KEHAMILAN
10 Kondisi Ibu Hamil yang Disarankan Menerima Induksi Persalinan, Ketahui Prosedurnya Bun
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Rabu, 17 Jul 2024 17:00 WIBInduksi persalinan merupakan tindakan untuk merangsang kontraksi rahim dalam upaya melahirkan pervaginam. Tindakan ini dapat mengurangi risiko komplikasi, Bunda.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), induksi persalinan adalah penggunaan obat-obatan atau metode lain untuk mempercepat (menginduksi) persalinan. Persalinan diinduksi untuk merangsang kontraksi rahim dalam upaya melahirkan melalui vagina.
"Induksi persalinan mungkin disarankan jika kesehatan ibu atau janin terancam," demikian penjelasan ACOG, dalam laman resminya.
Dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa faktor yang dijadikan pertimbangan dokter untuk menyarankan ibu hamil melakukan induksi persalinan. Ini termasuk kesehatan Bunda, kondisi janin, usia kehamilan, perkiraan berat badan janin, ukuran dan posisinya di dalam rahim.
Jika dokter menyarankan induksi persalinan, hal ini sering kali karena manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya, Bunda. Induksi persalinan juga bisa dilakukan meski tidak ada indikasi medis pada usia kehamilan minimal 39 minggu.
Indikasi ibu hamil disarankan induksi persalinan
Berikut 10 indikasi ibu hamil disarankan menerima induksi, menurut ACOG dan ulasan di National Library of Medicine:
- Usia kehamilan lebih dari 41 dan 42 minggu.
- Bunda memiliki masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, atau obesitas.
- Bunda mengidap diabetes gestasional atau diabetes melitus sebelum hamil.
- Bunda mengidap hipertensi kronis, preeklampsia, atau eklamsia.
- Terjadi penurunan volume cairan ketuban atau ketuban sedikit (oligohidramnion).
- Bunda mengalami ketuban pecah dini atau prelabor rupture of membranes (PROM).
- Ada masalah pada janin, seperti pertumbuhan yang buruk atau pembatasan pertumbuhan janin (fetal growth restriction)
- Terjadi masalah pada plasenta, seperti solusio plasenta atau plasenta terlepas dari rahim Bunda sebelum melahirkan.
- Terjadi infeksi pada rahim atau ketuban (chorioamnionitis)
- Indikasi lain, seperti jarak dari rumah sakit, riwayat persalinan cepat (precipitous labor), dan indikasi psikososial.
Kondisi induksi persalinan tidak dapat dilakukan
Tidak semua indikasi medis membuat seorang Bunda perlu melakukan induksi persalinan. Ada beberapa kondisi di mana induksi persalinan justru tidak disarankan untuk dilakukan. Dalam situasi ini, ibu hamil mungkin disarankan untuk melahirkan melalui operasi caesar.
Berikut beberapa kondisi di mana induksi persalinan tidak dapat dilakukan:
- Mengalami plasenta previa atau plesenta yang menutupi pembukaan rahim
- Posisi janin sungsang
- Tali pusar prolaps
- Infeksi herpes genital aktif
- Riwayat operasi rahim, seperti operasi caesar atau operasi pengangkatan miom
Prosedur induksi persalinan
Ada beberapa cara untuk menginduksi persalinan, Bunda. Prosedur umumnya dipilih sesuai dengan kondisi serviks atau leher rahim.
Bila serviks tidak melebar, maka dokter akan melakukan salah satu dari metode berikut untuk mematangkan serviks:
1. Penggunaan prostaglandin
Prostaglandin adalah zat yang bertindak seperti hormon dalam tubuh. Prostaglandin dapat membantu melunakkan serviks sehingga kontraksi dapat dimulai. Dokter dapat memberikan prostaglandin dalam bentuk pil atau supositoria di vagina.
2. Penggunaan kateter balon
Dokter dapat menempatkan tabung kecil dengan balon di bagian atas untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam serviks. Kemudian, balon akan diisi dengan larutan garam hingga mengembang. Tekanan ini dapat mematangkan leher rahim dan membantunya melebar.
3. Amniotomi
Amniotomi adalah tindakan di mana dokter memasukkan kait plastik kecil melalui serviks untuk memecahkan kantung ketuban. Saat prosedur dilakukan, serviks perlu sedikit melebar.
4. Pemberian oksitosin
Oksitosin adalah hormon yang bisa memicu terjadinya kontraksi. Untuk menginduksi persalinan, dokter dapat memberikan oksitosin buatan (sintetis) yang diberikan secara intravena atau melalui infus. Menurut ACOG, kontraksi biasanya dimulai sekitar 30 menit setelah oksitosin diberikan, Bunda.
Risiko induksi persalinan
Salah satu risiko induksi persalinan adalah efek dari penggunaan oksitosin. Ketika oksitosin digunakan, rahim mungkin mengalami rangsangan yang berlebihan.
"Hal tersebut bisa menyebabkan rahim terlalu sering berkontraksi. Kontraksi yang terlalu banyak dapat menyebabkan perubahan detak jantung janin," kata ACOG.
Jika terdapat masalah pada detak jantung janin, pemberian oksitosin dapat dikurangi atau dihentikan. Perawatan lain mungkin diperlukan untuk menstabilkan detak jantung janin.
Selain penggunaan oksitosin, berikut beberapa risiko lain dari induksi persalinan:
- Infeksi pada cairan ketuban atau plasenta
- Infeksi pada bayi
- Pecahnya rahim pada kasus yang jarang terjadi
Apa yang dilakukan bila induksi persalinan tidak berhasil?
Terkadang, induksi persalinan tidak berhasil dilakukan. Jika Bunda dan kehamilan dinyatakan baik-baik saja dan kantung ketuban belum pecah, maka dokter mungkin akan meminta Bunda untuk pulang. Selanjutnya, dokter dapat menjadwalkan waktu lain untuk mencoba induksi lagi.
Tetapi bila kondisi Bunda atau bayi tidak membaik selama atau setelah mencoba induksi, maka proses persalinan caesar mungkin direkomendasikan oleh dokter. Meski sebagian besar kelahiran caesar aman, ada beberapa risiko yang dapat terjadi, seperti infeksi, perdarahan, dan komplikasi dari anastesi.
Sebelum melahirkan, Bunda sebaiknya benar-benar memahami kondisi kehamilan dan janin. Jangan lupa untuk konsultasikan ke dokter tentang pilihan proses persalinan yang terbaik dan minim risiko.
Demikian serba-serbi induksi persalinan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/ank)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Tips untuk Mempercepat Kontraksi Asli, Persalinan Jadi Lancar Bun
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mengenal Induksi Foley Bulb untuk Membantu Kontraksi Jelang Melahirkan
Berapa Lama Reaksi Obat Perangsang Melahirkan Bekerja?
8 Cara Alami Induksi Persalinan, Makan Kurma Bisa Dicoba Bun
Alasan Ibu Hamil Perlu Mendapatkan Induksi Persalinan
TERPOPULER
Tak Asal Bicara, Ini 7 Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi
Ramai Selebgram Fahira Almira Bandingkan Pengobatan di RI & Penang, Diduga Ada 'Black Campaign'
Serunya Dhea Ananda Ajak Ibunda Liburan ke China, Daki Gunung Naik Eskalator
Orang Tua Kini Sewa Babysitter Khusus Anak Sekolah, Ternyata Ini yang Dilakukan
Tips Memilih Gaun untuk Maternity Shoot agar Tampil Cantik dan Flawless dengan Baby Bump
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Scalp Serum untuk Mengatasi Ketombe dan Rambut Rontok
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Ide Hiasan 17 Agustus 2026 Kemerdekaan yang Unik dan Menarik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan & Panci untuk Kompor Listrik Induksi, Awet & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Susu UHT untuk Ibu Hamil
Amrikh PalupiREKOMENDASI PRODUK
7 Aksesori Anak untuk Karnaval Kemerdekaan 17 Agustus, Bikin Makin Gemas
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Bayi Baru Lahir Kini Bisa Langsung Punya Akta Kelahiran, Begini Penjelasannya
LPS Financial Festival 2026 Sambangi Lampung, Yuk Tingkatkan Literasi Keuangan!
Tak Asal Bicara, Ini 7 Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi
Tips Memilih Gaun untuk Maternity Shoot agar Tampil Cantik dan Flawless dengan Baby Bump
Orang Tua Kini Sewa Babysitter Khusus Anak Sekolah, Ternyata Ini yang Dilakukan
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Review Mic Wireless Karaoke: Jangkauan 80 Meter, Beneran Stabil?
-
Beautynesia
Kreasi Dua Kopi Nespresso Istimewa Bisa Kamu Coba Hanya di Vertuo World
-
Female Daily
Usual Parfums × Barasuara “Hitam dan Biru”: Saat Lagu Menjadi Aroma
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Pebalap F1 George Russell Lamar Kekasih, Cincin Tunangan Rp 24 M Jadi Sorotan
-
Mommies Daily
Drama Hayoung yang Bisa Masuk Daftar Tontonan Mommies, Terbaru Our Sticky Love