sign up SIGN UP search


kehamilan

Cara Mengatasi Keputihan Saat Hamil Muda, Bunda Perlu Tahu

Haikal Luthfi Jumat, 30 Oct 2020 19:35 WIB
ilustrasi hamil caption
Jakarta -

Wanita yang hamil, umumnya akan menunjukkan beberapa ciri. Salah satu ciri-ciri hamil muda yang kerap dialami wanita adalah keputihan, Bunda.

Keputihan saat hamil merupakan hal yang normal. Kecuali, jika keputihan tersebut terinfeksi oleh bakteri dan jamur.

Mengutip What to Expect, keputihan merupakan lendir yang bertekstur tipis, berwarna putih susu dan berbau ringan, namun kadang tidak berbau. Ini mirip dengan keputihan yang biasa saat wanita mengalami menstruasi, namun keputihan saat hamil lebih berat.


Menurut dr.Finekri Abidin SpOG(K) dari RS YPK Mandiri, keputihan merupakan suatu hal yang lumrah saat hamil. Sebab saat hamil, tubuh akan memproduksi cairan berlebih, termasuk di dalam organ reproduksi.

"Jika keputihannya enggak gatal, berbau, itu hal yang normal. Atau bisa dibilang selama enggak ada infeksi, ya enggak masalah," kata Finekri kepada HaiBunda, beberapa waktu yang lalu.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kondisi ini termasuk salah satu ciri hamil muda, Bunda. Meskipun secara umum bisa terjadi pada setiap trimester kehamilan, serta intensitasnya kerap meningkat menjelang akhir trimester ketiga.

Keputihan saat hamil

Sejatinya, keputihan adalah masalah kesehatan reproduksi yang dialami oleh banyak wanita. Meski begitu, keputihan tidak melulu mendatangkan kerugian, Bunda. Jika, keputihan ini wajar dan tidak menunjukan bahaya lain.

Woman With Abdomen Problems in Bed, She Use Hands to Massage Painful Place. People with diarrhea problem concept. Woman with menstrual painIlustrasi keputihan saat hamil/ Foto: Getty Images/PixelsEffect

Dikutip dari berbagai sumber, ada dua jenis keputihan, yaitu keputihan yang bersifat normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis). Keputihan fisiologis dapat terjadi pada saat hamil, sebelum dan sesudah haid, saat mendapat rangsangan seksual, saat banyak melakukan aktivitas fisik yang semuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, rasa gatal, dan juga perubahan warna.

Sementara keputihan patologis disebabkan oleh infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur yang mana disertai dengan bau yang tidak sedap, rasa gatal, serta adanya perubahan warna. Menurut Obgyn Cheryl Axelrod, ketika keputihan terjadi perubahan warna, berbau tidak sedap, serta menyebabkan rasa sakit atau gatal, ini bisa menjadi tanda infeksi atau masalah lain, Bunda.

Axelrod juga menyarankan untuk menemui dokter jika vulva terlihat meradang, atau mengeluarkan cairan keputihan yang tidak berbau tapi menyebabkan nyeri saat buang air kecil atau berhubungan badan, gatal, hingga rasa terbakar. Jika keputihan tersebut yang dirasakan, berarti infeksi.

"Anda memiliki cairan putih atau abu-abu tipis dengan bau amis yang kuat yang mungkin lebih terlihat setelah berhubungan seks (saat cairan bercampur dengan air mani). Ini mungkin suatu kondisi yang disebut vaginosis bakteri," tulis Axelrod, seperti yang dikutip dari laman Baby Centre.

Jenis keputihan inilah yang membahayakan, sebab dapat mengancam persalinan kurang bulan (prematuritas), ketuban pecah sebelum waktunya atau bayi dengan berat badan lahir rendah.

Dampak keputihan

Keputihan memiliki dampak pada ibu hamil. Hal ini karena ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi. Mengutip buku yang berjudul 'Solusi Problem Wanita Dewasa (2005)', keputihan fisiologis dan patologis mempunyai dampak pada wanita.

Keputihan fisiologis menyebabkan rasa tidak nyaman pada wanita sehingga dapat mempengaruhi rasa percaya dirinya. Sedangkan keputihan patologis yang berlangsung terus-menerus akan mengganggu fungsi organ reproduksi wanita khususnya pada bagian saluran indung telur yang dapat menyebabkan infertilitas.

Pada ibu hamil, keputihan patalogis dapat menyebabkan keguguran, kematian Janin dalam Kandungan (KJDK). Selain itu, kelainan kongenital, hingga kelahiran prematur.

Cara mengatasi keputihan

Mengutip Parenting Firstcry, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi keputihan saat hamil, antara lain:

  • Jaga area genital atau vulva agar tetap bersih dan kering.
  • Pakai panty liner untuk menyerap cairan. Pastikan panty liner tersebut tanpa pewangi.
  • Kenakan pakaian dalam yang berbahan katun.
  • Gantilah pakaian dalam setidaknya 2-3 kali sehari.
  • Gunakan air dan sabun tanpa pewangi saat mencuci area kewanitaan.
  • Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah menyentuh vagina.
  • Pastikan vagina terlumasi dengan baik sebelum berhubungan seks.
  • Bersihkan vagina dengan menyeka dari depan ke belakang, terutama setelah berhubungan seks.

Selain itu, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat mengatasi keputihan selama kehamilan, seperti:

  • Jangan memakai tampon selama kehamilan untuk menyerap keputihan.
  • Jangan memakai pakaian dalam yang basah dalam waktu lama karena bisa membuat vagina jadi tempat berkembang biak jamur dan bakteri.
  • Hindari douching (membersihkan vagina dengan cairan khusus ke dalam vagina) selama kehamilan untuk menghilangkan keputihan karena justru bisa mengganggu keseimbangan bakteri baik dan menyebabkan infeksi vagina.
  • Jangan gunakan tisu atau sabun vagina karena bisa mengacaukan pH sensitif area kewanitaan dan meningkatkan kemungkinan risiko infeksi vagina.
  • Jangan gunakan parfum dan deodoran vagina selama kehamilan.

Nah, Bunda semoga informasi ini membantu ya.

Simak juga Bunda, mitos atau fakta bahwa mentimun menyebabkan keputihan pada video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi