kehamilan

Pertimbangan Dokter Soal Terapi Ibu Hamil Pengidap Kanker Payudara

Asri Ediyati Jumat, 30 Aug 2019 08:03 WIB
Pertimbangan Dokter Soal Terapi Ibu Hamil Pengidap Kanker Payudara
Jakarta - Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak di Indonesia. Selain itu tak menutup kemungkinan kanker payudara terjadi pada ibu hamil. Lalu, bagaimana dengan terapi yang dilakukan pada ibu hamil? Lebih baik menunda sampai melahirkan atau lebih baik diterapi?

Soal ini, menurut Dr.dr.Andhika Rachman, Sp.PS-KHOM., saat ibu hamil didiagnosis mengalami kanker payudara, ada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan oleh dokter dan tim ahli. Tak bisa asal menentukan sang ibu langsung diterapi atau ditunda dahulu terapinya.

"Pasien kanker payudara yang hamil, kita sudah punya pertimbangan, mana yang risiko, mana yang benefit, pasien ini harus dikemo atau tidak. Pertimbangannya apa? Tidak hanya ahli kanker saja yang berperan di sana, harus ada tim. Harus ada dokter kebidanan-nya, dokter anak," ujar Andhika di sela-sela acara Forum Edukasi Media 'Harapan Baru bagi Kanker Payudara HER2-Positif' di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2019).
Ilustrasi pita pink, simbol kanker payudara/ Ilustrasi pita pink, simbol kanker payudara/ / Foto: iStock
Perlu dipertimbangkan lagi apakah ketika dilakukan kemoterapi di trimester awal bisa menyebabkan risiko. Salah satunya kerusakan organ-organ tubuh janin. "Kita saling pertimbangkan, ini kalau dikemo atau enggak dikemo bagaimana. Bagaimana kalau 9 bulan 10 hari dahulu, bisa enggak nih kita tunda dahulu?" sambung Andhika.

Kondisi ibu pun harus dilihat, Bun. Apakah bisa membahayakan nyawa sang ibu hamil atau tidak. Begitu tahu hasilnya ternyata membahayakan kondisi ibu. Itu harus dikuatkan lagi dengan ahli forensik hukum.


"Melihat, kira-kira kalau dikemo, diradiasi berapa persen nih kena janin. Semua ada pertimbangan, karena kita orang kedokteran menghargai kehidupan. Meskipun baru konsepsi, meskipun dia baru telat menstruasi. Jadi enggak gampang untuk menentukannya, ada kajian yang mendalam untuk menentukan, karena harus diputuskan oleh semua tim," ujarnya.

Terlepas dari itu, setelah seorang wanita melakukan kemoterapi, boleh enggak sih kontak fisik dengan suami? Kata Andhika, boleh saja tapi jangan sampai hamil. Apalagi kalau yang kemoterapi adalah perempuan.

"Kenapa? Karena kondisi selnya sedang rusak, ketika dia bertemu, berhubungan kemudian hamil itu bisa rusak janinnya. Makanya setiap pasien kanker payudara yang dikemoterapi selalu ada warning-nya enggak boleh hamil atau berhubungan tanpa pengaman," papar Andhika.

Simak juga pemaparan ahli tentang hamil dan menyusui bisa turunkan risiko kanker payudara.

[Gambas:Video Haibunda]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi