HaiBunda

KEHAMILAN

Mengenal Skrining Placental Growth Factor (PLGF) saat Hamil dan Kaitannya dengan Kelahiran Prematur

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 23 Nov 2024 08:10 WIB
Ilustrasi Skrining Placental Growth Factor (PLGF) pada Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Ada beberapa skrining yang dapat Bunda lakukan selama hamil, Bunda. Salah satunya adalah skrining Placental Growth Factor (PLGF).

Melansir dari laman Sprint Diagnostics, skrining PLGT adalah tes darah untuk mengukur kadar PLGF dalam darah. PLGF merupakan protein yang diproduksi oleh plasenta selama kehamilan, yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan plasenta serta janin.

Tes ini menjadi penting terutama bagi Bunda yang berisiko mengalami komplikasi, seperti preeklamsia atau kondisi yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan pada organ lain. Nah, kadar PLGF yang rendah dapat menjadi indikator preeklamsia dan komplikasi terkait kehamilan lainnya, Bunda.


Skrining PLGF dapat dilakukan bila dokter mencurigai Bunda berisiko mengalami preeklamsia. Tes dapat dilakukan beberapa kali tergantung pada kondisi setiap ibu hamil dan rekomendasi dokter.

Menurut ulasan di laman Action on Pre-eclampsia, hasil tes dapat digunakan untuk menentukan perawatan pada ibu hamil. Bila hasil tes abnormal, maka pemantauan lebih lanjut akan dilakukan pada ibu dan bayi. Sementara itu, waktu persalinan dapat diatur bila diperlukan.

Studi terbaru: PLGF rendah dikaitkan dengan kelahiran prematur

Selain risiko preeklamsia, kadar PLGF yang rendah juga dikaitkan dengan kelahiran prematur. Studi baru yang diterbitkan di Jama Network Open mengungkapkan bahwa risiko kelahiran prematur dini dapat diindentifikasi berdasarkan PLGF yang rendah selama pemeriksaan diabetes gestasional rutin. Demikian seperti dilansir laman Contemporary OG/GYN.

Perlu diketahui, sekitar 9 persen kelahiran tunggal adalah kelahiran prematur. Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Sedangkan satu dari empat kelahiran prematur dini adalah kelahiran sebelum usia kehamilan 34 minggu.

Kelahiran prematur terjadi secara spontan atau melalui intervensi medis. Dari kelahiran prematur, lebih dari setengahnya bersifat iatrogenik, yakni kondisi yang disebabkan oleh kesalahan diagnosis, intervensi, atau komplikasi saat penanganan medis. Nah, hal tersebut sering kali memengaruhi kemampuan plasenta untuk melepaskan PLGF.

Secara khusus, studi terbaru ini meneliti perempuan berusia minimal 18 tahun dengan kehamilan tunggal yang menerima perawatan dari dokter kandungan, bidan, atau dokter keluarga di Mount Sinai Hospital. Kriteria eksklusi meliputi diabetes pre-gestasional, penyakit ginjal, kehamilan ganda, dan tanda-tanda disfungsi plasenta yang sudah ada sebelumnya.

Kemudian, pengujian darah PLGF dilakukan kepada peserta selama skrining diabetes gestasional, yang sering kali dilakukan pada usia kehamilan 24 hingga 28 minggu. Hasil utama studi melaporkan adanya kelahiran prematur diri.

Pasien dengan PLGF rendah juga memiliki risiko yang meningkat secara signifikan dari semua hasil sekunder, kecuali untuk kelahiran prematur spontan. Hasil sekunder ini meliputi kelahiran prematur, kelahiran prematur iatrogenik, stillbirth, preeklamsia, preeklamsia berat, hemolisis, peningkatan kadar enzim hati, dan sindrom jumlah trombosit rendah, bayi kecil untuk usia kehamilan, masalah pada berat lahir, dan cara melahirkan.

Hasil studi ini dapat menjadi pedoman dalam pemeriksaan kehamilan karena bisa menunjukkan manfaat pengujian PLGF dalam mengidentifikasi risiko kelahiran prematur dini pada ibu hamil. Para peneliti menyimpulkan bahwa pengujian ini juga dapat digunakan oleh dokter untuk meningkatkan pemberian intervensi berbasis bukti yang mengurangi dampak buruk terkait dengan kelahiran prematur.

Apa saja yang dapat memengaruhi kadar PLGF?

Beberapa faktor dapat memengaruhi hasil skrining PLGF, seperti:

1. Kesehatan ibu hamil secara keseluruhan

Kesehatan Bunda dapat memengaruhi kadar PLGF. Tetapi perlu diketahui bahwa perubahan gaya hidup seperti pola makan dan olahraga memang dapat memengaruhi kesehatan ibu hamil. Tetapi, kecil kemungkinannya berdampak langsung pada kadar PLGF.

2. Penggunaan obat-obatan tertentu

Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi hasil tes PLGF. Sebelum menjalani skrining, penting bagi Bunda memberi tahu dokter terkait obat dan suplemen yang dikonsumsi.

Selain kesehatan ibu hamil dan penggunaan obat, faktor lain yang dapat memengaruhi hasil skrining adalah tahap kehamilan.

Demikian penjelasan mengenai skrining Placental Growth Factor (PLGF) dan dampak kadar PLGF yang rendah pada kehamilan, termasuk peningkatan risiko kelahiran prematur. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Wajib Tahu! Ini yang Terjadi pada Tubuh Bunda selama Masa Nifas

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Sudah Remaja, Intip Potret Dua Cucu Gus Dur yang Mulai Curi Perhatian

Parenting Amira Salsabila

Alyssa Daguise Berhasil Kumpulkan Banyak Kolostrum ASI untuk Baby Soleil, Ini Manfaatnya untuk Anak

Menyusui Annisa Karnesyia

100 Ucapan Selamat Hari Kenaikan Isa Almasih atau Yesus Kristus 2026 Penuh Makna

Mom's Life Azhar Hanifah

Gigi Anak yang Berlubang Parah Tidak Dapat Disembuhkan? Ini Jawaban Dokter

Parenting Indah Ramadhani

Jarang Tersorot, Ini Potret Aishakyra Zara Anak Teuky Zacky yang Warisi Wajah Bule Ibunda

Parenting Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

3 Film Anak tentang Kenaikan Yesus yang Wajib Ditonton Bareng Si Kecil

Sudah Remaja, Intip Potret Dua Cucu Gus Dur yang Mulai Curi Perhatian

Gigi Anak yang Berlubang Parah Tidak Dapat Disembuhkan? Ini Jawaban Dokter

Alyssa Daguise Berhasil Kumpulkan Banyak Kolostrum ASI untuk Baby Soleil, Ini Manfaatnya untuk Anak

Flamingo Era, Fase Perubahan 'Warna' Perempuan Pasca Melahirkan sampai Anak Beranjak Dewasa

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK