
kehamilan
Jumlah Sperma Dunia Turun hingga 2 Persen per Tahun, Ternyata Ini Faktor Pemicunya
HaiBunda
Sabtu, 30 Aug 2025 21:50 WIB

Kehamilan hanya dapat terjadi bila sel sperma pria bertemu dan membuahi sel telur di dalam tubuh perempuan. Hasil pembuahan lalu menempel pada dinding rahim dan berkembang menjadi janin.
Sperma yang sehat dengan jumlah yang cukup banyak menjadi salah satu faktor penentu terjadinya kehamilan pada perempuan, Bunda. Sebaliknya, penurunan jumlah sperma dikaitkan dengan rendahnya peluang untuk hamil.
Dilansir laman Healthline, jumlah sperma yang umum berkisar antara 15 juta hingga lebih dari 200 juta sperma per mililiter (mL) air mani. Jumlah sperma yang kurang dari 15 juta atau 39 juta sperma per ejakulasi, dianggap rendah atau disebut sebagai oligospermia.
"Jumlah sperma dapat memengaruhi kesuburan karena peluang untuk membuat pasangan hamil akan menurun seiring dengan jumlah sperma yang lebih rendah. Masalah kualitas sperma juga dapat memengaruhi peluang untuk hamil," kata pakar dan asisten dokter Helen Chen MCMSc, PA-C.
Penurunan jumlah sperma dapat disebabkan karena banyak faktor. Namun belakangan, studi terbaru menemukan fakta mengejutkan terkait jumlah sperma pria. Menurut studi, jumlah sperma telah menurun dengan laju sekitar 1 persen per tahun selama 50 tahun terakhir dan kesuburan juga menurun dengan laju yang sama, Bunda.
Studi temukan jumlah sperma turun per tahun
Jumlah sperma turun telah dikaitkan dengan meningkatnya obesitas, gaya hidup tidak sehat, dan populasi yang menua. Namun menurut profesor kedokteran lingkungan dan kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai, New York City, Dr. Shanna Swan, faktor lingkungan juga memainkan peran paling signifikan dalam terjadinya penurunan jumlah sperma.
Swan mengatakan bahwa sebagian besar penurunan tersebut disebabkan oleh racun di lingkungan yang dapat mengganggu hormon steroid pada tubuh manusia.
Pada tahun 2017, Swan dan rekan-rekannya menerbitkan sebuah studi meta-analisis yang diterbitkan di Human Reproduction Update. Studi ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah sperma hampir 60 persen terjadi di antara pria di Amerika Utara, Eropa, dan Australia antara tahun 1973 dan 2011.
Pada tahun 2023, Swan mengulangi penelitian tersebut dan memperluas studi hingga tahun 2018 dan memasukkan data yang sebelumnya tidak tersedia dari Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Hasil studi mengungkap fakta mengejutkan, yakni jumlah sperma pada pria diketahui turun lebih dari 2 persen per tahun.
"Kami memisahkan negara-negara tersebut menjadi negara Barat dan non-Barat untuk tujuan analisis, dan di keduanya kami menemukan penurunan yang signifikan," kata Swan, dikutip dari The Guardian.
"Jika melihat semua studi yang dilakukan sejak tahun 1973, kita akan melihat penurunan sebesar 1 persen per tahun. Tetapi jika melihat studi yang diterbitkan setelah tahun 2000, kita akan melihat penurunan lebih dari 2 persen. Jadi, tingkat penurunan telah naik, dan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir," lanjutnya.
Penyebab penurunan jumlah sperma
Belum lama ini, sebuah laporan yang ditinjau oleh Swan dan diterbitkan oleh perusahaan yang berfokus pada solusi lingkungan, Deep Science Ventures, memperingatkan bahwa polusi kimia merupakan 'ancaman' yang kurang mendapat perhatian. Polusi kimia ini termasuk penggunaan bahan plastik yang dikaitkan dengan penurunan jumlah sperma.
"Phthalates atau ftalat adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam plastik untuk memberikan fleksibilitas dan membuatnya lunak. Jadi, kapan pun kita memegang botol atau selang, seperti selang medis atau wadah makanan yang lunak, maka itu sama saja kita akan menyentuh ftalat," ungkap Swan.
"Lalu, di sisi lain, bahan kimia lain yang juga jahat adalah bisfenol. Ftalat membuat plastik lunak dan fleksibel, sementara bisfenol membuatnya keras dan tidak fleksibel. Ftalat menurunkan testosteron, lalu bisfenol dapat meningkatkan estrogen."
Efek zat-zat kimia pengganggu hormon endokrin lainnya juga dapat memengaruhi janin dan embrio yang berkembang di dalam rahim, Bunda. Sebelumnya, Swan telah melakukan penelitian tentang efek ftalat pada bayi laki-laki yang belum lahir, dan menemukan bahwa paparan pada kehamilan dapat menyebabkan kelainan ringan pada perkembangan seksual.
"Kami menemukan hubungan antara paparan bahan kimia dan kesuburan. Kemudian, ketika kita melihat jumlah sperma total menurun di seluruh dunia, saya yakin kita akan melihat dampak dari paparan dini terhadap bahan kimia tersebut," kata Swan.
Studi yang meneliti tentang bahaya zat kimia, terutama mikroplastik, pada sperma juga pernah dilakukan oleh peneliti lainnya. Salah satunya studi yang diterbitkan di jurnal Science of The Total Environment tahun 2023. Studi ini menemukan adanya mikroplastik dalam air mani enam dari 10 pria muda sehat di Italia.
Studi lain yang dilakukan pada sampel tikus melaporkan bahwa mikroplastik dapat mengurangi jumlah sperma dan menyebabkan kelainan serta gangguan hormon. Studi ini sendiri diterbitkan di jurnal Toxicology pada tahun 2022.
Demikian temuan terbaru tentang sperma pria yang dilaporkan menurun hingga 2 persen per tahun, serta kemungkinan penyebabnya. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT

Kehamilan
Kenapa Sperma Keluar Sedikit? Kenali Penyebab, Tanda yang Harus Diwaspadai, dan Cara Mengatasinya

Kehamilan
Kebiasaan Kantongi HP Kurangi Kualitas & Jumlah Sel Sperma Ayah?

Kehamilan
Berencana Promil, Berapa Kali Idealnya Sperma Keluar dalam Seminggu?

Kehamilan
5 Tips Membuat Sperma Lebih Sehat untuk Lancarkan Program Hamil

Kehamilan
7 Makanan Penambah Sperma, Bantu Sukseskan Program Hamil


10 Foto
Kehamilan
10 Bunda Seleb Pernah Gagal Program Bayi Tabung, Ada yang Mencoba Enam Kali
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda