sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Ya Tuhan Kakak Iparku Sungguh Culas, Hancurkan Bisnis & Keluargaku

Sahabat HaiBunda Senin, 27 Jul 2020 20:50 WIB
Upset girl with a phone caption
Jakarta -

Kedamaian di keluarga kami sirna setelah kehadiran kakak iparku. Sebagai keluarga besar, kami terbiasa melakukan semuanya bersama-sama. Mulai dari makan, nonton tv, hingga liburan keluarga.

Namun, semua tinggal kenangan ketika satu-satunya kakak lelakiku menikah. Kehadiran istrinya bak duri tajam yang mengusik kerukunan keluarga.

Rasanya tak ingin bercerita, namun rasa ini sudah sesak di dada. Hal itu bermula kakakku dan istrinya memilih tinggal di rumah mertua. Namun, perbedaan budaya membuat kakakku tidak betah tinggal di sana.


Rasanya, setiap hari ada saja masalah yang membuat kakakku ingin segera meninggalkan rumah sang mertua. Singkat cerita, akhirnya diboyonglah sang istri tercintanya ke rumah orang tua kami.

Tapi, semenjak itu selalu saja ada masalah yang timbul. Mulai dari kakak iparku yang mengadu dicueki oleh kami adik-adik iparnya, merasa kesepian, hingga puncaknya dia minggat dari rumah.

Upset girl with a phoneCerita Bunda menganai saudara ipar/ Foto: iStock

Waktu itu sempat gempar karena kakak laki-lakiku ngamuk hebat membela sang istri. Sedangkan saat kejadian, kami sekeluarga sedang asyik melihat televisi di ruang keluarga. Awalnya ibu memanggil-manggil namanya untuk bergabung bersama. Tapi, kok tiba-tiba dia hilang.

Setelah kakakku pulang dari kantor, kagetlah kami karena tak ada orang di kamarnya. Setelah beberapa hari, baru diketahui jika ia menginap di rumah temannya dan minta dijemput oleh suaminya. Itu hanya sekelumit keanehan yang dia buat, Bunda.

Drama tak berhenti sampai di sini saja. Ternyata masalah ini menjadi akar dari perpecahan di keluarga kami. Hingga suatu ketika, beberapa tahun setelahnya kakak laki-laki kami di PHK oleh kantor tempatnya bekerja.

Aku yang saat itu sudah berkeluarga ikut suami tinggal luar kota. Suamiku pun iba pada kondisi mereka yang telah memiliki anak, dan butuh biaya untuk sekolah.

Akhirnya, suami memintaku untuk menghubungi mereka. Kami menawarkan bantuan, agar mereka menjadi reseller dari usaha online yang sedang kami rintis. Cabang usaha di kota mereka kami serahkan sepenuhnya dengan istilah bagi hasil.

Untuk usaha ini, penghasilan kami lumayan, Bunda. Sehingga kami berani mengajak mereka untuk bergabung. Untuk urusan modal, kami ringankan karena hitung-hitung bantu saudara sendiri. Padahal, kalau mau jujur bisa mencapai jutaan rupiah untuk memulainya.

Bahkan, alamat untuk membeli barangnya pun tidak kami tutup-tutupi. Kami percaya sepenuhnya pada mereka. Namun, air susu dibalas air tuba rupanya.

Tak pernah kami sangka kakak ipar kami menjadi biang kerok di dalamnya. Setelah hampir setahun berjalan, aku dan suami mulai curiga kenapa jumlah orderan dari kota mereka berkurang drastis. Padahal selama ini menjadi sumber pendapatan pertama kami. 

Setiap kami tanya, selalu kakak ipar yang menjawab. Dia mengatakan, produk kami mulai kehilangan peminat belakangan ini. Bahkan menurutnya, jumlah setoran berkurang sehingga tidak bisa transfer hasil penjualan kepada kami.

Jumlah modal besar yang aku dan suami alokasikan untuk usaha kakakku tidak sedikit. Jujur saja, Bunda, hal tersebut berimbas pada pemasukan usaha.

Namun, sebusuk-busuknya bangkai ditutupi akan tercium juga. Kelicikannya terkuak saat bulan lalu kami memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Pada saat bersamaan, ada truk datang membongkar muatan di depan rumahnya.

Tak kusangka, ternyata itu barang-barang dagangan sama seperti jualan kami. Ternyata, dia diam-diam menjalankan usaha di belakang kami dengan order langsung ke distributor. Tak perlu kuceritakan lagi ya, Bunda, pasti tahu kalau hal tersebut mendatangkan keuntungan lebih besar.

Kuurungkan niat untuk masuk ke rumahnya. Langsung kami putar arah ke rumah orang tua kami. Dan meminta bantuan Ayah dan Ibu untuk menyidang mereka semua.

Kakak laki-laki datang dengan wajah pucat. Sedangkan iparku memasang muka tak bersalah. Rasanya darah sudah mendidih saat itu, tapi ibuku memohon agar aku bersabar.

Meskipun perkelahian tak dapat dihindarikan, rasanya tak tega melihat ibu menangis sambil memelukku. Padahal tangan ini ingin menjambak dan memukul kakakku. Tapi demi Ibu dan Ayah, aku urungkan semua. Saat ini, tak sudi aku melihat mereka. Sakit hatiku tak akan terobati rasanya.

Aku dulu menolong mereka dan mengeluarkan dari lubang kesusahan. Kini, bagaikan mereka mendorongku dan suami masuk ke jurang yang gelap. Meski gelap kurasa, ku hanya bisa berharap agar mereka mendapat balasan yang setimpal.

(Cerita Bunda Rara - Serang, Banten)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk rahasia Enno Lerian akur dengan keluarga mantan suami dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi