KEHAMILAN
Hormon Kehamilan Disebut Bisa Mengurangi Kebiasaan Minum Alkohol, Ini Kata Studi Terbaru
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Selasa, 09 Jun 2026 18:20 WIBKebiasaan mengonsumsi alkohol tidak selalu mudah untuk dihentikan, terutama bila sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, selama masa kehamilan, kebiasaan ini sebenarnya dapat dikendalikan secara alami, Bunda.
Studi terbaru yang dipublikasikan di bioRxiv mengungkap bahwa hormon kehamilan yang terkait morning sickness saat hamil dapat membantu mengurangi konsumsi alkohol. Hormon yang dimaksud adalah GDF15, yang berfungsi sebagai sinyal untuk mengatur metabolisme energi, nafsu makan, dan respons tubuh terhadap stres.
"Saya rasa ini sangat menarik. Meskipun studi ini sebagian besar bergantung pada asosiasi dan tidak dapat membuktikan sebab dan akibat, namun penelitian 'mendukung' gagasan bahwa GDF15 dapat mencegah seseorang mengonsumsi zat berbahaya secara berlebihan," kata seorang ilmuwan di University of Southern California, Marlena Fejzo, dilansir laman Science.
Kadar GDF15 meningkat tajam selama awal kehamilan dan diduga berkontribusi munculnya keinginan muntah dan perasaan mual. Beberapa peneliti berpendapat bahwa GDF15 berevolusi sebagai mekanisme perlindungan.
Mual dapat membantu calon Bunda menghindari makanan tidak dikenal atau tidak sehat yang dapat membahayakan janin. Namun, GDF15 juga terdapat pada seseorang yang tidak hamil dan telah dikaitkan sebagai penekan nafsu makan.
Detail studi tentang GDF15 yang bisa menekan keinginan minum alkohol
Ahli endokrinologi di University of Copenhagen, Matthew Gillum, dan rekannya melakukan studi untuk melihat pengaruh GDF15 terhadap konsumsi alkohol. Penelitian ini dilakukan pada para pengunjung festival musik Roskilde, Bunda.
Lebih lanjut, peneliti mengukur kadar hormon dalam darah pada pria muda yang telah menghabiskan waktu seminggu dengan minum alkohol berlebihan dan mengonsumsi makanan cepat saji. Hasilnya, peneliti menemukan beberapa perubahan, termasuk peningkatan kadar hormon GDF15.
Gillum dan rekan-rekannya lalu melakukan analisis lain yang lebih kecil menggunakan data dari tiga orang yang secara sukarela menjalani pengujian sebelum dan sesudah datang di acar Oktoberfest. Setelah mengonsumsi sekitar tujuh gelas bir (masing-masing 1 liter per hari selama 3 hari), kadar GDF15 ditemukan meningkat.
Namun, hasil dari penelitian kecil tersebut tidak signifikan secara statistik, dan tidak jelas apakah perubahan tersebut disebabkan oleh minum alkohol atau perilaku tidak sehat lainnya.
Para peneliti juga menguji 12 mahasiswa kedokteran Denmark yang setuju untuk mengonsumsi alkohol setara dengan lima minuman standar dalam sekali duduk. Hasilnya, para subjek tidak menunjukkan peningkatan GDF15. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa respons terkait alkohol pada hormon mungkin terjadi setelah periode minum yang lebih lama, bukan hanya dalam jangka pendek.
Nah, untuk menyelidiki gagasan ini lebih lanjut, tim peneliti mengukur kadar GDF15 di antara orang-orang dengan ketergantungan alkohol. Dibandingkan dengan orang dewasa tanpa kondisi tersebut, para peminum berat ini memiliki kadar GDF15 rata-rata sekitar lima kali lipat.
"Secara keseluruhan, hasil penelitian ini konsisten dengan gagasan bahwa kadar GDF15 meningkat sebagai reaksi terhadap konsumsi alkohol kronis dan pada orang sehat yang membatasi konsumsi alkohol," ungkap Gillum.
Selain dengan subjek orang, tim peneliti juga menggunakan tikus untuk menguji apakah GDF15 dapat mengurangi konsumsi alkohol secara spesifik dan bukan hanya bagian dari penekan nafsu makan. Mereka menyuntikkan GDF15 ke hewan dan mengukur berapa banyak air yang mereka minum dibandingkan dengan larutan yang dicampur etanol.
Hasilnya, GDF15 memang dapat menekan nafsu makan, sehingga membuat tikus makan dan minum jauh lebih sedikit daripada kelompok kontrol. Namun, keinginan untuk minum alkohol menurun lebih banyak daripada asupan makanan.
Gillum mengatakan, para peneliti tertarik pada temuan ini karena dapat diterapkan dalam pengobatan ketergantungan alkohol. Namun untuk saat ini, peneliti berencana untuk mempelajari kadar GDF15, variasi genetik, dan perubahan pola makan (termasuk alkohol) pada kelompok ibu hamil untuk melihat apakah ada hubungan yang jelas antara jalur GDF15 dan keengganan terhadap alkohol.
"Itu akan membantu memperkuat temuan yang kami miliki dalam studi ini," katanya.
Demikian studi terbaru yang mengungkap peran hormon kehamilan dalam mengontrol kebiasaan minum alkohol. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)