HaiBunda

KEHAMILAN

Stroke Ibu Hamil: Panduan Pencegahan & Perawatan sejak Kehamilan hingga Pasca Persalinan

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 21 Feb 2026 12:10 WIB
Stroke Ibu Hamil: Panduan Pencegahan & Perawatan sejak Kehamilan hingga Pasca Persalinan/Foto: Getty Images/AnnaStills
Jakarta -

Stroke di zaman sekarang bukan lagi penyakit hanya untuk orang tua atau lansia. Stroke juga bisa terjadi pada perempuan muda, seperti stroke pada ibu hamil atau setelah melahirkan. Kondisi tersebut memang jarang terjadi. Tapi stroke pada ibu hamil merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat.

Banyak faktor yang dapat meninggalkan risiko stroke pada ibu hamil. Karena itu, ibu hamil penting untuk memahami panduan pencegahan stoke serta perawatan sejak kehamilan hingga persalinan. 

Apa itu stroke pada ibu hamil?

Stroke adalah kondisi ketika ada masalah dengan aliran darah ke bagian otak. Ini bisa terjadi ketika pembuluh darah tersumbat atau ada pendarahan di otak. Stroke dapat mengancam jiwa sehingga sangat penting segera mendapatkan perhatian medis untuk mencegah kerusakan permanen atau kematian.


Melansir laman Self, meskipun stroke paling sering terjadi pada orang berusia 65 tahun ke atas, sekitar 10 hingga 14 persen dari semua kasus stroke terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun. Terlebih lagi, stroke semakin umum terjadi pada orang dewasa muda, dan usia rata-rata seseorang yang mengalami stroke semakin muda. 

Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), stroke meningkat sekitar 15 persen pada orang dewasa muda dari tahun 2011 hingga 2022, dengan peningkatan yang lebih tinggi pada perempuan daripada pria.

Pada masa kehamilan dan setelah persalinan, tubuh perempuan mengalami banyak perubahan fisiologis. Perubahan ini dapat memengaruhi tekanan darah, pembekuan darah, dan fungsi pembuluh darah. Semuanya ini berkaitan dengan risiko stroke.

Menurut penelitian yang diterbitkan di International Journal of Stroke, perempuan dengan riwayat stroke sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke kembali selama kehamilan atau periode awal setelah melahirkan.

Menurut Statistik Penyakit Jantung dan Stroke 2026 dari American Heart Association, stroke kini menjadi penyebab kematian ke-4 di AS. Ada dua jenis stroke, yakni:

  1. Stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke otak tersumbat oleh bekuan darah. 
  2. Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah dan berdarah ke dalam otak. 

Stroke terjadi pada sekitar 20 hingga 40 dari setiap 100.000 kehamilan, dan stroke diperkirakan menyumbang sekitar 4-6 persen dari kematian terkait kehamilan setiap tahunnya di AS.

Seberapa sering stroke terjadi pada ibu hamil?

Menurut pernyataan ilmiah baru dari American Heart Association yang diterbitkan di jurnal Stroke dan didukung American College of Obstetricians & Gynecologists, stroke selama kehamilan atau segera setelah melahirkan jarang terjadi, namun dapat mengancam jiwa.

Peningkatan kesadaran dan perawatan terkoordinasi pada perempuan selama kehamilan terkait faktor risiko stroke, diagnosis, pengobatan, dan pemulihan sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi.

"Ketika stroke terjadi selama kehamilan atau periode pasca persalinan, hal itu dapat menyebabkan komplikasi serius pada ibu dan bayi, termasuk defisit neurologis, kecacatan jangka panjang, peningkatan risiko stroke di masa mendatang, dan kematian," kata Eliza Miller, M.D., M.S., ketua kelompok penulisan dan profesor madya neurologi serta kepala neurologi wanita di Universitas Pittsburgh di Pennsylvania. 

Menurutnya, untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan hasil pada ibu dan bayinya, perlunya pengendalian tekanan darah dan risiko stroke lainnya sebelum dan sesudah persalinan. Segera menanggapi tanda-tanda peringatan stroke dan memberikan pengobatan tepat waktu.

Faktor risiko stroke pada ibu hamil

Perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan, termasuk perubahan dalam sistem vaskular yakni pembuluh darah yang membawa darah ke seluruh tubuh, dan perubahan hormonal, dapat berkontribusi pada risiko stroke pada perempuan. Faktor risiko lain untuk stroke terkait kehamilan meliputi:

  1. Hipertensi kronis (tekanan darah tinggi sebelum kehamilan atau didiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu)
  2. Gangguan hipertensi selama kehamilan, seperti hipertensi gestasional dan preeklamsia/eklamsia
  3. Usia ibu lanjut (didefinisikan sebagai 35 tahun atau lebih)
  4. Diabetes
  5. Obesitas
  6. Migrain
  7. Infeksi
  8. Penyakit jantung atau serebrovaskular
  9. Gangguan pembekuan darah

Seperti halnya perbedaan lain dalam hasil kesehatan ibu, stroke secara tidak proporsional memengaruhi orang-orang dari kelompok ras dan etnis minoritas. Sebuah meta-analisis tahun 2020 menemukan bahwa perempuan kulit hitam hamil dua kali lebih mungkin mengalami stroke dibandingkan perempuan berkulit putih hamil, bahkan setelah disesuaikan dengan faktor sosioekonomi.

Gejala stroke yang perlu diwaspadai

Organisasi kesehatan merekomendasikan untuk menghafal akronim B.E. F.A.S.T., yang menguraikan tanda-tanda utama stroke dan mengingatkan bahwa perawatan cepat sangat penting:

  1. Keseimbangan: masalah atau perubahan keseimbangan yang tiba-tiba.
  2. Mata: penglihatan ganda, kehilangan penglihatan pada satu mata, atau perubahan penglihatan mendadak lainnya.
  3. Wajah: terkulai, mati rasa, atau satu sisi wajah terlihat 'miring'.
  4. Lengan: kelemahan dan mati rasa pada satu lengan.
  5. Bicara: kesulitan berbicara atau bicara cadel.
  6. Sakit kepala hebat: terutama dengan onset yang tiba-tiba.

Beberapa organisasi juga menggunakan T untuk mengingatkan orang tentang pentingnya Waktu. Semakin cepat Bunda mendapatkan perawatan untuk stroke, semakin baik hasilnya. 

Pencegahan stroke pada masa kehamilan 

Pencegahan stroke sebaiknya dimulai sejak awal kehamilan, bahkan sebelum merencanakan kehamilan. Para ahli menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah khususnya, karena hipertensi adalah penyebab utama stroke. 

Beberapa perempuan muda mungkin mengalami apa yang disebut hipertensi jas putih, atau tekanan darah tinggi di kantor dokter karena gugup atau cemas (yang biasanya sementara dan bukan masalah besar).

Tetapi Eliza C. Miller, MD, seorang ahli sukarelawan nasional American Stroke Association, profesor neurologi di Columbia University Irving Medical Center, menegaskan untuk tidak membiarkan siapa pun lolos begitu saja. 

"Mungkin itu benar, tetapi mari kita pastikan dengan memberi Anda alat pengukur tekanan darah dan meminta Anda memeriksa tekanan darah di rumah setiap pagi dan memberi saya laporan," katanya. 

Dengan cara ini maka dapat dipastikan seseorang tidak berjalan-jalan dengan tekanan darah tinggi yang tidak diobati.

Terkadang, seseorang sudah melakukan segala upaya untuk menurunkan risiko stroke. Namun, stroke tetap bisa terjadi. Dan jika itu terjadi, maka Bunda perlu mengenali gejalanya agar segera mendapatkan perawatan.

Perawatan stroke pada ibu hamil

Penanganan stroke pada ibu hamil harus melibatkan tim medis multidisiplin. Seperti dokter saraf, dokter kandungan, dan dokter anestesi. Diagnosis biasanya dilakukan dengan:

  • Pemeriksaan fisik.
  • CT-scan atau MRI.
  • Pemeriksaan pembuluh darah otak.

Untuk kasus tertentu memerlukan tindakan operasi seperti penanganan aneurisma sehingga dapat meningkatkan peluang keselamatan ibu dan janin. Perawatan stroke pada ibu hamil akan disesuaikan dengan usia kehamilan, jenis stroke, serta kondisi ibu dan janin.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Es Krim Jadi Penolong, Cerita Panik Nina Zatulini Saat Janin Tak Bergerak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Rumah Penuh Barang Bekas Ini Laku Rp65,8 Miliar, Banyak Pembeli Berebut

Mom's Life Natasha Ardiah

Tina Toon Kenang Cerita Hamil, Sempat Mual dan Muntah Parah Setiap Hari

Kehamilan Annisa Karnesyia

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Nonton Film Horor Menurut Studi

Mom's Life Nadhifa Fitrina

6 Kakak Adik Artis yang Hamil Bareng, Kelewat Kompak!

Kehamilan Annisa Karnesyia

6 Cara Diet Melenyapkan Perut Buncit saat Puasa

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Nonton Film Horor Menurut Studi

Tina Toon Kenang Cerita Hamil, Sempat Mual dan Muntah Parah Setiap Hari

50 Contoh Kata-kata untuk Poster Ramadhan Anak TK & SD dari Simple, Keren, hingga Aesthetic

Rumah Penuh Barang Bekas Ini Laku Rp65,8 Miliar, Banyak Pembeli Berebut

6 Cara Diet Melenyapkan Perut Buncit saat Puasa

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK