Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Deretan Negara yang Alami Lonjakan Persalinan Caesar, Terungkap Penyebabnya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 19 Feb 2026 07:05 WIB

Jenis sayatan operasi caesar
Ilustrasi Operasi Caesar/ Foto: Getty Images/FatCamera
Daftar Isi
Jakarta -

Pilihan melahirkan melalui persalinan caesar mengalami lonjakan di beberapa negara. Kini, banyak perempuan memilih prosedur caesar lantaran sudah lebih aman seiring berkembangkan teknologi medis.

Menurut penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021, metode operasi caesar terus meningkat secara global, mencapai lebih dari 1 dari 5 (21 persen) dari seluruh persalinan. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat, dengan hampir sepertiga (29 persen) dari seluruh persalinan kemungkinan akan terjadi melalui operasi caesar pada tahun 2030.

Meskipun persalinan caesar dapat menjadi operasi penting dan menyelamatkan nyawa, tindakan ini tetap dianggap bisa menempatkan ibu dan bayi pada risiko masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. Operasi caesar dianggap menjadi penting bila ada kebutuhan medis yang mendesak.

Negara yang alami lonjakan persalinan caesar

Ada beberapa negara yang mengalami lonjakan persalinan caesar selama beberapa tahun terakhir. Simak penjelasannya berikut ini, Bunda!

1. Korea Selatan

Pada tahun 2024, jumlah operasi caesar meningkat di Korea Selatan. Dikutip dari The Chosun Daily, jumlahnya bahkan dua kali lipat melampaui persalinan normal (pervaginam).

Menurut National Health Insurance Service (NHIS) Korea Selatan, dari total 236.919 persalinan di seluruh negeri, 158.544 adalah operasi caesar dan 78.375 adalah persalinan pervaginam. Tingkat operasi caesar adalah 66,9 persen, atau dua dari setiap tiga bayi baru lahir dilahirkan melalui operasi.

Pada tahun 2018, persalinan pervaginam masih lebih banyak daripada operasi caesar di negara ini. Kesenjangan mulai melebar pada tahun 2019 dan terus meningkat setiap tahunnya, dengan selisih tahun 2024 melebihi 80.000 kasus. Komunitas medis mengaitkan tren ini dengan 'meningkatnya preferensi ibu dan dokter yang memilih operasi caesar untuk menghindari risiko hukum'.

Secara umum, persalinan pervaginam memungkinkan pemulihan pasca yang lebih cepat dan masa rawat inap yang lebih singkat dibandingkan dengan operasi caesar. Pasien yang melahirkan caesar tidak dapat mandi selama sekitar satu minggu karena risiko infeksi di lokasi sayatan dan menghadapi risiko komplikasi yang lebih tinggi seperti infeksi atau pendarahan.

Angka kematian ibu untuk persalinan pervaginam adalah 0,2, sedangkan untuk operasi caesar adalah 2,2 hingga 11 kali lebih tinggi. Terlepas dari data tersebut, faktanya proporsi ibu yang memilih operasi caesar terus meningkat, Bunda.

Peningkatan sebagian besar disebabkan oleh populasi ibu yang semakin tua. Tahun 2024, usia rata-rata persalinan perempuan adalah 33,7 tahun atau 1,66 tahun lebih tinggi daripada satu dekade lalu. Dokter kandungan mengatakan bahwa ibu yang lebih tua menghadapi kesulitan lebih besar dalam persalinan pervaginam dan risiko persalinan prematur, sehingga mereka memilih untuk melahirkan secara caesar.

"Ibu yang baru pertama kali melahirkan biasanya menanggung setidaknya 10 jam rasa sakit persalinan. Seiring berjalannya waktu bersalin, komplikasi dapat muncul, mendorong banyak ibu untuk memilih operasi caesar," kata Professor Kim Eui-hyuk dari Ilsan Cha Hospital.

Namun, meningkatnya jumlah ibu muda yang memilih operasi caesar juga turut berkontribusi terhadap peningkatan ini. Menurut statistik bedah NHIS, 51 persen dari 40.328 metode persalinan yang dilakukan oleh perempuan berusia 20-an tahun adalah operasi caesar.

Penyebab lain dari angka kenaikan ini juga dapat disebabkan faktor 'keberhasilan operasi caesar' dan 'keinginan pribadi'. Operasi memungkinkan ibu untuk merencanakan tanggal persalinan mereka dari jauh-jauh hari. Bahkan, ada pasangan yang meminta tanggal dan waktu tertentu untuk persalinan.

Tak hanya itu, staf medis juga dilaporkan lebih memilih operasi caesar untuk meminimalkan tanggung jawab hukum. Mereka menghindari risiko pidana karena tindakan malpraktik.

2. Inggris

Jumlah bayi yang lahir melalui operasi caesar juga meningkat di Inggris. Dilansir BBC, data NHS tahun 2024-2025 menunjukkan bahwa 45 persen kelahiran di negara ini dilakukan melalui operasi caesar. Mereka uang melahirkan spontan (pervaginam) sebesar 44 persen, sementara 11 persen lainnya membutuhkan dukungan dan intervensi tambahan seperti penggunaan forsep.

NHS Inggris mengatakan bahwa peningkatan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pilihan perempuan dan peningkatan kondisi kesehatan ibu yang sudah ada sebelumnya, seperti diabetes dan obesitas. Penyebab tersebut juga sering kali dikaitkan dengan faktor usia ibu.

"Kita tahu bahwa usia ibu semakin meningkat, dan kita tahu bahwa angka penyakit juga meningkat. Saya juga berpikir pengalaman sebelumnya akan berperan," ujar dokter di Shrewsbury and Telford Hospitals, Dr. Donna Ockenden.

"Trauma saat melahirkan anak pertama dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menjalani operasi caesar pada kelahiran kedua."

Bagi banyak perempuan, menjalani operasi caesar bisa menjadi sebuah pilihan. Setidaknya, dalam 10 tahun terakhir, jumlah operasi caesar telah meningkat dua kali lipat.

Profesor studi kebidanan di University of Lancashire, Soo Downe, mengatakan ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut. Salah satunya rasa khawatir yang muncul karena tidak mendapatkan dukungan.

Downe berpendapat bahwa sebagian dari permasalahan ini terjadi karena meningkatnya jumlah perempuan yang merasa operasi caesar adalah 'pilihan yang tidak buruk' karena ada kekhawatiran mereka mungkin tidak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk 'persalinan yang aman, lancar, dan positif'.

3. Turki

Menurut statistik 2021 dari World Population Review, Turki menjadi negara dengan tingkat operasi caesar tertinggi. Di tahun itu, negara ini tercatat menangani 584 operasi caesar per 1.000 kelahiran hidup.

Menurut ulasan di laman Bianet, data Kementerian Kesehatan Turki menunjukkan bahwa angka operasi caesar meningkat dari sekitar 20 persen pada awal tahun 2000-an menjadi lebih dari 50 persen pada tahun 2013. Sementara itu, data statistik tahunan kesehatan 2023 menunjukkan bahwa 61 dari setiap 100 kelahiran di Turki tersebut dilakukan melalui operasi caesar, jauh melebihi batas rekomendasi WHO sebesar 15 persen.

Dari beberapa sumber diketahui beragam alasan perempuan di Turki memilih untuk melahirkan caesar, Bunda. Beberapa di antaranya karena komersialisasi layanan kesehatan atau biaya rumah sakit, kekhawatiran akan tuntutan malpraktik, dan preferensi pasien.

Banyak perempuan Turki memilih prosedur ini karena menganggapnya sebagai alternatif yang lebih aman dan lebih dapat diprediksi daripada persalinan pervaginam.

Pada pertengahan tahun 2025, pemerintah Turki akhirnya mengambil tindakan terkait angka persalinan caesar yang terus meningkat. Pemerintah membatasi operasi caesar maksimal dua atau tiga kali persalinan per perempuan.

Tak hanya itu, Turki juga melarang persalinan caesar tanpa alasan medis yang sah di klinik swasta. Sayangnya, aturan tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Para aktivitas menuduh pemerintah berupaya mengendalikan tubuh perempuan dengan dalih masalah demografi. Demikian seperti dilansir laman The New Arab.

Demikian deretan negara dengan angka kelahiran caesar yang meningkat selama beberapa tahun terakhir.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda