksa harus kreatif mencari uang tambahan sendiri, demi bisa bayar sekolah. Suami? Hanya bisa bilang sabar.

Apalagi sekarang sudah 5 bulan restoran tempatnya bekerja ditutup akibat Corona. Kiriman darinya pun berhenti terkirim. Rasanya ingin menjerit di tengah himpitan ekonomi dengan mengurus mertua yang tak mungkin ditinggal begitu saja.

Ya Allah Ya Rabbi kuatkan hati hamba, semoga badai ini segera berlalu. Untuk adik-adik, kita bersabar dulu dan tunggu kakak berjuang untuk kita semua.

(Cerita Bunda Rara - Jawa Barat)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga cerita Enno Lerian menjalin komunikasi dengan mantan suami dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi