Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Desa Ini 17 Tahun Tak Mendengar Tangis Bayi, Kini Warganya Rayakan Harapan Baru

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Senin, 30 Mar 2026 16:00 WIB

Desa tanpa tangis bayi selama 17 tahun
Desa tanpa tangis bayi selama 17 tahun/ Foto: Getty Images/Mario Arango
Daftar Isi

Bunda, terdapat kisah sebuah desa hening tanpa tangis bayi sejak belasan tahun silam. Selama 17 tahun, tak terdengar suara bayi menangis yang membuat suasana desa tersebut terasa begitu sunyi.

Warga desa pun mulai terbiasa dengan kesepian itu, tapi hati mereka selalu merindukan kehidupan baru. Kini, kabar menggembirakan datang dan membawa harapan yang lama tertunda di desa tersebut.

Kira-kira di manakah letak desa tanpa tangis bayi selama 17 tahun itu? Dan apakah alasan di baliknya? Simak kisah selengkapnya dalam artikel ini, Bun! 

Kelahiran pertama di desa tanpa tangis bayi setelah 17 tahun

Dikutip dari situs berita The Korea Times, terdapat suatu desa tanpa tangis bayi di Korea Selatan, yaitu Eunha‑myeon. Keheningan dalam desa tersebut akhirnya berhasil dipecahkan dengan tangisan bayi baru lahir pada 19 Maret 2026 lalu.

Pasangan Jeong Hae‑deok dan Sreydani menyambut kelahiran bayi laki-laki mereka yang bernama Yong-jun. Yong-jun menjadi bayi pertama yang lahir di desa tersebut setelah 17 tahun lamanya. 

Kabar ini langsung menyebar ke seluruh desa dan memicu kegembiraan. Para warga memasang spanduk di berbagai sudut desa, salah satunya bertuliskan, “Sebuah hadiah istimewa yang datang ke Eunha-myeon pada tahun 2026. Kami merayakan kelahiran bayi laki-laki Jeong Yong-jun dari Jeong Hae-deok dan Sreydani.”

Kelahiran ini menjadi momen penting yang menunjukkan bahwa kehidupan baru masih mungkin hadir di desa kecil itu. Banyak tetangga yang juga datang untuk melihat bayi dan memberikan ucapan selamat.

Sejak lama, desa tanpa tangis bayi ini hanya didiami warga lansia. Begitu terdengar suara bayi yang baru lahir, sudah seperti keajaiban bagi mereka. Kehadiran Yong-jun memberi semangat baru bagi desa ini yang hampir kehilangan harapan.

Bayi baru ini juga menarik perhatian media lokal dan pemerintah setempat, yang ikut merayakan momen langka dan bahagia tersebut. Semua pihak melihat ini sebagai tanda yang positif untuk masa depan desa tersebut.

Penurunan populasi yang membuat desa tanpa tangis bayi menjadi realita

Eunha‑myeon merupakan desa yang mengalami penurunan jumlah penduduk yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Populasi desa tersebut turun dari 2.628 jiwa pada 2015, menjadi 1.954 jiwa pada Maret 2026. Hal ini menjadikannya desa kecil kedua terkecil di Hongseong County.

Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga muda pindah, sementara warga lansia semakin dominan di desa tersebut. Akibatnya, desa tanpa tangis bayi itu hidup dalam keheningan selama hampir dua dekade.

Data menunjukkan bahwa penurunan ini terjadi secara bertahap setiap tahun. Tahun 2024 saja, jumlah penduduk turun di bawah 2.000 orang untuk pertama kalinya.

Fenomena ini mencerminkan masalah demografi yang lebih luas di Korea Selatan. Desa kecil seperti Eunha‑myeon menjadi contoh nyata bagaimana populasi menua dan angka kelahiran rendah memengaruhi komunitas di suatu daerah.

Meskipun begitu, kehadiran bayi Yong-jun di desa Eunha‑myeon memberi secercah harapan. Para warga merasa seperti ada kehidupan baru yang mulai tumbuh kembali di desa tanpa tangis bayi tersebut.

Empat siswa baru menghidupkan sekolah di desa tanpa tangis bayi

Selain kelahiran bayi baru, sekolah dasar lokal di desa tanpa tangis bayi ini juga menerima empat siswa baru di kelas satu. Penambahan ini meningkatkan jumlah total murid menjadi 17 orang untuk tahun ajaran 2026.

Sebelumnya, sekolah itu nyaris sepi karena jumlah anak yang sangat sedikit. Kehadiran murid baru memberi energi dan suasana ceria di lingkungan sekolah.

Para guru menyambut siswa baru dengan hangat dan mempersiapkan program pembelajaran secara khusus. Kehidupan sekolah yang dulu sunyi kini mulai hidup kembali seiring berjalannya waktu. 

Warga desa pun merasa lega karena generasi muda mulai kembali hadir. Sekolah di sana juga menjadi simbol harapan dan keberlanjutan bagi desa tanpa tangis bayi ini.

Momen ini juga menarik perhatian pemerintah setempat. Dukungan mereka diharapkan untuk terus membuat sekolah dan desa menjadi tempat nyaman untuk keluarga-keluarga muda.

Reaksi warga dan pemerintah terhadap harapan baru di desa tanpa tangis bayi

Warga desa Eunha‑myeon menyambut kelahiran Yong-jun dan siswa baru dengan perasaan sukacita. Banyak keluarga dan tetangga yang berkumpul untuk merayakan, mengibarkan spanduk, hingga mengabadikan momen ini.

Kepala desa Eunha-myeon, Shim Seon-ja, menyebut kejadian ini sebagai sumber kegembiraan besar bagi seluruh wilayah. Ia berjanji akan memberikan dukungan administratif penuh agar Eunha‑myeon menjadi tempat yang baik untuk membesarkan anak.

“Kami akan melakukan segala upaya dalam dukungan administratif agar Eunha-myeon dapat menjadi tempat yang baik untuk membesarkan anak dan tempat yang diinginkan semua orang untuk tinggal," kata Shim Seon-ja, dikutip dari The Korea Times

Pemerintah lokal juga ikut mengapresiasi perkembangan positif ini. Mereka berharap kelahiran dan adanya murid baru akan mendorong keluarga muda lain untuk tinggal kembali.

Kehadiran momen ini memicu optimisme bahwa desa tanpa tangis bayi bisa berubah menjadi lebih baik. Warga mulai membayangkan masa depan yang lebih hidup dan berwarna dengan perubahan tersebut. 

Semua pihak juga sepakat bahwa ini bukan sekadar kebetulan, tetapi menjadi simbol harapan dan pertumbuhan untuk para warga desa. Desa yang hampir kehilangan generasi muda itu kini sudah mulai bisa bernapas lagi.

Desa tanpa tangis bayi sebagai cerminan krisis demografi Korea Selatan

Kisah desa Eunha‑myeon menunjukkan masalah demografi nasional di Korea Selatan. Seperti yang kita ketahui bahwa Korea Selatan saat ini tengah menghadapi angka kelahiran yang rendah dan populasi menua. Hal ini tentu saja berdampak langsung pada desa-desa kecil.

Desa tanpa tangis bayi seperti Eunha‑myeon menjadi cerminan nyata dari krisis demografi ini. Kehadiran bayi dan murid baru di desa Eunha‑myeon memberikan contoh bahwa perubahan kecil tetap mungkin terjadi.

Bayi Yong-jun dan empat siswa baru menunjukkan bahwa para warga desa masih bisa hidup kembali meski tantangan besar masih ada. Kehidupan baru ini bisa memberikan semangat baru bagi warga desa untuk terus menjaga desa tetap berkelanjutan.

Bunda, itulah kisah mengharukan dari desa tanpa tangis bayi yang kini dipenuhi senyum dan harapan baru. Dengan adanya harapan baru, desa tersebut kini menjadi cerita inspiratif dan momen ini pun mengingatkan kita bahwa meski populasi sempat menurun, kehidupan dan generasi baru akan selalu punya peluang untuk lahir dan tumbuh.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda