KEHAMILAN
12 Penyebab Fetal Distress pada Bayi, Kondisi Gawat Janin karena Kekurangan Oksigen
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Minggu, 12 Jun 2022 14:00 WIBBunda pernah dengar istilah fetal distress? Kondisi yang dialami janin ini dapat membahayakan nyawanya lho, Bunda.
Fetal distress disebut juga gawat janin. Fetal distress terjadi ketika janin tidak menerima cukup oksigen (hipoksia) melalui plasenta selama masa kehamilan atau persalinan.
Fetal distress sering terdeteksi melalui detak jantung janin yang abnormal. Jika tidak diatasi, kondisi ini bisa membuat bayi menelan air ketuban yang mengandung mekonium (kotoran), sehingga menyebabkan henti napas setelah lahir.
Menurut ulasan di Science Direct, istilah fetal distress banyak digunakan dokter kandungan untuk menggambarkan berbagai kelainan denyut jantung janin. Tak hanya menyebabkan henti napas, kondisi ini juga bisa mengakibatkan dekompensasi respons fisiologis, kerusakan sistem saraf pusat permanen hingga kematian.
Penyebab fetal distress
Fetal distress dapat terjadi selama kehamilan. Namun, masalah pada janin ini lebih lebih sering terjadi selama persalinan, Bunda.
Fetal distress dapat disebabkan karena faktor bayi atau ibunya. Melansir dari berbagai sumber, berikut penjelasan lengkap tentang penyebab fetal distress:
Faktor bayi
- Bayi tidak menerima cukup oksigen karena masalah plasenta, seperti solusio plasenta atau insufisiensi plasenta.
- Kompresi tali pusat.
- Hipotermia janin.
- Ukuran bayi cenderung lebih kecil dibandingkan usia kehamilan.
- Masalah keterlambatan pertumbuhan pada janin atau intrauterine growth retardation (IUGR).
Faktor ibu
- Memiliki riwayat penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit ginjal atau kolestasis (kondisi yang mempengaruhi hati pada masa kehamilan).
- Memiliki tekanan darah tinggi pada kehamilan atau preeklampsia.
- Berat badan berlebih atau obesitas.
- Kehamilan kembar.
- Pernah mengalami bayi lahir mati (stillbirth) di kehamilan sebelumnya.
- Jumlah cairan ketuban terlalu banyak atau sedikit.
- Pernah beberapa kali mengalami pendarahan antepartum.
Mengutip laman Pregnancy Birth Baby, fetal distress juga dapat terjadi pada kehamilan yang berlangsung terlalu lama atau muncul komplikasi lain selama persalinan. Terkadang, kondisi ini juga dapat terjadi karena kontraksi terlalu kuat.
Diagnosis fetal distress
Diagnosis fetal distress biasanya sering disamakan dengan istilah asfiksia lahir. Padahal, keduanya berbeda, Bunda.
Asfiksia terjadi ketika bayi tidak memiliki jumlah oksigen yang cukup sebelum, selama, atau setelah persalinan. Salah satu penyebabnya adalah kadar oksigen yang rendah dalam darah ibu atau berkurangnya aliran darah karena kompresi tali pusat.
Kebingungan mendiagnosis fetal distress ini akhirnya diperjelas American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). ACOG merekomendasikan bahwa istilah fetal distress diganti dengan non-reassuring fetal status.
ACOG selanjutnya merekomendasikan dokter untuk menambahkan daftar tambahan ke dalam diagnosis fetal distress, seperti:
- Takikardia janin
- Bradikardia
- Deselerasi variabel berulang
- Profil biofisik rendah
- Deselerasi lambat
Komite ACOG juga telah menyatakan bahwa istilah asfiksia lahir tidak boleh lagi digunakan karena diagnosisnya terlalu kabur untuk penggunaan medis.
Secara umum, fetal distress didiagnosis dengan dengan membaca detak jantung janin. Bila detak jantung lambat atau pola denyut jantungnya tidak biasa, hal itu dapat menandakan janin mengalami fetal distress.
Terkadang, fetal distress dapat dideteksi saat dokter atau bidan mendengarkan jantung janin selama kehamilan. Detak jantung biasanya dipantau selama persalinan untuk memeriksa tanda-tanda fetal distress. Tanda lain fetal distress adalah ada atau tidaknya mekonium dalam cairan ketuban.
"Ibu hamil harus segera ke dokter atau bidan bila melihat cairan ketuban berwarna hijau atau coklat. Sebab, ini dapat menandakan adanya mekonium di cairan ketuban," demikian seperti dikutip dari American Pregnancy.
Diagnosis fetal distress juga dapat ditentukan dari pemantauan detak jantung janin dengan electronic fetal heart rate (FHR). Pemeriksaan ini memiliki 4 manfaat, seperti:
- Kemampuan untuk mengenali perkembangan hipoksia dengan menganalisis pola denyut jantung janin.
- Kemampuan untuk memantau kontraksi ibu.
- Kemampuan untuk memantau respons janin terhadap hipoksia.
- Hasil yang lebih positif untuk persalinan berisiko tinggi.
Meskipun dapat membantu diagnosis, FHR dapat memberikan interpretasi hasil yang salah.
Komplikasi fetal distress
Bayi yang mengalami fetal distress dapat berisiko mengalami komplikasi setelah lahir. Kekurangan oksigen selama persalinan dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius, termasuk cedera otak, cerebral palsy, hingga stillbirth.
Bayi yang mengalami fetal distress umumnya dilahirkan melalui operasi caesar. Meskipun aman, operasi caesar tetap memiliki risiko, seperti pendarahan, infeksi, dan kemungkinan cedera saat lahir.
Perlu Bunda tahu, bayi yang lahir dengan persalinan dibantu juga berisiko lebih besar mengalami masalah jangka pendek seperti penyakit kuning, dan mungkin dapat mengalami kesulitan makan di kemudian hari.
Penanganan fetal distress
Penanganan awal fetal distress adalah pemberian oksigen dan cairan pada ibu hamil. Terkadang, Bunda dapat mengubah posisi, seperti bergerak memutar ke satu sisi untuk mengurangi tekanan bayi.
Jika Bunda minum obat untuk mempercepat persalinan, maka sebaiknya dihentikan dulu bila muncul tanda-tanda fetal distress. Jika Bunda akan melahirkan normal, maka dokter mungkin akan memberikan obat untuk memperlambat kontraksi.
Terkadang, bayi dalam keadaan fetal distress perlu dilahirkan dengan cepat. Bunda sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk menentukan proses persalinan dan penanganan yang tepat bila janin mengalami kondisi ini.
Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.
Simak juga 5 tes kehamilan yang sebaiknya dilakukan jelang persalinan, dalam video berikut:
(ank/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Infeksi Bakteri & Virus Yang Wajib Diwaspadai Ibu Hamil
Manfaat Kurma untuk Ibu Hamil, Benarkah Juga Bisa Lancarkan Persalinan?
15 Tanda Mau Melahirkan, Ibu Hamil Wajib Tahu
Perkembangan Janin yang Normal di Trimester 1, 2, dan 3
TERPOPULER
11 Ciri Kepribadian Orang yang Langsung Cuci dan Rapikan Dapur saat Masak
Tenang, Iuran BPJS Enggak Naik di Semua Golongan, Cek di Sini!
100 Ide Nama Bayi Laki-laki yang Artinya Cerdas dan Beruntung
Cinta Laura Singgung Orang Kaya Terima Beasiswa LPDP, Lebih Baik Bayar Kuliah Sendiri
Jenis Sakit yang Membolehkan Tidak Puasa, Wajib Tahu!
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Madu untuk Sahur, supaya Kuat Puasa dan Tetap Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Baju Lebaran 2026 Anak Laki-Laki 1-14 Tahun, Bisa Kembaran sama Ayah
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Alat Pel Persiapan Ditinggal ART, Harga Terjangkau
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Vitamin Bikin Sehat Saat Puasa untuk Jaga Daya Tahan Tubuh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Pelembap Wajah untuk Kulit Kering, Harga Sekitar Rp100 Ribuan
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Rekomendasi Madu untuk Sahur, supaya Kuat Puasa dan Tetap Sehat
Tenang, Iuran BPJS Enggak Naik di Semua Golongan, Cek di Sini!
11 Ciri Kepribadian Orang yang Langsung Cuci dan Rapikan Dapur saat Masak
Bukan Kurang Bersyukur, Ini Alasan Ibu Hamil Bisa Membenci Tubuhnya
100 Ide Nama Bayi Laki-laki yang Artinya Cerdas dan Beruntung
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Lirik Lagu Gone Girl - SZA
-
Beautynesia
Paling Antusias! Ini Dia 4 Zodiak yang Selalu Semangat Booking Tempat Bukber
-
Female Daily
Matrix Tunjuk Girl Group KATSEYE sebagai Global Brand Ambassador Terbaru
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Lupita Nyong'o Ungkap 50 Mioma Tumbuh di Rahim, yang Terbesar Seukuran Jeruk
-
Mommies Daily
Takjil Manis untuk Anak Setiap Hari, Apa Dampaknya?