kehamilan
Ternyata Sel Plasenta Berevolusi Selama 100 Juta Tahun untuk Menopang Kehamilan
HaiBunda
Minggu, 01 Feb 2026 13:00 WIB
Sel plasenta merupakan organ sementara yang terbentuk di rahim selama kehamilan. Plasenta menempel di dinding rahim dan bertugas untuk menyediakan nutrisi serta oksigen ke janin di dalam kandungan, Bunda.
Sudah banyak studi meneliti manfaat sel plasenta selama kehamilan. Namun, studi terbaru mengungkap fakta yang cukup mengejutkan tentang plasenta. Studi menemukan bahwa sel plasenta ternyata sudah berevolusi selama 100 juta tahun untuk menopang kehamilan.
Studi yang dipimpin tim peneliti internasional dan para ilmuwan dari University of Vienna ini dipublikasikan di Nature Ecology & Evolution pada Juli 2025. Studi dilakukan pada enam spesies mamalia yang mewakili cabang-cabang evolusi mamalia, seperti tikus dan marmut (hewan pengerat), monyet makaka dan manusia (primata), dan dua mamalia yang tidak biasa, seperti tenrec (mamalia plasenta awal) dan opossum (marsupial yang terpisah dari mamalia plasenta sebelum mereka mengembangkan plasenta yang kompleks).
Peneliti menganalisis sel-sel pada interface ibu dan janin untuk menelusuri asal usul evolusi dan diversifikasi jenis sel utama yang terlibat. Fokusnya adalah sel plasenta yang berasal dari janin dan menginvasi jaringan ibu dan sel stroma uterus yang berasal dari ibu serta merespons invasi ini.
Melalui alat biologi molekuler, tim peneliti lalu mengidentifikasi tanda genetik yang berbeda, termasuk pola aktivitas gen yang unik untuk jenis sel tertentu dan fungsinya. Hasilnya, mereka menemukan tanda genetik yang terkait dengan perilaku invasif sel plasenta janin telah dilestarikan pada mamalia selama lebih dari 100 juta tahun.
Temuan tersebut menantang pandangan tradisional bahwa sel plasenta invasif hanya ada pada manusia, dan mengungkapkan bahwa itu adalah fitur yang dianggap 'lestari' dalam evolusi mamalia.
Selama studi ini, sel-sel ibu ditemukan tidak statis. Mamalia plasenta (bukan marsupial) ditemukan telah memperoleh bentuk produksi hormon baru, yang menjadi tanda bahwa janin dan ibu dapat saling mendorong evolusi satu sama lain.
Hipotesis yang ditemukan peneliti tentang plasenta
Untuk lebih memahami bagaimana interface ibu dan janin berfungsi, peneliti menguji dua teori berpengaruh tentang evolusi komunikasi seluler antara ibu dan janin.
Dilansir Science Daily, hipotesis pertama memprediksi bahwa seiring berjalannya waktu evolusi, sinyal hormonal menjadi jelas dikaitkan dengan janin atau ibu. Hasil penelitian mengkonfirmasi bahwa sinyal-sinyal tertentu, termasuk protein WNT, modulator imun, dan hormon steroid, dapat ditelusuri kembali dengan jelas ke satu jaringan sumber.
Hipotesis kedua menunjukkan kalau janin meningkatkan sinyal pertumbuhan, sementara dari pihak ibu mencoba untuk meredamnya. Pola ini diamati pada sejumlah kecil gen, terutama IGF2, yang mengatur pertumbuhan. Secara keseluruhan, bukti menunjukkan adanya pensinyalan kooperatif yang disesuaikan dengan baik.
"Temuan ini menunjukkan bahwa evolusi mungkin lebih mendukung koordinasi antara ibu dan janin daripada yang diasumsikan sebelumnya," kata penulis utama studi, Daniel J. Stadtmauer.
"Ini disebut perebutan kekuasaan antara ibu dan janin, yang tampaknya terbatas pada wilayah genetik tertentu. Alih-alih bertanya apakah kehamilan secara keseluruhan merupakan konflik atau kerja sama, pertanyaan yang lebih bermanfaat mungkin adalah, di mana letak konfliknya?"
Kunci untuk mengetahui kehamilan yang berevolusi
Penemuan tim peneliti ini dapat dilakukan berkat penggabungan dua alat, yakni transkriptomik sel tunggal yang menangkap aktivitas gen dalam sel individual, dan teknik pemodelan evolusi yang membantu para ilmuwan merekonstruksi bagaimana sifat-sifat tersebut mungkin terlihat pada nenek moyang yang telah lama punah.
Nah, dengan menerapkan metode ini pada jenis sel dan aktivitas gen, para peneliti dapat mensimulasikan bagaimana sel berkomunikasi dalam spesies yang berbeda, dan bahkan melihat sekilas bagaimana dialog ini telah berevolusi selama jutaan tahun.
"Pendekatan kami membuka jendela baru ke dalam evolusi sistem biologis kompleks, dari sel individual hingga seluruh jaringan," kata salah satu penulis utama dan peneliti, Silvia Basanta.
Studi ini tidak hanya menjelaskan bagaimana kehamilan berevolusi, tetapi juga menawarkan kerangka kerja baru untuk melacak inovasi evolusioner pada tingkat seluler. Ini akan menjadi wawasan yang suatu hari nanti dapat meningkatkan cara kita memahami, mendiagnosis, atau mengobati komplikasi terkait kehamilan.
Demikian hasil studi tentang evolusi sel plasenta yang mendukung kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
Letak Plasenta yang Bagus di Trimester 2 untuk Hindari Komplikasi Kehamilan
Kehamilan
5 Fungsi Plasenta untuk Perkembangan Janin, Bunda Perlu Tahu
Kehamilan
4 Masalah Plasenta yang Mungkin Terjadi saat Hamil, Awas Bahayakan Janin Bun
Kehamilan
3 Tips Menjaga Plasenta Tetap Sehat Selama Hamil
Kehamilan
Bunda, Kenali 9 Faktor yang Pengaruhi Kesehatan Plasenta
7 Foto
Kehamilan
Intip 7 Potret Baby Moon Siti Badriah di Bali, Seru Bareng Suami Bun
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Mengenal Plasenta Anterior pada Kehamilan dan Risiko Komplikasinya
Ciri-ciri Plasenta Tidak Normal dan Bermasalah pada Kehamilan
7 Penyebab Plasenta Bayi Kecil atau Insufisiensi Plasenta Beserta Cara Mengatasinya