sign up SIGN UP search


kehamilan

2 Jenis Obat Batuk untuk Ibu Hamil, Bunda Perlu Tahu

Annisa Karnesyia Sabtu, 10 Jul 2021 15:45 WIB
Ibu hamil batuk caption
Jakarta -

Selama masa kehamilan, kondisi tubuh akan mengalami banyak perubahan. Salah satunya adalah daya tahan tubuh yang menurun, sehingga Bunda sering merasa lemas.

Wanita hamil rentan terserang penyakit musiman atau yang disebabkan karena gaya hidup tak sehat. Selain sakit flu, Bunda yang hamil juga bisa terkena batuk.

Batuk saat hamil bisa mengganggu aktivitas lho. Apalagi bila batuk ini termasuk kronis dan sering kambuh.


Penyebab batuk saat hamil

Batuk bisa terjadi di tiap trimester kehamilan. Kondisi ini biasanya tidak berhubungan dengan kehamilan atau kondisi janin, Bunda.

Penyebab batuk saat hamil kemungkinan besar karena infeksi virus atau bakteri. Pada kondisi yang serius, ini bisa disebabkan karena pneumonia.

"Bila ibu juga mengalami nyeri dada atau muntah darah, batuk bisa menjadi gejala emboli paru, yakni pembuluh darah yang tersumbat di paru-paru," kata Karen Deighan, MD, FACOG, ketua departemen Obstetri dan Ginekologi di Gottlieb Memorial Hospital of Loyola University Health System, dilansir The Bump.

Secara umum, wanita hamil memiliki kepekaan untuk mengalami batuk. Untuk itu, banyak yang disarankan untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah terpapar virus atau bakteri saat hamil.

Meski kemungkinannya kecil, kehamilan juga bisa menjadi penyebab batuk. Dikutip dari Pop Sugar, kehamilan bisa menekan sistem kekebalan tubuh akibatnya menjadi lebih sensitif terhadap alergen.

Selain itu, selama kehamilan, selaput lendir di hidung akan sedikit membesar karena ada peningkatan volume darah dan plasma. Kondisi ini terjadi karena perubahan hormonal.

Selama kehamilan, Bunda mungkin lebih banyak mengalami masalah dengan hidung, seperti keluar ingus atau tersumbat. Akibatnya, lendir di hidung ini dapat mengiritasi reseptor batuk yang menyebabkan batuk kronis.

Beberapa penyebab lain batuk saat hamil adalah asma, rhinitis, atau asam lambung naik. Bila kondisi sampai mengganggu dan Bunda kesulitan makan, sebaiknya segera ke dokter.

Pencegahan batuk saat hamil

Bunda dapat mencegah batuk dengan menghindari makanan yang jadi pemicunya. Misalnya, makanan berlemak atau yang digoreng.

Selain itu, batuk juga mungkin bisa dicegah dengan mendapatkan vaksin influenza saat hamil. Batuk biasanya menjadi gejala tambahan saat terkena flu.

Menurut Prof.dr.Cissy B. Kartasasmita, SpA(K), PhD, tujuan vaksin tak cuma mencegah ibu sakit, tapi juga untuk melindungi bayi yang dilahirkan sampai usia enam bulan. Bila diberikan, paling tidak bayi memiliki kekebalan tubuh yang diturunkan dari ibunya sampai usia tiga bulan.

"Ibu hamil dianjurkan vaksinasi karena transmisinya yang cepat. Kemudian ibu hamil kalau terkena virus bisa menularkan ke bayinya. Bayinya bisa lahir prematur dan terjadi kematian bayi di dalam kandungan," ujar Cissy dalam temu bersama media, beberapa waktu lalu.

Vaksin influenza bisa diberikan sekali setahun, tepatnya pada trimester kedua atau ketiga (di atas 4 bulan atau 1 bulan sebelum melahirkan). Waktu ini dirasa tepat agar perlindungan bayi setelah lahir semakin lama.

Sebelum mendapatkan vaksin ini, Bunda bisa terlebih dahulu konsultasi ke dokter. Buat jadwal untuk mendapatkan vaksinasi tepat waktu demi mencegah batuk ya.

Shot of a pregnant woman having a consultation with her doctorilustrasi ibu hamil batuk/ Foto: iStock

Obat batuk ibu hamil

Pengobatan batuk saat hamil tergantung pada penyebabnya. Bunda bisa mengonsumsi obat batuk yang diresepkan dokter atau obat alami dari bahan herbal. Berikut 2 obat batuk untuk ibu hamil:

1. Obat medis

Obat yang bisa Bunda konsumsi ketika batuk dan sedang hamil adalah parasetamol. Obat ini termasuk aman dan tidak membahayakan janin.

Sementara itu, apabila batuk disebabkan alergi, Bunda bisa mengonsumsi mengonsumsi obat batuk seperti antihisatim. Namun, penggunaannya lebih baik dikonsultasikan ke dokter ya. Sebab, ada banyak jenis antihistamin yang dijual bebas di pasaran.

Melansir American Academy of Family Physician (AAFP), studi menunjukkan bahwa penggunaan antihistamin generasi pertama tidak berisiko terhadap kejadian malformasi janin yang signifikan. Sementara antihistamin generasi kedua, seperti loratadine (Claritin), cetirizine (Zyrtec), dan fexofenadine (Allegra) tampaknya tidak meningkatkan risiko janin secara keseluruhan.

Bunda benar-benar perlu cermat mengonsumsi obat selama kehamilan ya. Selama trimester pertama, sebaiknya jangan konsumsi obat jenis dekongestan atau yang dikombinasikan dengan antihistamin tanpa resep dokter. Sejauh ini, penggunaan antihistamin nasal spray atau obat semprot hidung juga tidak disarankan karena belum terbukti aman.

Selain obat batuk untuk meringankan gejala, dokter biasanya akan meresepkan obat antibiotik atau anti-virus. Penggunaannya hanya diperuntukkan bila batuk disebabkan bakteri atau virus.

"Jika penyebab batuk adalah sumber infeksi, antibiotik atau anti-virus mungkin diperlukan untuk pengobatan dan pasien harus konsultasi ke dokter," kata Dr. Nwegbo-Banks.

Bila Bunda memilih untuk minum obat batuk yang dijual bebas, jangan lupa untuk membaca aturan pakai di kemasan. Ada obat batuk yang tidak boleh dikonsumsi selama kehamilan karena bisa membahayakan janin.

2. Obat alami

Selain obat medis, Bunda bisa mengatasi batuk dengan obat alami nih. Pengobatan alami ini kebanyakan aman dan efektif meredakan gejala batuk. Mengutip berbagai sumber, berikut beberapa bahan alami yang bisa menjadi obat batuk untuk ibu hamil:

  • Bawang putih: mengandung antioksidan dan memiliki sifat anti-bakteri, anti-virus, dan antibiotik. Bawang putih bisa meredakan sakit di dada akibat batuk.
  • Madu: bahan alami ini dikenal sebagai obat yang bisa mengatasi pilek dan batuk. Selain itu, madu juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menenangkan tenggorokan yang sakit.
  • Lemon: buah ini mengandung vitamin C dan menjadi sumber antioksidan alami. Lemon juga memiliki sifat anti-virus dan anti-bakteri yang bisa mengatasi batuk.
  • Jahe: rempah alami ini dapat mengatasi batuk kering atau tidak berdahak. Cara terbaik mengonsumsinya yakni dalam bentuk teh jahe, di mana jahe direbus dengan air lalu disaring dan diminum.
  • Cuka sari apel: cuka apel dapat membuat tubuh menjadi lebih basa, sehingga efektif dalam melawan virus penyebab pilek dan batuk. Campurkan 1 sampai 2 sendok makan cuka sari apel dengan air atau teh hitam, dan minumlah dua hingga tiga kali sehari.
(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi