HaiBunda

KEHAMILAN

Glaukoma pada Ibu Hamil, Seberapa Bahaya dan Bagaimana Penanganannya?

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 14 Jan 2026 08:50 WIB
Ilustrasi Glaukoma pada Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/PonyWang
Jakarta -

Glaukoma dapat terjadi selama kehamilan, Bunda. Memahami penyebab dan faktor risikonya sangat penting untuk mengetahui penanganannya.

Perlu diketahui, glaukoma adalah sekelompok penyakit mata yang memengaruhi saraf optik. Dilansir Healthline, saraf optik mengirimkan informasi dari otak ke mata. Tanpa pengobatan, glaukoma dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen dan kebutaan.

Menurut ulasan di International Journal of Ophthalmology, glaukoma dilaporkan terjadi pada sekitar 2 hingga 3 persen ibu hamil di atas usia 40 tahun. Pevalensinya meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia untuk semua ras dan etnis.


"Pengobatan glaukoma selama dan setelah kehamilan menghadirkan tantangan unik dalam menyeimbangkan risiko kehilangan penglihatan pada ibu dengan potensi bahaya pada janin atau bayi baru lahir," demikian isi ulasan di jurnal tersebut.

Glaukoma dapat ditandai dengan peningkatan tekanan intraokular yang dapat berkembang menjadi kehilangan penglihatan seiring waktu. Menurut banyak penelitian, tekanan intraokular pada ibu hamil umumnya lebih rendah dibandingkan perempuan seusia yang tidak hamil.

Studi yang diterbitkan di Archives of Medical Research terhadap 32 ibu hamil dengan hipertensi okular menunjukkan tekanan intraokular secara signifikan lebih rendah mulai dari usia kehamilan 24 minggu. Namun, studi lain terhadap 15 pasien dengan glaukoma yang sudah ada sebelumnya menunjukkan bahwa hampir setengah dari pasien mengalami peningkatan tekanan setidaknya 5 mm Hg selama kehamilan. Studi lain terhadap pasien yang menggunakan tiga atau lebih obat glaukoma sebelum kehamilan melaporkan peningkatan tekanan bilateral yang parah sebelum trimester ketiga.

"Studi-studi ini menunjukkan bahwa pasien hamil dengan glaukoma yang sudah ada sebelumnya mungkin memiliki risiko sedang yang memerlukan pemantauan ketat," ungkap pakar Ang Li, MD, melansir dari laman Cleveland Clinic.

Penanganan glaukoma pada kehamilan

Penanganan glaukoma pada ibu hamil merupakan tantangan bagi dokter mata karena kurangnya bukti klinis yang mendukung pengobatan, Bunda. Selain itu, banyak dokter memiliki kekhawatiran tentang penggunaan obat dengan risiko fetotoksisitas (membahayakan janin).

Menurut Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA US), sebagian besar obat glaukoma diberi label kategori C. Itu artinya, studi pada subjek hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkontrol dengan baik pada manusia. Meski begitu, potensi manfaat mungkin dapat menjadi pembenaran dari penggunaan obat di ibu hamil, meskipun ada potensi risiko.

"Penting untuk dicatat bahwa banyak studi pada hewan menggunakan konsentrasi obat yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada yang akan digunakan secara klinis. Oleh karena itu, sulit untuk mengekstrapolasi temuan dari studi ini," ungkap Ang Li.

"Selain itu, terdapat laporan kasus yang terbatas, tidak ada studi prospektif, dan tidak ada kasus besar yang menilai obat glaukoma pada ibu hamil. Kita memiliki basis data pasien yang sangat kecil," sambungnya.

Ada beberapa pengobatan yang tersedia selama hamil untuk perempuan dengan glaukoma, seperti beta blocker, alpha adrenergic agents, analog prostaglandin, dan inhibitor karbonat anhidrase. Namun, penggunaannya belum tentu ampuh dan aman.

Ibu hamil juga dapat menggunakan tetes mata untuk glaukoma. Namun, penggunaannya harus hai-hati karena tujuan utamanya untuk membantu meminimalkan penyerapan sistemik dan paparan pada janin.

Tindakan lain adalah prosedur bedah. Tetapi, banyak pasien khawatir untuk melakukan tindakan ini. Misalnya, operasi filtrasi glaukoma memiliki risiko kegagalan yang lebih tinggi karena kontraindikasi penggunaan obat selama kehamilan dan menyusui.

Oleh karena itu, hal terbaik yang dilakukan bila terkena glaukoma saat hamil adalah menunda intervensi bila memungkinkan. Pasalnya, sebagian besar kasus glaukoma dapat dipantau dengan cermat hingga tindakan yang lebih tepat dapat dilakukan dengan aman setelah melahirkan atau menyusui.

Demikian serba-serbi glaukoma selama kehamilan yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Fakta Pertumbuhan Rambut Bayi dalam Kandungan

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Dulu Ramai, Kini Kota Ini jadi Tersepi di Dunia dengan 1 Penduduk

Mom's Life Natasha Ardiah

Puasa Tetap Fit dan Aktif, Ini 5 Rekomendasi Vitamin untuk Bunda

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Fauzan Julian Kurnia

Diet Ekstrem Park Min Young Jadi Sorotan, Hanya Minum 3 Liter Air Sehari

Mom's Life Amira Salsabila

Vidi Aldiano Meninggal, Begini Ketegaran Sheila Dara Diungkap Para Rekan Artis

Mom's Life Nadhifa Fitrina

11 Outfit Baju Lebaran Artis untuk Ibu Hamil, Stylish tapi Tetap Nyaman!

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

25 Ide Menu Sahur Tanpa Nasi yang Mengeyangkan

Terbukti pada 1.000 Orang Selama 40 Tahun, Ini Faktor Utama Kesuksesan Anak

Pesawat Hercules Angkut Uang Rp1 T Jatuh, Warga Berebut hingga Hilang 30 Persen

Puasa Tetap Fit dan Aktif, Ini 5 Rekomendasi Vitamin untuk Bunda

Dulu Ramai, Kini Kota Ini jadi Tersepi di Dunia dengan 1 Penduduk

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK