HaiBunda

KEHAMILAN

Makanan Ultraproses (UPF) Terbukti Ganggu Kesuburan dan Pertumbuhan Embrio

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Sabtu, 04 Apr 2026 08:30 WIB
Makanan Ultraproses (UPF) Terbukti Ganggu Kesuburan dan Pertumbuhan Embrio/Foto: Getty Images/Doucefleur
Jakarta -

Makanan olahan memang sangat praktis sehingga banyak diandalkan. Namun, informasi terbaru merilis bahwa makanan ultraproses (UPF) terbukti turunkan kesuburan dan ganggu pertumbuhan embrio.

Bagi pejuang garis dua, sepertinya memilih makanan memang perlu dilakukan secara selektif ya, Bunda. Tidak saja mengutamakan makanan bergizi seimbang tetapi juga perlu dibarengi dengan aktivitas fisik yang rutin agar tubuh tetap bugar. Selain itu, menghindari makanan olahan atau makanan ultraproses juga menjadi hal yang perlu dilakukan, Bun.

Sebab, makanan tersebut justru bisa mengganggu kesehatan reproduksi serta mengganggu kesuburan pada pria. Karenanya, ketimbang urusan promil jadi terganggu, ada baiknya menghindarinya terlebih dahulu.


Mengutip dari laman Medical Express, mengonsumsi makanan ultra-processed food (UPF) dalam jumlah besar tidak hanya dikaitkan dengan penurunan kesuburan pada pria, tetapi juga dengan pertumbuhan yang lebih lambat pada embrio awal, dan kantong kuning telur yang lebih kecil, yang penting untuk perkembangan embrio awal, menurut penelitian baru.

Kaitan makanan ultraproses (UFF) dan kesuburan

Para penulis studi, yang diterbitkan dalam Human Reproduction menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi UPF, terutama di sekitar waktu pembuahan dan kehamilan, lebih baik bagi para calon orang tua dan juga kesehatan embrio.

Meskipun kesehatan Bunda dan Ayah diketahui dapat memengaruhi keberhasilan reproduksi serta perkembangan dan kesehatan keturunan, hingga saat ini belum ada penelitian yang menyelidiki dampak gabungan konsumsi makanan ultra-olahan oleh Bunda dan Ayah terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk hamil dan perkembangan embrio dini.

Sejauh ini, memang faktanya banyak sekali makanan yang diproses. Biasanya, makanan tersebut tinggi gula tambahan, garam, lemak jenuh dan trans, serta aditif, rendah serat, makanan utuh, dan minim nutrisi penting lainnya. Selain itu, makanan ini biasanya dirancang untuk kenyamanan dan produksi massal daripada nilai gizinya. Bahkan, di beberapa negara berpenghasilan tinggi, UPF sekarang mencapai hingga 50–60 persen dari makanan yang dikonsumsi setiap hari.

"Meskipun UPF sangat umum dalam diet, sangat sedikit yang diketahui tentang potensi hubungannya dengan hasil kesuburan dan perkembangan manusia secara dini," kata Dr. Romy Gaillard, seorang dokter anak dan profesor madya epidemiologi perkembangan di Pusat Medis Universitas Erasmus, Rotterdam, Belanda, yang memimpin penelitian ini.

Foto: Getty Images/Doucefleur

Penelitian tentang kaitan makanan ultraproses dan kesuburan

Dr. Gaillard dan rekan-rekannya menganalisis temuan dari 831 perempuan dan 651 pasangan pria yang terdaftar dalam studi prospektif berbasis populasi yang telah mengikuti orang tua sejak sebelum pembuahan hingga masa kanak-kanak anak-anak mereka. Pasangan dimasukkan selama periode pra-pembuahan atau selama kehamilan antara tahun 2017 dan 2021. Kemudian, para peneliti menilai pola makan orang tua dengan kuesioner selama kehamilan dini, sekitar 12 minggu. 

Makanan yang berbeda diklasifikasikan sebagai non-UPF atau UPF, dan asupan UPF dinyatakan sebagai persentase dari total asupan makanan dalam gram per hari. Lalu, semua perempuan yang sedang hamil pada saat kuesioner ini diisi. Hasilnya, konsumsi rata-rata (median) UPF masing-masing adalah 22 persen dan 25 persen dari total asupan makanan perempuan dan laki-laki.

Kuesioner juga memberikan informasi tentang waktu kehamilan, kesuburan (kemungkinan hamil dalam satu bulan) dan infertilitas (waktu kehamilan 12 bulan atau lebih, atau penggunaan teknologi reproduksi berbantuan).

Dan, jarak antara kepala embrio dan bokongnya (panjang kepala-bokong atau CRL), yang merupakan indikasi ukuran dan perkembangannya, dan volume kantong kuning telur diukur dengan USG transvaginal pada usia kehamilan tujuh, sembilan, dan 11 minggu.

Dampak makanan ultraproses (UPF) pada perempuan

Penulis pertama studi ini, Celine Lin, seorang Ph.D yang juga seorang mahasiswa di Erasmus University Medical Center mengatakan, "Kami mengamati bahwa konsumsi UPF (makanan olahan susu) pada perempuan tidak secara konsisten berhubungan dengan risiko infertilitas dan waktu kehamilan, tetapi dikaitkan dengan pertumbuhan embrio yang sedikit lebih kecil dan ukuran kantong kuning telur pada minggu ketujuh kehamilan.

"Perbedaan dalam perkembangan awal manusia ini kecil, tetapi penting dari perspektif penelitian dan pada tingkat populasi, karena kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa konsumsi UPF tidak hanya penting untuk kesehatan ibu, tetapi juga mungkin terkait dengan perkembangan keturunan.

Dampak makanan ultraproses (UPF) pada pria

"Pada pria, kami mengamati bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berhubungan dengan risiko infertilitas yang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama hingga kehamilan tercapai, tetapi tidak dengan perkembangan embrio awal. Hubungan ini dapat dijelaskan oleh sensitivitas sperma terhadap komposisi makanan, sedangkan konsumsi UPF ibu dapat secara langsung memengaruhi lingkungan di dalam rahim tempat embrio berkembang sejak awal kehidupan."

Dr. Gaillard mengatakan, "Temuan kami menunjukkan bahwa diet rendah UPF akan menjadi yang terbaik bagi kedua pasangan, tidak hanya untuk kesehatan mereka sendiri, tetapi juga untuk peluang kehamilan dan kesehatan anak yang belum lahir."

Dalam studi lainnya menunjukkan bahwa pertumbuhan embrio yang lebih lambat pada trimester pertama dikaitkan dengan peningkatan risiko hasil kelahiran yang merugikan, termasuk kelahiran prematur (kelahiran sebelum 37 minggu), berat badan lahir rendah, dan peningkatan risiko masalah jantung dan pembuluh darah pada masa kanak-kanak. Dan, gangguan perkembangan kantong kuning telur dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran dan kelahiran prematur.

Dr. Gaillard melanjutkan, "Studi kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa konsumsi UPF pada perempuan dan laki-laki dikaitkan dengan hasil kesuburan dan perkembangan manusia di awal kehidupan, tetapi juga memiliki keterbatasan. Yang penting, karena ini adalah studi observasional, studi kami menunjukkan asosiasi, tetapi tidak dapat membuktikan efek kausal langsung dari konsumsi UPF pada hasil kehidupan awal ini."

Lebih lanjut dikatakan bahwa masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk mereplikasi temuan kami pada populasi yang beragam, dan untuk mempelajari mekanisme biologis potensial yang mendasari efek ini. Misalnya, apakah perbedaan ini disebabkan oleh nilai gizi UPF yang rendah atau oleh peningkatan paparan zat tambahan atau mikroplastik.

“Kami juga ingin mempelajari apakah perbedaan awal ini memiliki konsekuensi terhadap hasil kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan anak sepanjang masa kanak-kanak. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa penelitian saat ini menunjukkan bahwa kita harus berpikir lebih luas tentang kesuburan dan kehamilan dini. Selain itu, kita harus menjauh dari gagasan bahwa hanya kesehatan dan gaya hidup calon ibu yang penting untuk kehamilan dan hasil anak, dan mengakui bahwa kesehatan dan gaya hidup calon ibu dan ayah memainkan peran penting," katanya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Mulut Rahim Menonjol Keluar

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Rumah Eross & Sarah Chandra di Yogyakarta, Bergaya Vintage Estetik

Mom's Life Annisa Karnesyia

38 Nama Bayi Ini Dilarang di New Zealand, Termasuk Favorit Keluarga Kim Kardashian

Nama Bayi Annisya Asri Diarta

Manfaat Bone Broth untuk Anak, Benarkah Baik untuk Berat Badan dan Daya Tahan Tubuh?

Parenting Kinan

Potret Cantik Hesti Purwadinata dan Ayu Ting Ting Kenakan Busana ala Dracin

Mom's Life Annisa Karnesyia

5 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga dan Alokasinya di Tengah Kondisi Ekonomi saat Ini

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cerita Bayi Tabung Pertama di Amerika, Kini Dewasa dan Masih Sering Ditanya Hal Aneh

Istilah 'Furap' Viral hingga Kabar Bahagia AHY & Annisa Pohan Setelah Penantian Panjang

Potret Rumah Eross & Sarah Chandra di Yogyakarta, Bergaya Vintage Estetik

Manfaat Bone Broth untuk Anak, Benarkah Baik untuk Berat Badan dan Daya Tahan Tubuh?

38 Nama Bayi Ini Dilarang di New Zealand, Termasuk Favorit Keluarga Kim Kardashian

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK