HaiBunda

KEHAMILAN

Jangan Tertukar Bunda, Ini Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 27 Jul 2020 09:41 WIB
Jangan Tertukar Bunda, Ini Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum/ Foto: Getty Images
Jakarta -

Setelah melahirkan, ada beberapa masalah psikis yang sangat rentan dialami ibu baru. Beberapa di antaranya yakni baby blues dan depresi postpartum. Nah, sering dianggap sama, apa sebenarnya perbedaan antara kedua kondisi ini?

Menurut American Pregnancy Association, baby blues rata-rata berlangsung selama hitungan hari sampai minggu setelah melahirkan. Ibu yang mengalaminya akan sering menangis, sensitif, mood swing dan cemas.

Nah, ketika baby blues terus berlanjut lebih dari dua pekan dan bahkan semakin parah, waspada bisa berlanjut menjadi depresi postpartum. Pada kondisi ini, faktor hormonal biasanya juga turut berperan.


Jadi, kondisi lingkungan dan fisik seperti kelelahan bercampur dengan kurang tidur dan tidak ada dukungan dari keluarga sekitar, sehingga berpotensi memicu depresi pada ibu setelah melahirkan.

Ya, mengurus bayi baru lahir bisa dengan mudah menimbulkan rasa lelah dan stres, terutama jika ibu belum dapat beradaptasi. Kurangnya dukungan dari orang sekitar juga berperan penting, lho.

Oleh sebab itu, mencari dukungan dan tetap terbuka secara komunikasi saat membutuhkan bantuan untuk merawat si Kecil pun menjadi salah satu kunci penting mencegah baby blues maupun depresi postpartum.

Dikutip dari Mayo Clinic, untuk perbedaan baby blues dan depresi postpartum juga terlihat dari penanganannya. Baby blues biasanya akan hilang dengan sendiri setelah ibu mulai beradaptasi dengan rutinitas mengurus bayi.

Maksimal dalam hitungan dua pekan setelah melahirkan, baby blues umumnya akan hilang. Selain dengan beradaptasi, kondisi ini juga bisa diatasi dengan cukup istirahat, makan makanan bergizi, tetap melakukan aktivitas yang disukai serta sering mengobrol dengan keluarga terdekat.

Ilustrasi baby blues. (Foto: iStock)

Sementara itu, untuk mengatasi depresi postpartum seringkali dibutuhkan cara yang lebih kompleks, Bunda. Misalnya dengan psikoterapi atau konseling dengan ahlinya. Seringkali diperlukan juga konsumsi obat-obatan yang hanya bisa diresepkan oleh dokter.

"Baby blues maupun depresi postpartum merupakan kondisi yang sangat wajar dialami ibu setelah melahirkan. Tapi dengan penanganan yang tepat, masalah ini bisa diatasi," ujar profesor psikiatri The Ohio State University Wexner Medical Center, Tamar Gur, MD, PhD, dilansir Parents.

Simak juga kisah Tasya Kamila sempat alami baby blues dalam video berikut:



(som/som)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri-Ciri Kepribadian Anak yang Berpotensi Jadi Pemimpin Hebat

Parenting Nadhifa Fitrina

12 Sampah Sisa Sayuran yang Dapat Ditanam & Tumbuh Lagi di Rumah

Mom's Life Arina Yulistara

Rumah Penuh Barang Bekas Ini Laku Rp65,8 Miliar, Banyak Pembeli Berebut

Mom's Life Natasha Ardiah

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Nonton Film Horor Menurut Studi

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Hamil Tapi Tetap Kerja dan Capek Banget? Ini Batas Aman yang Perlu Dijaga

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

3 Ciri-ciri Kepribadian Orang yang Suka Makanan Pedas

Tak Sahur Saat Puasa demi Turun Berat Badan, Ini Risiko Kesehatannya

Hamil Tapi Tetap Kerja dan Capek Banget? Ini Batas Aman yang Perlu Dijaga

Ciri-Ciri Kepribadian Anak yang Berpotensi Jadi Pemimpin Hebat

12 Sampah Sisa Sayuran yang Dapat Ditanam & Tumbuh Lagi di Rumah

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK