KEHAMILAN
Kisah Pilu Bunda 13 Kali Hamil, hanya 3 Anak Berhasil Lahir
Annisa Aulia Rahim | HaiBunda
Senin, 09 Feb 2026 13:00 WIBTak semua cerita kehamilan berakhir dengan pelukan hangat dan tangisan bayi di ruang bersalin. Sebagian Bunda harus melewati jalan yang jauh lebih sunyi dipenuhi harap, cemas, dan kehilangan yang berulang.
Itulah yang dialami seorang Bunda muda asal Amerika Serikat, Shaycie Jane. Di usianya yang masih sangat belia, ia sudah 13 kali hamil, namun hanya tiga anak yang berhasil lahir dan bertahan hidup.
Hamil pertama di usia 14 tahun, berakhir dengan kehilangan
Shaycie Jane (21) hamil pada usia 14 tahun setelah pertama kali berhubungan seks. Saat itu, ia belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Ia baru menyadari dirinya hamil setelah mengalami keterlambatan haid.
“Aku menyadari aku terlambat haid, saat sedang membersihkan rumah aku melihat setumpuk alat tes kehamilan dan aku menggunakan empat semuanya positif,” ujar Shaycie dikutip dari Nypost.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan singkat. Di usia kehamilan sekitar enam minggu, ia mengalami keguguran pertama. Kehilangan yang datang begitu cepat, bahkan sebelum sempat membayangkan masa depan sebagai seorang ibu.
Keguguran berulang, luka yang tak pernah sama
Sejak saat itu, kehamilan demi kehamilan datang dan pergi. Hingga usianya 21 tahun, ia telah mengalami sembilan kali keguguran termasuk yang terbaru adalah bayi kembar perempuan pada November 2023. Ada yang terjadi di awal kehamilan, ada pula yang harus dilepas saat harapan sudah mulai tumbuh.
Ia bahkan memberi nama pada bayi-bayi yang tak sempat lahir, sebagai bentuk cinta dan penghormatan. Sebuah cara untuk berdamai dengan kehilangan yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
Keguguran yang kedua yang dialami Shaycie terjadi pada Maret 2019 dan Maret 2020, bayi kembar yang ia beri nama Blythe dan Ottilie, serta Evangeline. Kehamilan kedua tersebut terjadi dua bulan sebelum Shaycie berusia 18 tahun.
Kemudian, Shaycie mengalami dua kali keguguran lagi dengan bayi yang ia beri nama Trent dan Mason. Bukan hanya itu, dia mengalami tiga keguguran lagi dengan bayi-bayi yang dia beri nama Semi, Pertitalia, dan Ciel, pada September 2022, Desember 2022, dan Mei 2023. Dan pada Oktober 2023 dia mengetahui bahwa dia hamil kali ini dengan bayi kembar.
Salah satu yang paling berat adalah kehamilan kembar ketika salah satu janin tidak dapat bertahan. Bagi sang bunda, setiap janin bukan sekadar “kehamilan yang gagal”, tapi kehidupan yang sudah dicintai.
Tiga anak yang lahir, tiga keajaiban
Di tengah deretan kehilangan itu, ada tiga momen yang menjadi titik terang. Anak pertamanya lahir pada 29 Juli 2022, dengan berat 6 pon 11 ons. Ia pun menamai putrinya dengan Felicity. Kehamilan ini diwarnai preeklamsia, kondisi serius pada ibu hamil yang ditandai dengan tekanan darah tinggi.
“Saya di diagnosa preeklampsia pada usia kehamilan 17 minggu, tetapi pada usia kehamilan 30 minggu gejalanya hilang, yang saya syukuri karena saya menginginkan pengalaman melahirkan yang lebih baik,” tutur Shaycie,
Dan pada Oktober 2023 dia mengetahui bahwa dia hamil kali ini dengan bayi kembar. Meski sempat mengalami tanda-tanda preeklamsia di awal kehamilan, kondisinya membaik hingga persalinan. Shaycie pun melahirkan kedua anaknya melalui proses persalinan normal.
Mengapa keguguran bisa terjadi berulang kali?
Mengalami keguguran satu kali saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi jika harus mengalaminya berulang kali. Banyak bunda bertanya-tanya, “Apa ada yang salah dengan tubuhku?” atau “Kenapa bisa terulang lagi?”
Secara medis, keguguran berulang disebut recurrent pregnancy loss (RPL), yaitu kondisi ketika seorang perempuan mengalami dua kali atau lebih keguguran berturut-turut. Menurut para ahli, penyebabnya tidak selalu satu, dan sering kali bukan kesalahan ibu.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan menurut studi medis:
1. Masalah kromosom, penyebab paling umum
Studi menunjukkan bahwa kelainan kromosom pada embrio adalah penyebab paling sering keguguran, terutama di trimester awal. Kondisi ini biasanya terjadi secara alami saat pembuahan, ketika jumlah atau susunan kromosom tidak normal.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di National Institutes of Health (NIH), sebagian besar keguguran dini terjadi karena janin memang tidak dapat berkembang dengan baik sejak awal. Artinya, tubuh secara alami menghentikan kehamilan yang tidak viable.
Penting diketahui: kondisi ini bukan akibat aktivitas ibu, makanan, atau stres semata.
2. Bentuk atau kondisi rahim yang tidak ideal
Beberapa bunda memiliki kondisi rahim tertentu yang membuat janin sulit bertahan, seperti:
- Rahim berbentuk tidak normal
- Adanya sekat di rahim
- Miom atau jaringan parut
Menurut Yale Medicine, kelainan anatomi rahim ditemukan pada sekitar 10–15 persen kasus keguguran berulang. Kabar baiknya, sebagian kondisi ini bisa ditangani secara medis.
3. Gangguan hormon dan penyakit tertentu
Hormon sangat berperan dalam mempertahankan kehamilan. Gangguan seperti:
- Diabetes yang tidak terkontrol
- Gangguan tiroid
- PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)
Diketahui dapat meningkatkan risiko keguguran berulang. Studi dari British Columbia Medical Journal menyebutkan bahwa ketidakseimbangan hormon dapat mengganggu proses implantasi dan perkembangan awal janin.
4. Gangguan autoimun, saat tubuh ‘menyerang’ kehamilan
Dalam beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh justru menjadi penghambat kehamilan. Salah satunya adalah Sindrom Antifosfolipid (APS), kondisi autoimun yang menyebabkan darah mudah menggumpal dan mengganggu aliran darah ke plasenta.
Menurut UCSF Health, sekitar 10–15 persen perempuan dengan keguguran berulang ditemukan memiliki gangguan imun ini.
5. Gangguan pembekuan darah
Beberapa perempuan memiliki kondisi darah yang lebih mudah menggumpal (trombofilia), sehingga aliran darah dan nutrisi ke janin terganggu. Kondisi ini sering tidak bergejala dan baru terdeteksi setelah keguguran berulang.
6. Faktor gaya hidup dan lingkungan
Meski bukan penyebab utama, faktor seperti:
- Merokok
- Konsumsi alkohol
- Obesitas
- Paparan zat berbahaya
Dapat meningkatkan risiko keguguran menurut Baylor College of Medicine. Perubahan gaya hidup sering menjadi bagian penting dari program kehamilan berikutnya.
7. Tidak ditemukan penyebab yang jelas, dan itu sering terjadi
Fakta yang sering mengejutkan, sekitar 50 persen kasus keguguran berulang tidak ditemukan penyebab pastinya, meski pemeriksaan sudah dilakukan secara menyeluruh. Hal ini juga dicatat dalam Journal of Clinical Gynecology and Obstetrics.
Ini menunjukkan bahwa ilmu kedokteran pun masih terus belajar memahami kompleksitas kehamilan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)