sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Dear Putri Pertamaku, Maafkan Bunda yang Kerap Berteriak & Menyakiti Hatimu

Sahabat HaiBunda Senin, 15 Nov 2021 17:40 WIB
mother scolds her child Ilustrasi memarahi anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Choreograph
Jakarta -

Marah itu sudah kurasakan sejak pagi hari. Namun, melihat matanya sudah berair terlebih dahulu, membuatku memilih untuk menahan tangan untuk tak mencubitnya.

Rasanya memang sulit untuk tidak menyemburkan omelan ketika melihat makanan tumpah di lantai, air kamar mandi dipenuhi busa yang dimainkannya, hingga menyeret adiknya yang masih bayi hingga menangis menjerit-jerit.

Istighfar dan helaan napas sudah berkali-kali kutarik dan hembuskan. Nyatanya, hal itu tidak mempan untuk membendung amarah yang sudah kadung memenuhi dadaku.


Omelan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk putri sulungku. Mungkin, di usianya yang belum genap 5 tahun, ia tak mengerti mengapa Bunda seringkali meledak-ledak memarahinya.

Dari tatapan matanya, tersirat berbagai pertanyaan, "Aku salah apa, Bunda?" "Kenapa Bunda senang sekali meneriaki aku, mencubit pahaku, bahkan mengurungku di kamar, cuma gara-gara aku menolak makan atau enggak mau mandi."

Sejumput kewarasanku hari ini, membuatku memilih menahan emosi dengan berbagi cerita ini pada Bunda semua. Jika suatu saat dan ia sudah dewasa nanti, aku ingin putriku tahu bahwa aku selalu menyesal setiap kali memarahi atau mencubitnya.

Anggap saja, ini sebuah surat cinta Bunda untuk kamu ya.

Young mother scolding her sad little daughter who made a mistake.Ilustrasi memarahi anak/ Foto: iStock

Dear putri cantikku...

Maafkan Bunda yang seringkali kesulitan menahan emosi ketika menghadapimu. Kadang, ada hal-hal di luar kesalahanmu yang memicu Bunda justru memaharimu.

Masalah orang dewasa yang tak terselesaikan, membuat Bunda menahan sesak di dada. Sehingga saat melihat mainanmu berserakan, Bunda langsung berteriak padamu.

Maafkan Bunda, yang ketika bertengkar dengan Ayah justru melampiaskan semua emosi itu dengan memukulmu. Maafkan Bunda yang memarahimu setiap kali adik-adikmu menangis. Maafkan Bunda yang justru memintamu mengalah saat kamu dan adik-adikmu berebut mainan.

Tahukah kamu, Putriku...

Bunda selalu menyesal setiap kali melakukan itu semua. Namun keesokannya, Bunda lagi-lagi sering kehilangan kontrol untuk tidak melampiaskan semua kekesalan padamu.

Setiap kali melihatmu tidur, ada sesal yang membuat Bunda merasa menjadi orang tua paling buruk di muka bumi ini. Setiap kali melihatmu kesakitan sambil menggosok bekas cubitan, selalu ada perasaan bersalah dan enggak kuat melihat tatapan matamu yang kecewa dan terluka.

Mungkin, kesalahan Bunda dan Ayah saat memutuskan menikah adalah tidak siap seutuhnya. Tidak siap secara mental dan ekonomi. Bukan, bukan maksud Bunda ingin membela diri di sini.

Namun, dengan usia Bunda yang belum matang dan ketidaktahuan mengurus anak pertama, membuat Bunda tidak bisa mengontrol emosi terhadap perubahan hidup yang Bunda rasakan.

Ditambah kesulitan ekonomi di awal-awal kelahiranmu, membuat Bunda selalu menyalahkan Ayah atas ketidakberdayaannya memenuhi kebutuhan kita.

Begitu kau lahir, Bunda pun harus terbiasa mengurusmu seorang diri karena Ayah harus terpisah jauh dengan kita. Demi kehidupan yang lebih baik, kita harus rela bertemu dengan Ayah hanya beberapa hari saja dalam sebulan.

Ketika Bunda butuh tempat berbagi beban, Ayah harus sibuk membanting tulang. Dari sinilah Bunda selalu merasa sendiri, selalu merasa kelelahan seorang diri, selalu merasa yang paling menderita dalam keluarga.

Apalagi saat adik-adikmu lahir lebih cepat dari perkiraan. Bunda semakin kelelahan, tanpa tahu bagaimana cara mengurai beban yang dirasakan.

Seringkali, saat kelelahan itu sudah enggak bisa Bunda tahan, Bunda menangis seperti orang gila, lebih kencang, dan lebih tergugu dari tangisanmu ketika berbuat kesalahan.

Maafkan Bunda yang selalu menjadikanmu latihan kesabaran. Sesungguhnya, kamu adalah sekolah yang banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada Bunda dan Ayah.

Kakak yang mengajarkan Bunda untuk lebih bersabar, banyak mengalah, banyak belajar, menurunkan standar terhadap apapun, dan menekan keegoisan sebagai istri dan orang tua.

Melihat sifatmu yang banyak meniru Bunda, semakin menyadarkan Bunda untuk mengubah diri. Bunda ingin menjadi orang tua yang baik. Bunda harus belajar dan terus belajar.

Bunda tidak ingin kamu pintar berteriak, menghardik, dan memukul untuk melepaskan emosi. Bunda tidak mau kamu tumbuh seperti Bunda yang mudah sekali meledak-ledak ketika marah.

Bunda tahu kamu anak yang kuat... Maafkan ketidaksempurnaan keluarga kita. Semoga, semua yang kita alami hari ini tidak menjadi bibit kebencian dan dendam di hati kakak suatu dapat nanti untuk Bunda dan Ayah.

Tumbuhlah menjadi anak pertama yang bisa menjadi kebanggaan Bunda ya, nak.
Terbanglah setinggi mungkin, Bunda akan selalu ada dan merapal doa untuk menjadi penguat kakak.
Bunda sayang kakak.

Ditulis dengan bercucuran air mata dan perasaan bersalah.

(Bunda Rara - Jaksel)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke [email protected]nda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!