sign up SIGN UP search


kehamilan

3 Posisi Seks yang Aman dan Disukai Ibu Hamil

Haikal Luthfi Jumat, 16 Oct 2020 22:00 WIB
Future parents. Happy expecting couple hugging and smiling while standing near the window at home, free space caption
Jakarta -

Berhubungan seks bagi pasangan dalam sebuah pernikahan menjadi hal penting, yang dapat meningkatkan kedekatan dan kualitas hidup. Namun saat hamil, sebagian ibu mungkin tidak ingin berhubungan seks karena takut dengan perkembangan janin di dalam kandungannya.

Menurut dr. Fredrico Patria, Sp.OG, dalam bukunya yang berjudul 'Dahsyatnya Hamil Sehat & Normal (2018)', ibu hamil tidak perlu cemas karena hubungan seks tidak akan menyakiti janin dalam kandungan selama diperbolehkan oleh dokter atau bidan, Bunda.

Posisi janin tetap aman karena dilindungi kantung ketuban dan terjaga dari sumbatan lendir yang menghalangi leher rahim. Mengutip What to Expect, kantung ketuban dan otot-otot rahim sangat kuat melindungi janin saat berhubungan seks.


Jadi, berhubungan seks saat hamil sangat aman dan tidak perlu khawatir bila akan menyakiti bayi ya, Bunda.

Posisi hubungan seks ibu hamil

Saat melakukan hubungan seks, beberapa ibu hamil akan memilih posisi yang dianggap nyaman, Bunda. Saat awal kehamilan, ibu hamil dapat melakukan hubungan intim dengan posisi yang disukai mereka, tetapi saat perut semakin membesar, posisi yang biasa dilakukan akan menjadi tidak nyaman lagi.

Ibu hamil akan cenderung menghindari posisi berbaring telentang ketika melakukan hubungan seks karena rahim akan menekan vena besar, Bunda. Jadi, posisi misionaris atau pria di atas tubuh wanita tidak lagi nyaman untuk perut yang sudah membesar.

Adapun beberapa posisi seks yang disukai ibu hamil, seperti yang dirangkum dari berbagai sumber, antara lain:

1. Posisi wanita di atas (women on top)

Posisi ini yang paling nyaman untuk Kebanyakan ibu hamil, terutama karena wanita hamil dapat mengontrol kedalaman dan kecepatan penetrasi. Banyak pasangan lebih memilih posisi ini selama trimester ketiga.

Saat perut semakin membesar, wanita mungkin akan merasa lebih baik berada di atas karena pengaturan posisi ini memungkinkan untuk mengontrol kedalaman dan kecepatan penetrasi. Posisi tersebut juga memungkinkan rangsangan klitoris manual untuk membantu mencapai orgasme.

Pregnant happy wife lying in bed with husbandIlustrasi ibu hamil. (Foto: iStock)

2. Posisi duduk

Posisi ini biasanya dilakukan pada kehamilan pertengahan atau lebih lanjut ketika tidak memerlukan banyak gerakan. Pria duduk dan wanita duduk di atasnya saling berhadapan atau membelakangi pria jika perut sudah sangat besar. Posisi ini juga memungkinkan wanita untuk mengontrol kedalaman dan kecepatan penetrasi.

Cobalah untuk meminta pasangan untuk duduk di kursi atau bisa juga dilakukan dengan menggunakan meja atau permukaan kokoh lainnya.

3. Posisi doggie style

Posisi 'doggie style' dapat digunakan pada saat trimester mana pun. Tetapi, posisi seks ini sangat baik dilakukan pada akhir kehamilan saat perut cukup besar menghalangi dalam melakukan posisi seks menghadap ke depan.

Dalam posisi doggie style, ibu hamil dapat bertumpu pada tangan dan berlutut, ibu hamil dan pasangan bisa berbaring berdampingan (spooning) serta juga dapat menggunakan posisi entri belakang sambil berdiri.

Kapan sebaiknya ibu hamil menghindari hubungan seks?

Dikutip dari laman Very Well Family, jika ibu hamil telah didiagnosis dengan salah satu dari kondisi ini, dokter mungkin akan menyarankan untuk tidak melakukan hubungan seks selama kehamilan, Bunda.

Adapun kondisi tersebut, meliputi:

Plasenta Previa

Plasenta previa adalah suatu kondisi di mana plasenta berada pada posisi rendah di dalam rahim dan menutupi sebagian atau seluruh serviks. Plasenta wanita hamil biasanya berada di posisi rendah di awal kehamilan, lalu naik lebih tinggi. Plasenta previa didiagnosis melalui USG dan menyebabkan masalah jika terjadi di kemudian hari dalam kehamilan.

Biasanya, perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester ketiga merupakan gejala utama. Tanda peringatan lainnya, dapat berupa kontraksi prematur, bayi sungsang, dan rahim berukuran lebih besar dari biasanya.

Plasenta previa tergolong serius karena dapat menyebabkan komplikasi termasuk hambatan pertumbuhan pada bayi dan perdarahan yang fatal (kehilangan darah) pada ibu hamil. Banyak wanita dengan kondisi ini harus melakukan istirahat di tempat tidur (bedrest).

Insufisiensi serviks

Pada insufisiensi serviks (juga dikenal sebagai serviks inkompeten), serviks menjadi lemah dan mulai melebar, atau terbuka, terlalu dini selama kehamilan. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan keguguran dan kelahiran prematur, Bunda.

Wanita dengan insufisiensi serviks mungkin harus menghindari aktivitas fisik berat lainnya, selain seks.

Simak juga Bunda, makanan yang harus dihindari jika ingin durasi seks lebih lama pada video berikut: 

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi