HaiBunda

KEHAMILAN

Penyebab Kesuburan Perempuan Lebih Cepat Menurun Menurut Studi, Bukan Hanya soal Sel Telur

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 08 Jul 2026 14:00 WIB
Bukan Hanya Sel Telur, Studi Temukan Penyebab Lain Kesuburan Perempuan yang Cepat Menurun/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Jam biologis perempuan berperan penting dalam menentukan tingkat kesuburan, Bunda. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur perempuan akan terus menurun, sehingga memengaruhi peluang untuk hamil.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah menunjuk penurunan kualitas sel telur sebagai penyebab utama menurunnya kesuburan. Namun, penelitian baru dari UC San Francisco dan Chan Zuckerberg Biohub San Francisco menunjukkan bahwa masalahnya lebih besar daripada sekadar sel telur.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Science pada 2025, sel dan jaringan di sekitar ovarium disebut memainkan peran penting dalam memengaruhi sel telur matang dan seberapa cepat kesuburan menurun. Penelitian ini didukung oleh National Institutes of Health (NIH).


"Selama ini kita menganggap penuaan ovarium hanya sebagai masalah kualitas dan kuantitas sel telur," kata penulis senior studi dan profesor Obstetrics, Gynecology & Reproductive Sciences di UCSF, Diana Laird, PhD.

"Apa yang kami tunjukkan adalah bahwa lingkungan di sekitar sel telur, seperti sel pendukung, saraf, dan jaringan ikat, juga berubah seiring bertambahnya usia," sambungnya, dilansir laman The University of California.

Menurut peneliti, memahami perubahan-perubahan ini mungkin menjadi kunci untuk memperpanjang kesuburan dan meningkatkan kesehatan. Pasalnya, risiko banyak penyakit terkait usia meningkat setelah menopause atau pengangkatan ovarium. Nah, memperlambat penuaan ovarium dapat membantu mengurangi risiko tersebut, Bunda.

"Dengan menggabungkan pencitraan mutakhir dari laboratorium Diana Laird dengan keahlian Biohub dalam dua jenis pengurutan sel tunggal, kami mampu memahami ovarium secara detail, yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap direktur Platform Genomik di Biohub San Francisco, Norma Neff, PhD.

"Pendekatan berbasis teknologi ini memungkinkan kami untuk mengungkap jenis sel baru, memberikan dasar untuk penemuan di masa depan dalam kesehatan reproduksi."

Tahapan dalam penelitian

Dalam studi ini, Laird dan rekan-rekannya berupaya untuk membuat profil seperti apa proses penuaan normal pada ovarium tikus dan manusia. Pertama, mereka mengembangkan teknik pencitraan tiga dimensi baru yang memungkinkan untuk memvisualisasikan sel telur di ovarium tanpa harus memotong organ tersebut menjadi lapisan tipis, seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Mereka lalu mengamati penurunan drastis pada sel telur istirahat yang belum matang dan menunggu sebagai cadangan maupun pada sel telur yang sedang tumbuh dan mulai matang untuk ovulasi. Sama seperti perempuan di usia 30-an, tikus-tikus tersebut tidak mudah hamil dengan fertilisasi in vitro (IVF) atau program bayi tabung.

Ketika para ilmuwan memperluas pencitraan 3D ke ovarium manusia, mereka menemukan hal yang tak terduga, yakni sel telur tidak tersebar merata di seluruh ovarium. Sebaliknya, sel telur berkumpul dalam 'kantong' yang dikelilingi oleh zona bebas sel telur. Seiring bertambahnya usia, kepadatan sel telur di dalam kantong-kantong ini menurun.

"Hal ini mengejutkan. Kami berasumsi sel telur akan terdistribusi lebih merata berdasarkan apa yang kami lihat di ovarium yang sedang berkembang," kata Laird.

"Kantong-kantong ini menunjukkan bahwa di dalam satu ovarium, lingkungan di sekitar sel telur dapat memengaruhi berapa lama sel telur tersebut bertahan dan seberapa baik ia matang," lanjutnya.

Selanjutnya, para peneliti bekerja sama dengan kelompok Neff di Biohub mempelajari gen apa yang aktif dalam sel ovarium seiring bertambahnya usia. Jaringan ovarium dari manusia sulit didapatkan. Selain itu, sel telur berukuran besar dan sangat rapuh.

Jadi, alih-alih menggunakan perangkat miniatur standar yang memisahkan dan menandai sel untuk mengurutkan gen aktifnya, kelompok tersebut dengan susah payah mengisolasi sel telur satu per satu secara manual untuk memisahkannya dari sel lain.

Temuan sel yang memengaruhi kesuburan

Setelah mempelajari hampir 100.000 sel tikus dan manusia, mereka mengidentifikasi 11 jenis sel utama yang ditemukan di ovarium. Salah satunya adalah sel glia atau sejenis sel pendukung yang biasanya terkait dengan saraf dan paling banyak dipelajari di otak. Secara mengejutkan, sel ini ternyata ditemukan di ovarium, Bunda.

Pada saat yang sama, peneliti juga mengungkapkan bahwa saraf simpatik yang terlibat dalam respons fight or flight, membentuk jaringan padat di ovarium yang menjadi semakin padat seiring bertambahnya usia. Perlu diketahui, respons fight or flight adalah mekanisme pertahanan diri alami yang mempersiapkan tubuh untuk menghadapi bahaya langsung atau situasi mengancam.

Ketika para peneliti menghilangkan saraf-saraf itu pada tikus, hewan-hewan tersebut memiliki lebih banyak sel telur cadangan tetapi lebih sedikit yang matang. Hal ini menunjukkan bahwa saraf-saraf itu membantu menentukan kapan sel telur mulai tumbuh.

Sel pendukung lainnya yang disebut fibroblas juga berubah seiring bertambahnya usia. Perubahan dapat memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut di ovarium perempuan berusia 50-an.

"Semua ini mengarah pada jalur penyelidikan baru tentang bagaimana saraf, pembuluh darah, dan jenis sel lainnya berkomunikasi dengan sel telur. Ini memberi tahu kita bahwa penuaan ovarium bukan hanya tentang sel telur tetapi tentang seluruh ekosistemnya," ujar Laird.

Bagi para peneliti, salah satu kesimpulan terpenting dari penelitian baru ini adalah kesamaan antara ovarium manusia dan ovarium tikus.

Hingga saat ini, masih yang belum jelas apakah kita dapat menggunakan tikus sebagai model untuk manusia dalam hal ovarium. Pasalnya, kita memiliki jendela reproduksi yang cukup berbeda," kata Laird.

"Namun, kesamaan yang kami lihat dalam penelitian ini membuat kami yakin bahwa kami dapat melanjutkan penelitian pada tikus dan menerapkan pelajaran tersebut pada manusia."

Tim Laird sejauh ini sudah meluncurkan studi yang menyelidiki apakah beberapa obat dapat mengubah waktu atau kecepatan penuaan ovarium. Pada akhirnya, mereka berharap dapat menemukan cara untuk memperlambat atau menunda penuaan ovarium, yang memengaruhi kesuburan dan penyakit lain, seperti penyakit kardiovaskular, yang umum terjadi pada perempuan setelah menopause.

"Sumber awet muda mungkin sebenarnya adalah ovarium. Menunda penuaan ovarium dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan seiring bertambahnya usia," kata peneliti pascadoktoral di UCSF yang juga salah satu penulis utama studi, Eliza Gaylord, PhD.

Demikian studi terbaru yang mengungkap penyebab kesuburan perempuan menurun begitu cepat seiring bertambahnya usia.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Jumlah Sel Telur Wanita Sejak Lahir, Usia 20-an sampai Masa Menopause

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Viral Tren Olahraga 'Slow Jogging' di Korsel, Lari Lambat yang Bisa Bakar Lemak

Mom's Life Tim HaiBunda

Perkembangan Anak Usia 4 Tahun Secara Sosial dan Emosional

Parenting Kinan

Penyebab Kesuburan Perempuan Lebih Cepat Menurun Menurut Studi, Bukan Hanya soal Sel Telur

Kehamilan Annisa Karnesyia

10 Susunan Upacara Pembukaan & Penutupan MPLS SD-SMP Tahun Ajaran 2026/2027

Parenting Kinan

Potret Seru Anggun Habiskan Waktu Bersama Kirana, Si Anak Tunggal yang Sudah Gadis

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Jangan Salah Paham! Ini Ciri Orang dengan IQ Tinggi yang Sering Dianggap sebagai Kekurangan

Perkembangan Anak Usia 4 Tahun Secara Sosial dan Emosional

Viral Tren Olahraga 'Slow Jogging' di Korsel, Lari Lambat yang Bisa Bakar Lemak

Istana Buckingham Tegaskan Pangeran Harry Tak Akan Menginap di Istana saat Kunjungan ke Inggris

Penyebab Kesuburan Perempuan Lebih Cepat Menurun Menurut Studi, Bukan Hanya soal Sel Telur

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK