sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Serius Saya Bingung: COVID-19 Ngegas, Full PTM Kok Lanjut Terus?

Sahabat HaiBunda   |   Haibunda Rabu, 27 Jul 2022 17:16 WIB
Sejumlah anak sekolah dasar di Barcelona, Spanyol, kembali bersekolah di sekolah. Beragam protokol kesehatan pun diterapkan guna cegah COVID-19. Ilustrasi anak sekolah dan COVID-19/Foto: AP Photo/Emilio Morenatti
Jakarta -

HaiBunda, saya M Bunda dari Tangsel dengan tiga anak yang sudah pada sekolah FULL Pertemuan Tatap Muka (PTM). Anak pertama saya sudah SMP kelas 8, yang kedua MI kelas 2, dan yang bontot baru masuk sekolah langsung TK B.

Sekolah baru masuk dua minggu, qadarullah saya tertular COVID-19. Alhamdulillah Satgas COVID-19 sigap. Masih banyak yang bertanya, saya tertular di mana sih?' Kan masker rajin dan anak rumahan? Saya juga nggak tahu, Bun. Banyak titik lengah yang mungkin tidak saya sadari.

Saya bukan tipe Emak-emak yang suka nongkrong. Jalur yang saya putari ya tukang sayur serta jalur sekolah anak yang MI Kelas 2 dan TK B. Kalau anak yang SMP biasanya berangkat dianter Ayahnya, pulang pakai ojol.


Banner Tips Besarkan Anak AutismeFoto: HaiBunda/ Novita Rizki

Setiap pulang sekolah anak-anak juga langsung mandi dulu. Dan, sore harinya saya mengantar dan terkadang menunggui ketiga anak saya yang mengaji. Jadi bagaimana saya tahu tertular dari mana?

Ada beberapa hal yang ingin saya tekankan di sini soal jam makan. Waktu itulah anak-anak buka masker, benar-benar titik lengah siapapun.

Untuk TK, anak-anak hanya buka masker saat snack time karena jadwalnya kembali normal hingga pukul 11.00 WIB. Jadi kalau tidak makan, kasihan. Di mana saat mereka snack time? Di dalam kelas, ya benar di dalam kelas.

Bagaimana dengan yang MI/SD? Nah ini, pulangnya itu sekitar 13.40 WIB. Anak sekolah zaman sekarang jamnya padat. Dua kali waktu makan, snack time dan lunch time. Dua kali buka masker 'kan? Gurunya menjanjikan makan diatur seaman mungkin.

Sama halnya dengan anak SMP, yang pulang 13.50 WIB. Mereka tentu sudah bisa memilih mana yang dirasa baik untuk dirinya. Anak saya memilih makan di luar di saat jam istirahat siang.

Itu baru soal makan ya. Tapi dari makan ini kita juga harus ingat, masker dibuka anak-anak yang sekolah sehat. Bagaimana dengan keluarganya di rumah? Adakah yang baru sakit tapi abai saja.

Pemberian vaksin booster terus digencarkan di Indonesia. Vaksinasi dosis ketiga itu dilakukan sebagai upaya menekan laju penyebaran varian Omicron di Tanah Air.Ilustrasi anak sekolah dan COVID-19/ Foto: Pradita Utama

Pihak guru, mungkin tahu anak-anak mana yang sakit karena izin seringnya langsung ke guru. Tapi sebelum masuk, nggak permintaan anaknya dites COVID-19 dulu. Karena hanya anak yang COVID-19 serta kontak erat COVID-19 yang harus antigen dulu sebelum masuk.

Bunda, saya tahu tes lab itu mahal. Tapi sakit itu lebih mahal, amit-amit ya kalau sampai ada long covid atau Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C). Dana BPJS saja nggak sanggup membiaya semua pemeriksaan MIS-C. Bahkan saya baca, sarana prasarana di rumah sakit di Indonesia saja belum lengkap karena itu penyakit baru.

Kalau tes COVID19 ke lab mahal, sekarang banyak kok yang jual ketengan di marketplace. Banyak jalan menuju Roma, Bunda. Takut colok, pilih saliva. Valid nggak? Kalau hasilnya positif artinya disuruh istirahat. Kalau ada budget lebih, silakan PCR ke Lab. Insha Allah antigen mandiri valid.

Satu lagi yang saya bingung. Sekarang perizinan anak sekolah bagaimana ya? Seiinget saya dulu ada aturan, jika anggota keluarga yang serumah sakit meski itu batpil anak-anak mohon tidak masuk sekolah. Sekarang, tentu beda. Hanya anak yang kontak erat COVID-19 atau COVID19. Anak yang flu izin sampai badan sehat.

Saya termasuk yang senang anak-anak bisa PTM lagi. Ibaratnya, hore Bunda lega. Ya, Bunda pasti tahu kan bagaimana emosinya dampingin anak sekolah MI Kelas 2 sama TK. Chaos!!

Saya tidak ingin anak-anak jadi learning loss. Tapi, kebijakan untuk pihak sekolah itu bagaimana ya? Seperti memaksakan di saat COVID-19 ngegas.

Curhatan saya bisa saja terlihat lebay atau apapun labelnya, tapi ya itulah kekhawatiran saya sebagai orang tua. Tolong lihat dari kacamata orang tua.

Teruntuk Mas Menteri Nadiem Makarim beserta jajarannya, tolonglah dengar suara Bunda ini. Tolong, jangan pertaruhkan nyawa anak-anak kami. Seandainya mereka berumur panjang, apa dampaknya jika pernah terkena COVID-19? Apakah Bapak/Ibu Terhormat memikirkan itu? Pak/Bu, COVID-19 lagi ngegas lho.

Saya hanya minta para pemegang Kebijakan Mas Menteri dan Bapak/Ibu yang terhormat lebih membuka mata lagi. Pikirkan lagi ya dari dua minggu ini, bagaimana perkembangannya. Masih dipertahankan atau perlu diubah? 

(Bunda M, Tangerang Selatan)

Mau berbagi cerita, Bun? Yuk cerita ke kami lewat [email protected] Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.

Simak juga video berikut mengenai curhatan tiga Bunda komika di Allo Fest 2022.

(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!